PENGARUH PANDEMI COVID-19 TERHADAP EKONOMI DAN GLOBALISASI NEGARA-NEGARA BERKEMBANG

0
31

Penulis : Bambang Subeno,

(Mahasiswa Program Magister Sekolah Kajian Strategik dan Global, Universitas Indonesia) 

Covid – 19, atau virus corona adalah sebuah
pandemi yang di waktu sekarang mampu
merubah tatanan kehidupan dunia pada titik
keterpurukan, sampai saat ini. penemuan
vaksin, juga masih belum ditemukan, saya
ibaratkan Covid -19 bagaikan perang dunia ke
4, sebab, semua negara terkena dampaknya,
semua negara berlomba lomba untuk
menemukan vasin dan berperang untuk
menghentikan persebaran virus ini. Berbicara
Covid-19, maka, tak luput dari pengaruh
globalisasi. sebab, Globalisasi justru sangat
mempengaruhi meningkatnya persebaran virus
corona di berbagai macam belahan dunia.
karena, bisa berdampak besar dan globalisasi
sendiri juga punya artian, yaitu Suatu proses
yang mendunia, suatu proses yang membuat
manusia saling terbuka dan bergantung satu
sama lainnya tanpa batas waktu dan jarak.

Di era globalisasi saat ini yang didukung
perkembangan teknologi ilmu pengetahuan
yang super power di dunia global. Dan alat
transportasi seseorang di suatu wilayah dapat
mengetahui segala jenis informasi yang tersebar di dunia luar dengan cepat dan mudah.
Dengan adanya proses tersebut, dunia global
saling ketergantungan saling berhubungan satu
sama yang lainnya. Baik di sektor ekonomi
ekspor impor sebagai jalur perdaganngan, dari
sektor wisata dengan banyaknya keluar masuk
akses wisatawan manca negara, dari berbagai
belahan dunia. Dengan hal ini menujukan
bahwa di tengah wabah virus corona dunia
dihancurkan oleh virus ini menghancurkan
kapitalisme dunia menghancurkan perdangangan dunia industri wisata. Dengan
ini corona dapat menyebar ke segala penjuru
dunia dengan adanya sistem globalisasi ini,
Corona dengan cepat menyebar ke negara –
negara lain karena negara global memiliki
sistem yang membuat dunia saling terbuka dan
bergantungan dengan negara lainnya dengan
berbagai akses masuk dan keluar antar negara
yang bebas atas dasar saling bekerjasama sama membuat dunia menjadi korban keganasan virus corona dan berdampak panjang bagi perekonomian dunia. Nilai mata uang dunia hancur melemah, pendapatan perkapita disegala bidang merosot drastis. Dunia seolah-olah tenggelam. Dunia seolah olah mati tak berdaya.

 

Pandemi Covid-19 dan Globalisasi Ekonomi

Di tengah kekalutan dunia menghadapi pandemi covid-19, media internasional mewartakan perebutan alat kesehatan (alkes) antarnegara. Diberitakan, alkes yang sudah siap kirim dari Tiongkok ke Jerman dan Prancis dialihkan ke AS hanya karena AS berani membayar 3-4 kali lipat dari harga normal. Tidak hanya ‘pembajakan’ pada saat pengiriman, beberapa negara juga melarang produksi alkes mereka diekspor ke negara lain. Di awal krisis, Tiongkok, yang selama ini dikenal sebagai produsen masker setengah kebutuhan dunia, juga melarang ekspor alkes mereka dan membeli semua produk masker mereka hanya untuk kebutuhan dalam negeri.

Anggota Uni Eropa pun begitu, melarang ekspor alkes mereka ke negara lain, sekalipun ke negara sesama anggota Uni Eropa. Nyata sekali, hampir semua negara ambil jurus ‘selamatkan diri sendiri’. Pandemi covid-19 terjadi ketika dunia sudah sedemikian eratnya terhubung satu sama lain dalam jaringan interaksi politik, ekonomi, dan sosial budaya, dalam satu proses yang disebut globalisasi. Memasuki bulan keempat sejak merebaknya korona, dunia dihadapkan pada dua fenomena menarik dalam kaitannya dengan pandemi dan globalisasi : mudahnya virus korona menyebar dalam skala dunia dan terjadinya disrupsi dalam rantai pasok global. Berkat globalisasi, perpindahan barang dan jasa yang disertai pergerakan manusia berlangsung dengan cepat dan masif. Namun, justru di dalam keterhubungan akibat
globalisasi itulah virus korona mudah menyebar hanya dalam hitungan hari, antar negara lintas benua.

Tatkala rantai pasok global mengalami disrupsi karena negara menahan ekspor produk alkes guna memenuhi kebutuhan dalam negeri
globalisasi dituding sebagai biang keladinya. Mengapa globalisasi seolah menjadi tertuduh di tengah kisruh pandemi ini? Disodorkan argumentasi : globalisasilah yang menarik negara ke dalam saling keterkaitan satu rantai pasok logistik internasional sehingga satu saja mata rantai pasok terdistorsi, dampaknya menjalar ke mata rantai lain yang tersebar di berbagai negara. Tuduhan terhadap globalisasi tidak sebatas sebagai penyebab disrupsi perdagangan dunia.

Lebih serius lagi, globalisasi di masa pandemi ini bahkan dituding mengubah tatanan perdagangan dunia yang berdasar aturan hukum. Fenomena di atas membuhulkan pertanyaan: apakah kebijakan perdagangan yang mementingkan diri sendiri itu pertanda matinya globalisasi? Atau, apakah sikap politik perdagangan seperti itu akan membalikkan globalisasi menjadi tatanan ekonomi perdagangan yang nasionalistis dan
proteksionis? Tak ada penjelasan tunggal
untuk globalisasi. Namun, dari spektrum
pengertian globalisasi yang ditawarkan
akademisi, globalisasi dapat dipahami dari dua
konsep: sebagai ‘proses’ dan sebagai ‘tatanan’.
Pertama, sebagai proses, globalisasi adalah
perubahan cara negara berinteraksi dalam
segala aspek kehidupan yang dimungkinkan
kemajuan teknologi. Pergerakan barang, jasa,
dan manusia semakin cepat dengan teknologi
transportasi.

Kini pergerakan itu makin cepat dan masif dengan semakin berkembangnya teknologi digital di bidang komunikasi dan informasi. Dari segi volume, perdagangan global semakin meningkat seiring dengan perubahan di arena politik internasional. Berakhirnya Perang Dingin di awal 1990-an menyeret negara bekas sosialis-komunis (Uni Soviet dan Eropa Timur) masuk ke sistem perdagangan global. Tatkala Tiongkok resmi menjadi anggota WTO pada 2001, putaran proses globalisasi, baik dalam kecepatan maupun volume, bergerak makin kencang. Justru pada saat perdagangan dunia sudah sedemikian dalamnya bergantung pada satu sama lain dalam satu rantai pasok global,
pandemi meledak. Akibatnya : negara lebih
proteksionis dan nasionalistis sehingga menciptakan disrupsi dalam rantai pasok global.

Efek globalisasi melalui konektivitas dan pergerakan manusia yang semakin terbuka
antarnegara ternyata juga memberikan dampak
negatif. Virus covid-19 yang pertama kali muncul di Wuhan ternyata dengan kurun
waktu yang sangat cepat telah menjadi wabah
yang menakutkan di seantero penjuru dunia.
Banyak negara yang terpaksa harus menutup
perbatasan negara mereka untuk mengurangi
dampak penyebaran yang lebih besar. Sampai
sekarang pun masih banyak negara yang membatasi kedatangan orang asing ke negara
mereka guna mencegah penularan yang lebih
besar. Akibatnya, pergerakan manusia antar negara menjadi tidak sebebas dulu lagi setidak-tidaknya sampai pandemi berakhir. AS di bawah kepemimpinan Trump mencoba membangun kembali kejayaan ekonomi negara adidaya itu melalui kebijakan proteksi yang sangat berlawanan sekali dengan semangat perdagangan bebas. Apabila nanti Donald Trump terpilih lagi dalam pemilihan presiden di November 2020, dipastikan prospek globalisasi perdagangan dunia akan kembali mengalami masa-masa yang suram.

 

Implikasi Globalisasi Ekonomi

Menurut teori perdagangan internasional, perdagangan antar Negara yang tanpa hambatan berpeluang memberi manfaat bagi masing-masing Negara melalui spesialisasi produksi komoditas yang diunggulkan oleh masing-masing Negara itu. Namun dalam kenyataannya tidaklah serta merta teori itu menciptakan kemakmuran bagi Negara-negara yang terlibat. Dampak dari globalisasi ekonomi terhadap perekonomian suatu negara bisa positif atau negatif, tergantung pada kesiapan negara tersebut dalam menghadapi peluang-peluang maupun tantangan- tantangan yang muncul dari proses tersebut. Secara umum, ada empat (4) wilayah yang pasti akan terpengaruh, yakni : Ekspor. Dampak positifnya adalah ekspor atau pangsa pasar dunia dari suatu negara meningkat; sedangkan efek negatifnya adalah kebalikannya : suatu negara kehilangan pangsa pasar dunianya yang selanjutnya transportasi.

Kini pergerakan itu makin cepat dan masif dengan semakin berkembangnya teknologi digital di bidang komunikasi dan informasi. Dari segi volume, perdagangan global semakin meningkat seiring dengan perubahan di arena politik internasional. Berakhirnya Perang Dingin di awal 1990-an menyeret negara bekas sosialis-komunis (Uni Soviet dan Eropa Timur) masuk ke sistem perdagangan global. Tatkala Tiongkok resmi menjadi anggota WTO pada 2001, putaran proses globalisasi, baik dalam kecepatan maupun volume, bergerak makin kencang. Justru pada saat perdagangan dunia sudah sedemikian dalamnya bergantung pada satu sama lain dalam satu rantai pasok global,
pandemi meledak. Akibatnya : negara lebih
proteksionis dan nasionalistis sehingga berdampak negatif terhadap volume produksid alam negeri dan pertumbuhan PDB serta meningkatkan jumlah pengangguran dan tingkat kemiskinan. Dalam beberapa tahun belakangan ini ada kecenderungan bahwa peringkat Indonesia di pasar dunia untuk sejumlah produk tertentu yang selama ini diunggulkan Indonesia, baik barang-barang manufaktur seperti tekstil, pakaian jadi dan sepatu, maupun pertanian (termasuk perkebunan) seperti kopi, cokelat dan biji￾bijian, terus menurun relatif dibandingkan misalnya Cina dan Vietnam. Ini tentu suatu pertanda buruk yang perlu segera ditanggapi serius oleh dunia usaha dan pemerintah Indonesia. Jika tidak, bukan suatu yang mustahil bahwa pada suatu saat di masa depan Indonesia akan tersepak dari pasar dunia untuk produk- produk tersebut.

Dampak negatifnya adalah membanjirnya tenaga ahli dari luar, dan kalau kualitas SDM dalam negeri tidak segera ditingkatkan untuk dapat menyaingi kualitas SDM dari negara-negara lain, tidak mustahil pada suatu ketika pasar tenaga kerja atau peluang kesempatan kerja di dalam negerisepenuhnya dikuasai oleh orang asing. Sementara itu, tenaga kerja Indonesia (TKI) semakin kalah bersaing dengan tenaga kerja dari negara-negara lain di luar negeri. Jugatidak mustahil pada suatu ketika TKI tidak lagiditerima di Malaysia, Singapura atau Taiwan dan digantikan oleh tenaga kerja dari negara-negara lain seperti Filipina, India dan Vietnam yang memiliki keahlian lebih tinggi dan tingkat kedisiplinan serta etos kerja yang lebih baik dibandingkan TKI.

 

KESIMPULAN

Globalisasi ekonomi merupakan suatu proses aktivitas ekonomi dan perdagangan, dimana berbagai negara di seluruh dunia menjadi kekuatan pasar yang satu dan semakin terintegrasi tanpa hambatan atau batasan
teritorial negara. Globalisasi perekonomian ini
berarti adanya keharusan penghapusan seluruh
batasan dan hambatan terhadap arus barang,
jasa serta modal.

Bagi negara-negara berkembang yang belum siap menghadapi globalisasi bisa menghambat pertumbuhan di sektor industri.Globalisasi ekonomi menyebabkan negara-negara berkembang tidak bisa lagi memakai tarif tinggi untuk memproteksi industri yang baru berkembang (infant industry). Sehingga, perdagangan luar negeri yang cukup bebas menimbulkan hambatan bagi negara berkembang dalam memajukan sektor
industry. Selain itu, semakin meningkatnya
ketergantungan pada industri-industri yang
dimiliki perusahaan multinasional.

Globalisasi membuka kerja sama internasional untuk mengatasi pandemi covid-19 beserta dampaknya yang tidak mungkin bisa diatasi sepenuhnya apabila tiap-tiap negara berjalan sendiri-sendiri. Namun, aspek ketahanan nasional juga harus diperkuat dalam segala bidang untuk mencegah dan menangkal
dampak negatif dari globalisasi itu sendiri.
Selain itu globalisasi juga dapat memperburuk
neraca pembayaran. Globalisasi ekonomi
cenderung menaikkan barang-barang impor.
Sebaliknya, jika suatu negara tidak mampu
bersaing, maka ekspor tidak akan berkembang. Kondisi ini dapat saja memperburuk neraca pembayaran. Efek buruk lain terhadap neraca pembayaran yakni pembayaran neto pendapatan untuk faktor produksi dari luar negeri cenderung mengakibatkan defisit. Bertambah banyaknya investasi asing menyebabkan arus pembayaran keuntungan (pendapatan) dari investasi keluar negeri akan makin meningkat.

Negara-negara maju yang sekarang mengusung liberalisasi ekonomi sebenarnyapada awalnya juga lebih memilih memakai ekonomi merkantilis dan proteksionis dari pada pasar bebas. Untuk itu NSB yang masih dalam tahap- tahap awal perkembangan dan pertumbuhan seharusnya tidak secara total menerapkan pasar bebas. Masih perlu menerapkan ekonomi yang proteksionis dan kerakyatan. Jika globalisasi ekonomi harus dilakukan, maka harus dilandasi dengan keadilan dan kesetaraan dalam interaksi antar manusia. Selain keadilan, yang perlu diterapkan dalam globalisasi ekonomi adalah pendekatan multidisiplin. Hal ini karena kehidupan manusia tidak hanya terdiri dari satu komponen yang terpisah dengan lainnya, melainkan seluruh aspek kehidupan manusia, moral, spiritual, intelektual, sosial, sejarah, demografis, dan politik tersambung erat satu sama lainnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Arif, Sritua. 1998. Teori dan Kebijaksanaan
Pembangunan, CIDES .

Arsyad, Lincolin. 1999. Ekonomi Pembangunan, Yogyakarta: STIE YKPN.

Chapra, M. Umer. 1992. Islam and The
Economic Challenge , Leicester, UK.:, The
Islamic Foundation.

Clements, Kevin P . 1999. Teori
Pembangunan dari Kiri ke Kanan, terj.
Endi Haryono, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Friedman, M. 1970. Foreign Economic Aid :
Means and Objective, dalam T Baghwati
dan R. Eckans (Ed), Foreign Aid, London:
Penguin.

George, Susan. 2000. ³A Short History RI
1HROLEHUDOLVP´ dalam Walden Bello, Nicola
Bullard, Kamal Malhotra (ed.), Global
Finance: New Thinking on Regulating
Speculative Capital Markets, Zed Books.

Nayyar, D. 1997. Globalization: The Past in
Our Future, Penang, Malaysia, Third World
Network.

Qutb, Sayyid. 1994. Keadilan Sosial dalam
Islam, alih bahasa Afif Muhamad, Bandung:
Pustaka.

Sugiono, Muhadi. 1999. Kritik Antonio
Gramsci Terhadap Pembangunan Dunia
Ketiga, terj. Cholish, Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.

T. Gilarso. 1992. Pengantar Ilmu
Ekonomi, Bagian Makro, Yogyakarta :
Kanisius.

Todaro, MP. 1977. Economic for Developing
World, London : Longman. []

(Red)  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here