“PERNYATAAN SIKAP” K-SPSI Tolak Wacana Upah Minimum Tidak Naik Tahun 2021

0
208

JAKARTA, MediaGaruda.co.id – Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (K-SPSI) mengeluarkan “PERNYATAAN SIKAP” bahwa K-SPSI Menolak Wacana Upah Minimum Tudak Naik Tahun 2021.Demikian pernyataan tertulis Roy Jinto Ferianto, Wakil Ketua Umum K-SPSI Andi Gani Nenawea (AGN) yang juga Ketua umum Pimpinan Pusat FSP TSK SPSI kepada Redaksi MediaGaruda.co.id, Selasa (20/10/2020) pagi ini.

Roy Jinto Ferianto menyatakan, K-SPSI menyikapi wacana pemerintah untuk tidak menaikkan upah minimum tahun 2021 bahkan adanya keinginan upah minimum tahun 2021 turun dari upah minimum tahun 2020.

“sangat merugikan kaum buruh dan dengan tegas kaum buruh menyatakan menolak,”kata Roy Jinto Ferianto.

Persoalan penolakan Omnibus Law cipta kerja belum selesai.

“Tetapi pemerintah dan stetmen asosiasi pengusaha yang meminta agar upah minimum tahun 2021 tidak naik, bahkan minta diturunkan menimbulkan reaksi dari kalangan buruh,”ungkap Roy Jinto Ferianto.

Dia juga menjelaskan bahwa kenaikkan upah setiap tahun merupakan hal yang sangat dinanti-nantikan oleh kaum buruh untuk meningkatkan daya beli (konsumsi).

Jelas faktanya, inflasi juga naik tidak minus dan upah minimum yang akan ditetapkan tahun 2020 berlaku efektif Januari 2021,

Maka sebagai dasar kenaikkan upah tahun 2021 bisa didasarkan pada proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2021 sebagaimana data yang dirilis oleh BI proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2021 sebesar 5,5%, menurut Pemerintah 5,0%  menurut IMF 6,1%,  menurut ADB 5,1% , word bank 4,8% data-data tersebut adalah proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2021.

“sedangkan upah minimum berlaku pada tahun 2021 juga sehingga angka-angka tersebut bisa dijadikan dasar untuk menetapkan upah minimum tahun 2021,”kata Roy Jinto Ferianto

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat tergantung pada konsumsi daya beli masyarakat ketika pendapatan buruh lemah, maka daya beli buruh akan turun sehingga akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi.

Bagaimana mungkin proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2021 bisa tercapai, kalau daya beli masyarakat rendah bahkan mengalami penurunan, pada triwulan kedua pertumbuhan ekonomi Indonesia minus -5,32% sedangkan triwulan ketiga masih minus -1% lebih.

Padahal Pemerintah sudah menyalurkan subsidi upah (BSU) tapi masih minus, walaupun kecil minus nya. Sehingga Indonesia masuk resesi ekonomi, apalagi kalau tidak ada subsidi upah (BSU) mungkin minusnya akan lebih besar dari triwulan kedua,

“Sekarang  dapat kita bayangkan dengan adanya subsidi aja masih minus, pertumbuhan ekonomi. Apalagi kalau buruh tidak naik upah atau upah nya turun, daya beli buruh pasti semakin merosot turun. Karena kenaikkan upah salah satunya adalah untuk menjaga daya beli atau konsumsi kaum buruh,

“maka rencana pemerintah dan permintaan asosiasi pengusaha untuk upah tahun 2021 tidak naik, bahkan minta turun dari upah tahun 2020. Kaum buruh menyatakan menolak dan akan melakukan perlawanan dengan melakukan AKSI UNJUK RASA besar-besaran diseluruh Indonesia. Karena upah merupakan hak yang paling fundamental bagi kaum buruh…!!!,”kata Roy Jinto Ferianto. (Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here