Demo AMAKSI Kabupaten Bekasi, Menggugat dan Menolak UU Cipta Kerja

0
140

BEKASI, MediaGaruda.co.id – Aksi demo Aliansi Persatuan Mahasiswa Bekasi (AMAKSI) dengan Korlap Aksi, Suhendar dari BEM Febis Pelita Bangsa. Didalamnya tergabung mahasiswa dari lintas kampus. Seperti dari, Hima Persis Bekasi Raya, SEMMI Bekasi, IMPASI Banten, BEM Febis Pelita Bangsa, BEM Duta Bangsa, STIMAIMMI Bekasi.

Melakukan aksi demo di DPRD Kabupaten Bekasi, pada Senin (19/10/2020).

Para mahasiswa itu, menyampaikan tuntutan, sebagai berikut :

1. Menolak Pengesahan Undang Undang Cipta Kerja,

2. Mendesak DPRD Kabupaten Bekasi untuk menolak pengesahan UU Cipta Kerja Omnibus Law.

3. Mendesak DPRD Kabupaten Bekasi untuk melakukan langkah-langkah konstitusional dalam penolakan UU Cipta Kerja (Yudisial Review)

4. Mengecam dengan tegas perlakuan represifitas dari aparat kepolisian.

Pada agitasi yang diberi judul, “Cabut Omnibus Law Cipta Kerja dan Hentikan Represifitas Terhadap Gerakan Rakyat”.

Para mahasiswa menyatakan persoalan UU Cipta Kerja bukanlah persoalan satu kelompok tertentu saja. Tetapi menjadi persoalan seluruh elemen masyarakat, yang akan menjadi korban, dari upaya pemerintah dalam menyediakan karpet merah bagi para investor.

Penggabungan lebih dari 70 Undang-Undang dan ribuan pasal yang didalamnya ternyata sama sekali, tidak ditunjukkan untuk kepentingan rakyat. Contohnya, upah buruh akan menjadi semakin murah, dengan adanya skema pengupahan per-jam didalam UU tersebut. Kepastian kerja, juga akan menghilang karena sistem kerja yang semakin fleksible, lantaran sitem kerja kontrak dan outsourcing yang diperpanjang dan diperluas pada UU Cipta Kerja ini.

Perampasan lahan rakyat dan kerusakan lingkungan hidup, yang terus terjadi. Juga akan semakin diperparah dengan diperpanjangnya HGU sampai 90 tahun. Ditambah dikendurkannya AMDAL bagi para pengusaha. Sehingga, rakyat miskin kota, kedepannya akan semakin termarjinalkan dari kehidupan. Karena, semakin masifnya penggusuran lahan, yang dilegakan dengan dalih pembangunan oleh negara melalui UU Cipta Kerja itu.

Kenapa? Karena negara terus memberikan ruang yang lebih luas, bagi para korporasi untuk terus mengeksploitasi rakyat, melalui penghilangan sanksi pidana bagi pengusaha. Akibatnya, semakin banyak lagi pengusaha yang akan terus melanggar, pemenuhan hak-hak normatif para buruh.

“Karena para pengusaha kedepannya, tidak lagi dihantui bayang-bayang jerat hukum pidana, karena pada UU Cipta Kerja pasal tersebut telah hilang. Dan para pengusaha yang melanggar, cukup diberikan sanksi dengan membayar denda, sehingga semuanya beres,”protes Suhendar.

Dia juga menyatakan bahwa, dalam sidang Paripurna DPR RI Pada tanggal 5 Oktober 2020 lalu. DPR RI telah sepenuhnya mensahkan UU Cipta kerja. Rapat paripurna yang diselenggarakan secara tertutup dan lebih cepat dari waktu yang ditentukan, yaitu tanggal 8 Oktober 2020 tersebut, jelas-jelas telah sepenuhnya,

“mengamputasi partisipasi dan ruang demokrasi yang kemudian memicu terjadinya ledakan amarah rakyat diberbagai daerah,”kata Suhendar.

Dampaknya pada tanggal 6, 7, dan 8 Oktober 2020 lalu, terjadi aksi masal di 60 kota dan kabupaten, tersebar di lebih dari 20 provinsi. Gelombang protes tersebut, kemudian direspon oleh negara dengan tindakan represifitas berlebihan oleh aparat kepolisian.

“Hingga tanggal 9 Oktober 2020 pukul 15.50wib kami mencatat 3.367 massa aksi yang ditangkap aparat kepolisian Republik Indonesia,”kata Suhenar.

Di Kabupaten Bekasi sendiri gelombang demontrasi sampai dimana-mana. Dilakukan masyarakat, ormas, buruh dan terjadi gesekan dengan pihak keamanan. Korban-pun dimana-mana, baik korban represif dari anggota kepolisian atau tindakan kekerasan dari masa aksi itu sendiri. Padahal saat saat ini pendemi Coruna -19 belum usai

“Karena itu, aliasi mahasiswa Kabupaten Bekasi (AMAKSI) menggugat DPRD Kabupaten Bekasi, untuk mengakomodir seluruh aspirasi masyarakat kabupaten Bekasi. Serta berani mengeluarkan statement resmi, untuk menolak UU Cipta Kerja tersebut,”tuntut Suhendar.

Sampai berita ini dinaikkan aksi demo AMAKSI masih sedang berlangsung. (MG-018/RED)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here