SPSI Minta Menaker Ida Fauziah Jelaskan Ke Publik, Kenapa Jajarannya Tak Punya Nyali SIDAK PT.KJS & PT.KJTS

0
545

BEKASI, MediaGaruda.co.id – Persoalan perburuhan yang berlangsung di PT.KJS & PT.KJTS yang merumahkan pekerja/buruhnya sejak Mei 2020 lalu. Tanpa bersedia memberikan upah dan THR sampai saat ini dengan alasan Covid-19 dan persoalan keuangan perusahaan.

Memasuki babak baru, setelah Kamis tanggal 10 September 2020 kemarin, Ketua PUK KJS Asep Ramdhan dalam wawancara khusus dengan MediaGaruda.co.id, menyatakan bahwa sejak kasus di PT.KJS & PT.KJTS mencuat ke publik dan telah diberitakan media lokal, nasional dan juga telah dilaporkan kepada pihak Disnaker Bekasi, Disnaker Provinsi Jawa Barat dan jajarannya.
Ternyata pengawas ketenagakerjaan Dinas Disnaker Provinsi Jawa Barat, dari UPTD Jawa Barat II yang berkantor di Karawang. Sampai saat ini belum pernah melakukan inspeksi lapangan atau SIDAK ke PT.KJS – PT.KJTS yang berada di Jalan Cempaka No 28 RT.003 RW.02 Kp Jatibulak, Kelurahan Jati Mulya, Kecamata Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi.
Arpanidi, Ketua, Federasi Pengurus Cabang Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan & Minuman (FSP RTMM ) SPSI Kota dan Kabupaten Bekasi, mengaku kecewa dan protes soal perlakuan pelayanan hukum yang terindikasi diskriminstif oleh pihak Pengawas Disnaker UPTD Jawa Barat II yang berkantor di Karawang ini. Sebab  sejak kasus perburuhan di PT.KJS & PT.KJTS mencuat Mei 2020 lalu, telah diberitakan oleh media lokal dan nasional.
Ternyata, pihak Pengawas Disnaker dari UPTD Jawa Barat II yang berkantor di Karawang sejak Mei 2020 sampai saat ini belum pernah turun ke PT.KJS dan PT.KJTS yang berada di Jalan Cempaka No 28 RT.003 RW.02 Kp Jatibulak, Kelurahan Jati Mulya, Kecamata Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi.
 
“Karena itu, kami atas nama lembaga Federasi Pengurus Cabang Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan & Minuman (FSP RTMM ) SPSI Kota dan Kabupaten Bekasi meminta dengan hormat kepada Ibu Menaker RI, Ida Fauziah agar menjelaskan kepada publik. Kenapa pihak Pengawas Disnaker dari UPTD Jawa Barat II yang berkantor di Karawang belum pernah turun lapangan mendatangi PT.KJS dan PT.KJTS?,”tanya Arpanidi.
Kenapa FSP RTMM SPSI Bekasi menyatakan adanya dugaan pelayanan diskriminatif, karena tidak sedikit perusahaan lain yang juga merumahkan pekerja/buruhnya, dan masih bersedia memberikan upah buruhnya, walaupun tidak penuh, atau upah 100 persen. Tetapi pihak Pengawas Disnaker UPTD Jawa Barat wilayah II yang berkantor di Karawang turun ke lapangan memeriksa perusahaan tersebut,”kata Arpanidi.
Selain itu juga perlu diketahui bahwa kasus dirumahkan pekerja/buruh PT.KJS & PT.KJTS tanpa mendapatkan upah sama sekali itu, oleh pihak Pengurus FSP RTMM SPSI Bekasi telah dilaporkan kepada pihak Direktorat Intelkam Mabes Polri, saat para pejabat Dir Intelkam berkunjung kekantor DPC SPSI Bekasi beberapa waktu lalu.
“Artinya Bapak Kapolri juga telah mendapat laporan terkait kasus sengketa perburuhan di PT.KJS & PT.KJTS yang berlokasi di di Jalan Cempaka No 28 RT.003 RW.02 Kp Jatibulak, Kelurahan Jati Mulya, Kecamata Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi,”kata Arpanidi.
 
Diapun juga meminta kepada masyarakat, agar ikut prihatin terkait, adanya dugaan pendholiman hukum ketenagakerjaan kepada anggotanya di PT.KJS dan KJTS itu.
 
Sedangkan terkait soal bantuan sembako dan tunai dari program Presiden Jokowi bagi warga miskin dan buruh terdampak covid-19 yang sampai saat ini belum pernah diterima Asep Ramdhan dan anak istrinya.
 
“Mohon dengan hormat tidak usah dipakai buat bahan candaan di berbagai WA Group lah, apalagi jika menyalahkan RT dan RW. Sebab maksud tujuan saudara Asep Ramdhan menceritakan semuanya kemarin kepada wartawan itu, bukan sekedar untuk kepentingan mendapatkan bantuan sembako dan tunai, tetapi untuk kepentingan yang lebih luas, yaitu untuk memperjuangkan hak hak seluruh pekerja/buruh PT.KJS dan PT.KJTS yang sampai saat ini dirumahkan.Dan seharusnya masih berhak mendapatkan upah sesuai yang diatur oleh UU 13/2003 tentang Ketenagakerjaan. 
 
“Sehingga tidak pantaslah, sebagai orang beragama, jika kita melihat saudaranya yang terkena musibah, kita bukannya mengucapkan inalillahi dan memberikan doa suport, tetapi malah menjadikan penderitaan saudara kita itu sebagai bahan candaan,”kata Arpanidi. (Red).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here