PUSKAPPI : Mungkinkah Motif Pilpres 2024 dibalik Mutasi Massal di Tubuh Polri? 

0
68
JAKARTA, MediaGaruda.Co.Id – Maizal Alfian, ST, M.Si, Direktur Eksekutif dalam Press Rilis Pusat Kajian Kebijakan Publik Pemerintah Indonesia (PUSKAPPI) pada Minggu 22 November 2020 malam ini, menyatakan bahwa pasca kerumunan massa saat acara yang digelar Habib Rizieq Shihab (HRS) di Petamburan, Jakarta Pusat dan Megamendung, Bogor berimbas dengan mutasi besar-besaran di tubuh Polri.
Kapolri Jenderal Idham Azis mencopot Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal (Irjen) Nana Sudjana dan Kapolda Jawa Barat Irjen Rudy Sufahriadi diduga dikarenakan tidak melaksanakan perintah dalam menegakkan protokol kesehatan, maka diberikan sanksi berupa pencopotan.
Jabatan Kapolda Metro Jaya kemudian dipercayakan pada Irjen Fadil Imran yang sebelumnya menjabat Kapolda Jatim. Sedangkan Kapolda Jawa Barat diserahkan kepada Irjen Ahmad Dofiri.
Hal itu tercantum dalam Surat Telegram (ST) bernomor ST/3236/XI/KEP/2020 tanggal 16 November 2020.
Irjen Nana Sudjana, lahir di Cirebon, Jawa Barat pada 26 Maret 1965 (umur 55 tahun). Nana Sudjana pernah menjabat sebagai Dirintelkam Polda Jatim pada tahun 2014.
Di tahun 2015 lalu, dia menjabat sebagai Wakapolda Jambi, lalu tahun 2016 menjabat sebagai Wakapolda Jawa Barat. Setelah itu di tahun yang sama menjabat sebagai Dirpolitik Baintelkam Polri disaat Tito Karnavian menjabat sebagai Kapolri.
Selang beberapa tahun, Nana pun kembali dipromosikan menjadi Kapolda NTB pada tahun 2019 dan akhirnya menjadi Kapolda Metro Jaya berdasarkan Surat Telegram Nomor ST/3331/XII/KEP/2019, pada 20 Desember 2019.
Nana pun sempat disebut-sebut menjadi salah satu kandidat calon Kapolri, menggantikan Jenderal Idham Azis yang akan pensiun pada Januari 2021.
Sedangkan Irjen Rudy Sufahriadi, lahir di Cimahi, Jawa Barat, 23 Agustus 1965 (umur 55 tahun) pernah bergabung dalam satuan elite pemberantas teroris, Densus 88. Ia pun sempat bertugas di Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).
Pada 2005, Rudy Sufahriadi ditunjuk menjadi Kapolres Poso, Sulawesi Tengah. Ia juga sempat menjadi Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya pada 2007.
Lalu, ia menjadi Kepala Densus 88 Anti-Teror Polda Metro Jaya pada 2007. Rudy kemudian diangkat menjadi Kepala Kepolisian Resor Metro Jakarta Utara pada 2009.
Ia menjadi Perwira Menengah Densus 88 Anti-Teror Polri pada 2010. Lalu, Rudy menjadi Direktur Pembinaan Kemampuan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada 2010 sampai 2016.
Pada 2016 sampai 2018, dirinya menduduki jabatan sebagai Kapolda Sulawesi Tengah. Setelah menjadi Kapolda Sulawesi Tengah, ia diangkat menjadi Kepala Korps Brimob Polri pada 2018 pada era Tito Karnavian sebagai Kapolri.
Tahun 2019, Rudy diangkat menjadi asisten operasi Kapolri. Setelah itu, Rudy Sufahriadi resmi menjabat menjadi Kapolda Jawa Barat pada 26 April 2019.
Maka dapat disimpulkan bahwa Nana dan Rudy mempunyai kedekatan dengan Mendagri Tito Karnavian.
Apalagi dengan jabatan baru Nana sebagai Korsahli Polri dan jabatan baru Rudy sebagai Widyaiswara Kepolisian Utama Tingkat I Sespim Lemdiklat Polri yang sangat tidak prestisius. Padahal, selama ini kedua jendral tersebut memiliki prestasi dan karir yang sangat bagus.
Ini pun memperkuat alasan bahwa pencopotan Nana dan Rudy bukan dikarenakan kerumunan, namun diduga ada unsur Pilpres 2024. Dimana Polda Metro Jaya dan Polda Jabar adalah kunci karena memiliki wilayah yang strategis.
“Selain itu, ini sebagai salah satu cara pembersihan orang-orang Tito Karnavian yang dimana memiliki kans untuk menjadi Calon RI1 di Pilpres mendatang, ” kata
Maizal Alfian, ST, M.Si, Direktur Eksekutif PUSKAPPI. (Red).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here