Ken Setiawan: Mahasiswi di Bogor Terusir Dari Keluarga Karena Menolak Berjuang di Negara Islam

0
96

JAKARTA, MediaGaruda.Co.Id – Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center Ken Setiawan mengaku akhir akhir ini banyak mendapat laporan dari masyarakat terkait gerakan radikalisme yang mengatasnamakan agama.

Beragam segmentasi laporan yang masuk ke NII Crisis Center, mulai kalangan pelajar, mahasiswa, dosen, kalangan buruh, tidak sedikit juga laporan dari oknum ASN dan aparatur negara yg terindikasi terpapar.

Menurut Ken, perekrutan radikalisme bisa menimpa siapa saja, tak peduli usia dan latar belakang sosial, karena biasanya mereka menggunakan sugesti agama dan ayat ayat kitab suci.

Sebenarnya banyak yang sudah bergabung lalu melihat ada yang salah lalu keluar, namun banyak juga yang terpaksa terus mengikuti karena takut ancaman, sebab yang keluar dari jaringan itu diancam halal darahnya dan akan dibunuh.

Ken bercerita, ada salah satu korban yang mencoba keluar adalah Bunga (nama samaran)

Kisah perjalanannya mengenal Negara Islam telah dimulai sejak kelas 1 SMP

Semuanya bermula ketika orang tuanya meninggal dunia saat itu duduk di bangku kelas 6 SD. Bunga menceritakan awal mula ajaran radikalisme bisa masuk di lingkungan keluarganya.

Dulu ayah bunga pernah berpesan untuk tidak mengikuti pengajian yang dilakukan oleh tantenya.

Namun, saat itu bunga belum mengerti apa maksud ayahnya tersebut.

Ternyata tantenya mengikuti pengajian sudah sangat lama dan awalnya terlihat biasa saja, tapi lama kelamaan semakin mencurigakan karena teman pengajiannya selalu datang dan ngobrol dikamar dengan kamar yang terkunci dan tidak boleh diganggu.

Kemudian sejak saat itu juga tante jadi sering pergi dan menginap tanpa alasan yang jelas.

Ayah akhirnya melarang tante saya untuk melanjutkan pengajian itu, tapi tidak berhenti disitu tantenya pun tetap melanjutkan namun secara diam-diam, temannya tidak pernah datang lagi tapi justru dia yang jadi sering keluar rumah bahkan sampai larut malam.

Lebih dari itu, keluarga bunga mulai dikucilkan dan ayahnya mendapat laporan dari tetangga bahwa tantenya mengikuti pengajian dengan ajaran yang sesat karena mereka semua telah diajak oleh tantenya namun mereka menolak karena merasa apa yang dikatakan sangat bertentangan dengan keadaan saat ini.

Lama setelah tantenya bergabung dengan pengajian tersebut ia berubah menjadi pribadi yang dingin, keras kepala, dan jauh dari keluarga.

Tantenya tidak pernah mau bergabung lagi bila ada acara kumpul keluarga dan sekalinya ikut bergabung dia akan selalu mematahkan pembicaraan orang lain dan merasa pendapat dia yang paling benar, bahkan tidak jarang kata-kata dia membuat perselisihan.

Tahun 2011 orang tua bunga meninggal, dan sejak saat itu tantenya makin berani untuk menunjukkan pengajiannya, bahkan sering pengajian dilakukan dirumahnya.

Hal itu juga yang membuat tanda tanya semakin besar, mereka berkumpul dari sumber yang tidak jelas berasal darimana, diskusi dengan suara yang sangat pelan, lebih banyak berdiskusi mengenai sesuatu yang berasal dari sumber dibandingkan mengkaji Al-Quran secara langsung, dan yang paling membuat bunga curiga yaitu mereka menyebut itu sedang mengaji namun mereka dengan mudahnya meninggalkan sholat 5 waktu.

Saat itu Bunga belum tau banyak karena masih kecil dan menganggap itu hal yang biasa saja, namun semuanya berubah saat naik ke kelas 1 SMP, saat Bunga kelas 1 SMP tantenya mulai gencar mengajak pergi kesana kemari, awalnya dia selalu mengajak jalan-jalan, pergi makan di tempat-tempat bagus, dan akhirnya mengajak ikut ke tempat ngajinya ke kerumah teman tantenya, dia bilang hanya menemani dia ke rumah temannya.

Tapi sesampainya disana malah Bunga yang di serbu pertanyaan-pertanyaan, ditanya hobi, minat saya dan lain-lain.

Akhirnya pertemuan semakin intens, setiap akhir minggu Bunga diajak jalan-jalan yang akhirnya ikut ke rumah temannya. Pada saat itu Bunga tidak bilang pada keluarga yang lain karena memang lebih dekat dengan tantenya dan merasa semua yang saya lakukan masih wajar.

Sampai akhirnya bunga sudah diagendakan memiliki pertemuan sendiri yang tidak lagi didampingi oleh tantenya, tante hanya mengantar dan kemudian pergi.

Disana Bunga ditanya mengenai latar belakang, minat, dan ditanya mengenai obrolan-obrolan yang pernah didiskusikan sebelumnya bersama teman tantenya itu.

Opini bunga digiring yang pada intinya harus terarah ke obrolan yang telah di persiapkan, sampai pada akhirnya di agendakan untuk bertemu dengan seseorang yang Bunga sendiri pada saat itu belum mengerti maksud dan tujuannya.

Pada hari yang telah ditentukan pun tiba, saat itu ada seorang pasangan suami istri teman dari tante yang sering datang kerumah dan sering mengajak diskusi, kemudian suami nya mengajak saya ke satu ruangan, dengan suara yang sangat pelan-pelan dia membimbing Bunga untuk bersyahadat ulang.

Disitu Bunga tidak berfikir macam-macam karena merasa belum ada yang aneh, yang berubah hanya setiap sebulan sekali diajak untuk mengaji ke suatu tempat, baik dalam kota bogor maupun ke luar bogor.

Namun Bunga hanya menganggapnya hanya menghadiri layaknya sebuah kajian walaupun mereka punya program-program setiap tahunnya, seperti penjualan kalender, penjualan hewan korban dan mereka memiliki depot hewan kurban yang sangat besar dan terbagi di berbagai wilayah, biasanya sebelum idul adha para member senior dimintai infaq “seikhlasnya” yang selalu diiming-imingi berlomba-lomba dalam kebaikan untuk iuran hewan qurban tersebut.

Tidak jarang mereka iuran jutaan hingga puluhan juta satu orangnya dengan rincian dana yang tidak jelas.

Selain itu dalam bulan ramadhan mereka melakukan kegiatan pesantren kilat untuk mencari simpati masyarakat umum dengan pemateri dari mereka sendiri.

Saat Bunga memasuki SMA, kegiatannya semakin sering dan beragam, susunannya pun sering berubah, mereka selalu menyebut sistem dan program sebuah pemerintahan Islam.

Saat Bunga SMA, bentuk pengajiannya berubah yang dilakukan yaitu setiap orang memiliki tim nya masing-masing dan dibentuk menjadi kader dakwah, dalam pertemuan akan dipimpin oleh seorang leader yang memiliki pemahaman lebih dan usianya tidak beda jauh dari Bunga saat itu.

Kegiatannya pun jadi lebih macam-macam. Mereka membagi materi mereka menjadi berbagai sub bab, ada marifatul insan, marifatul rosul, marifatullah, sejarah perjuangan islam, sejarah nabi muhammad, dll. Kami seolah dipersiapkan dengan matang dengan materi-materi tersebut, ditanamkan pula bahwa pemerintahan yang dzalim merupakan musuh besar.

Dan puncaknya ketika Bunga mulai kuliah, sejak lulus SMA semua urusan saya harus dikonsultasikan oleh tantenya ke pimpinannya saat itu yang Bunga sendiri tidak tahu. Dimana kuliah, jurusan apa yang harus di ambil semuanya telah diatur.

Akhirnya Bunga kuliah di fakultas keguruan dengan tujuan kelak saat Bunga menjadi guru maka dapat merekrut siswa yang dididik. Saat itu hanya bisa nurut karena semua biaya saya ditanggung oleh tantenya.

Program dalam pengajian tersebut pun semakin beragam, mulai dari pendidikan latihan militer seperti diksar ke gunung-gunung selama satu bulan, kegiatan literasi bedah buku, dan sebagainya. Yang paling di ingat yaitu kegiatan diksar yang wajiib diikuti, kegiatan tersebut berdalih sebagai pecinta alam.

Kegiatan latihan militer berlangsung selama satu bulan full, disana kami di didik layaknya seperti seorang prajurit, di latih secara fisik dan pertahanan, dan diselipkan materi-materi perang juga.

Pada akhir kegiatan dimalam terakhir pimpinan saat itu datang dan memberikan materi terakhir. Yang masih tidak saya mengerti mereka menyebut susunan pemerintahan seperti punya struktur negara tersendiri.

Berbeda lagi dengan anak-anak muda yang tersaring dan dianggap berpotensi akan dimasukkan ke sebuah grup perekrutan yang tugasnya untuk merekrut orang lain yang ditargetkan.

Konsep mereka seperti multilevel marketing, dan orang yang sudah direkrut juga wajib merekrut aggota baru.

Dan orang-orang tersebut disebut dengan sales anggaran, orang yang diajak disebut dengan konsumen. Mereka terus beranak pinak semakin besar, mereka masuk dari kegiatan ekstrakulikuler sekolah-sekolah, bahkan sampai pendidikan usia dini dan mereka membuat kegiatan panahan, hiking, membangun caffe, dan memiliki sekolah sendiri yang berlatar agama.

Bunga sudah menjalani itu semua, karena tidak ada pilihan. Walaupun menjalankan itu semua tapi Bunga selalu menanamkan dalam diri dan berdoa agar keimanan tetap lurus hanya kepada Allah, Bunga dikenal sebagai pribadi yang keras dan beberapa kali membangkang dari pengajian, di situ terlihat sifat-sifat asli orang pengajian itu.

Leader Bunga bahkan tidak segan mencaci maki karena tidak mau menuruti perintahnya, mengatakan saya seperti binatang ternak, keledai bodoh dan tidak berhenti dari situ mereka akan mengadukan bunga ke pada tante dengan sangat melebih-lebihkan yang akhirnya tante marah besar.

Sudah dua kali Bunga pergi dari rumah setiap bertengkar karena pengajian ini, karena setiap bertengkar tantenya tidak segan untuk main tangan, baik menampar atau melemparkan batu besar sampai terluka.

Kali ini untuk ketiga kalinya Bunga bulatkan tekad untuk Hijrah seutuhnya dari rumah itu, pergi dari genggaman tantenya.

Hal ini tentu tidak mudah, tidak sedikit cacian yang keluar darinya baik secara online maupun offline, bahkan tantenya meminta untuk Bunga agar membayar semua biaya yang telah dia berikan dari SMP sampai kuliah, karena baginya jika Bunga keluar dari Negara Islam, bunga dianggap murtad, dan apa yang telah dia berikan tidak ada nilai ibadahnya.

Sampai saat ini Bunga bertahan tidak akan kembali pada tantenya, walaupun sesusah apapun keadaannya Bunga percaya Allah akan membukakan jalan dan memudahkan segala urusannya.

Kini Bunga sangat lega dan bersyukur bisa lepas dan tidak termakan oleh ajaran yang sudah mengikatnya selama bertahun tahun walaupun kini tinggal numpang di kost teman sambil melanjutkan kuliah yang sudah hampir selesai.

NII Crisis Center menerima laporan pengaduan dan membantu masyarakat terkait masalah bahaya radikalisme di whatsapp 08985151228,” Tutup Ken. (Red)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here