“Tanggul Citarum Jebol Lagi”, PMII Minta Presiden Jokowi Turun Tangan & Evaluasi Total Kerja Bawahannya, Termasuk Gubernur Jabar & Bupati Bekasi

0
66
BEKASI,MediaGaruda.Co.Id – Jebolnya tanggul Sungai (Kali) Citarum sebagai salah satu sungai yang mengalir di wilayah Provinsi Jawa Barat pada pekan ini, ternyata bukanlah yang pertama dalam 15 tahun terakhir.
Pada Tahun 2007 lalu, tepatnya tanggal 5 Februari 20017 ternyata, juga pernah terjadi jebolnya tanggul Citarum, tepatnya  di Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang yang mengakibatkan beberapa desa terendam hingga 2 meter saat ini.
“Artinya, persoalan pengelolaan Sungai Citarum Jawa Barat ini, perlu dilakukan evaluasi secara total, oleh Presiden Jokowi bersama seluruh Menteri, Gubernur dan Para Bupati, Walikota yang selama ini dialiri oleh sungai Citarum,”kata Harun Al Rasyid, Ketua Cabang PMII Kabupaten Bekasi, dalam keterangan tertulis kepada MediaGaruda.Co.Id, Kamis (25/2/2021) pagi ini.
Harun memberikan alasan karena, dipastikan anggaran untuk merawatnya Sungai Citarum ini membutuhkan anggaran APBN dan APBD Provinsi dan Kabupaten, Kota yang sangat besar,
“Presiden Jokowi perlu melakukan pengawasan langsung,”harap Harun.
Sebagaimana diketahui, pada Rabu tanggal 24 Februari 2021 kemarin sore, Presiden Joko Widodo didampingi beberapa pejabat tinggi, serta pejabat Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Bekasi meninjau ke lokasi jebolnya tanggul Sungai Citarum yang berada di Kabupaten Bekasi.
Pengurus Cabang PMII Kabupaten Bekasi berharap, agar fenomena jebolnya tanggul Sungai Citarum di kabupaten Bekasi ini, menjadi perhatian serius.Pemerintah Pusat, Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten/Kota yang selama ini dialiri sungai Citarum Jawa Barat.
“Perlu evaluasi total, dan Presiden Jokowi harus turun tangan dan memimpin langsung. Agar kedepannya musibah, jebolnya  sungai terpanjang di Jawa Barat ini tidak terdengar lagi. Karena jebolnya tanggul Sungai Citarum, tentunya berdampak pada keselamatan jiwa manusia yang tinggal didekatnya.Dan kerugian ekonomi-pun juga sangat dirasakan rakyat yang tinggal di sekitar jebolnya tanggul Sungai Citarum karena nilai kerugiannya sangat besar,”ungkap Harun.
Harun membeberkan pada tahun 2007 lalu tepatnya tanggal 5 Februari 2007 juga pernah terjadi jebol tanggul Citarum  di Kecamatan Rengasdengklok Kabupaten Karawang, yang saat itu mengakibatkan beberapa desa terendam hingga 2 meter, mestinya menjadi evaluasi.
“Ditahun 2021 saat ini terjadi lagi jebol tanggul Citarum lagi, pada tanggal 20 Februari 2021 tepatnya pukul 23.30wib,
“mestinya hal ini tidak boleh terjadi, karena itu perlu menjadi evaluasi sejak tahun 2007 silam. Waktu 13 tahun bukan waktu sebentar untuk memikirkan dan mengkonsep sebuah ide dan gagasan sehingga dapat meminimalisasi terjadinya jebolnya tanggul Citarum,” ujar Harun.
Di tengah zaman teknologi sekarang yang semakin pesat dan massif, tidak menutup kemungkinan untuk menanggulangi terjadinya jebol tanggul atau penanggulangan banjir dengan alat yang semakin canggih seperti Dinding Anti Banjir di Austria, Tubewall di Swedia, Greatwall of Lousiana di Amerika Serikat dan lainnya.
“Jika di Indonesia khususnya di Kabupaten Bekasi ini, saya lihat bersifat statusquo, apa itu..diduga ada upaya pembiaran atau apa? Jadi sebuah pertanyaan besar Pengurus PMII, janganlah sampai kebencanaan ini menjadi keuntungan bagi oknum-oknum tertentu didalam pemerintah sendiri, jangan ada perilaku aji mumpung dalam meraup untung proyek yang berkelanjutan,”ungkapnya dengan nada serius.
Mestinya, kata Harun, yang selama ini juga ikut dalam evakuasi warga saat kejadian jebolnya tanggul Citarum di Desa Sumber Urip ini,
“Pemerintah lebih memikirkan, meriset dan mengkaji secara ilmiah berbasis teknologi juga memaksimalkan anggaran daerah atau negara untuk alokasinya diprioritaskan pada hal bersifat preventif, agar ke depan tidak terjadi lagi hal yang sama.
“Bahwa Sungai Citarum ini sudah sejak ada Abad 5 Masehi pada kerajaan tertua di Nusantara yaitu Kerajaan Tarumanegara mestinya Sungai Citarum  menjadi prasasti dan aset negara karena sangat serat akan sejarah dan juga sebagai sumber kehidupan masyarakat yang didekatnya bukan menjadi momok yang menakutkan karena banyak pencemaran dan jebolnya tanggul dimana-mana karena melintasi banyak daerah, ini sudah terjadi pergeseran nilai jika dilihat dari Sejarah dan Kegunaannya,” lanjutnya.
Terakhir dia, berharap kepada internal PMII khususnya, agar Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) menjadikan isue jebolnya tanggul Sungai Citarum ini, sebagai Issue Strategis Nasional pada Kongres Nasional PMII yang digelar dalam waktu dekat di Jakarta.
“Kongres Nasional PMII dalam waktu dekat di Jakarta, saya harapkan menjadi sebuah momentum untuk konsolidasi issue ide dan gagasan. Konggres PMII nanti jangan hanya dijadikan sebagai ajang kontestasi saja, tetapi didalamnya harus bisa melahirkan sebuah ide cemerlang jangka panjang,”harap Harun.
(MG-025/Red).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here