Pandemi Corona & Pandemi Kebodohan

0
64
JAKARTA, MediaGaruda.co.id – Kita menghadapi dua pandemi : pandemi corona dan pandemi kebodohan. Begitu komentar seorang teman terkait kerumunan di depan McDonalds Sarinah pada, Minggu/Ahad (10/05/2020) lalu.
Saya pribadi sangat sependapat dengan teman saya, entah kata apa selain bodoh yang relevan disematkan kepada mereka. Di tengah pandemi corona yang situasi dan penanganannya semakin tidak jelas, ada sekumpulan manusia lintas demografi berjajar berdesakan mengabaikan kemungkinan tertular Covid-19 yang berpotensi membunuh mereka semua, hanya demi sebungkus junk food dan “sesampah” nostalgia.
Kebodohan “cluster” Sarinah sejatinya hanya satu dari sekian kebodohan bangsa ini yang terkuliti habis oleh pandemi corona. Namun dalam tulisan kali ini, saya hanya ingin memperkecil lingkup pembahasan pada orang-orang Islam saja (untuk umat agama lain, saya yakin mereka punya pengkritiknya sendiri).
Sejak awal corona menyapa kita, kita harus bersepakat jika kita kurang bijak menghadapi wabah asal Wuhan tersebut. Bukan soal panic buying ataupun melambungnya harga masker, namun beberapa hal menunjukkan kebodohan kita tentang agama kita sendiri. Nekad menggelar jum’atan bahkan ada yang membobol gerbang masjid yang terkunci, tetap menggelar seremoni-seremoni keagamaan yang tak terlalu urgent, hingga puncaknya ketika tarawih di masjid dilarang sebagian kita dengan nada lirih mengakui,
“kami tak punya hafalan satu surat pun, bagaimana kami bisa menjadi imam.”
Tak hanya di kalangan awam, sebagian kecil pemuka agama masih gemar melempar narasi-narasi ambigu yang rentan disalahpahami sebagai peremehan masalah, bahkan masih ada saja yang melempar narasi sarat konspirasi. Pada akhirnya, narasi mereka membuat umat menjadi semakin gagap dan tak bijak menghadapi pandemi.
Iman yang tipis berpadu dengan kebodohan sejatinya telah lama menjadi sinyal tanda bahaya bagi kemunduran umat Islam di negeri ini. Kyai Haji Mas Mansur, tokoh Muhammadiyah asal Surabaya pada tahun 1940 pernah merangkum empat penyebab kemunduran umat Islam Indonesia, yaitu : iman yang tipis, umat yang tidak punya kecerdasan, pemimpin umat Islam yang hanya pandai bergembar-gembor, dan syiar agama Islam yang terlampau kurang.
Keempat hal tersebut, lanjut Mas Mansur, telah menyebabkan umat Islam menjadi sangat-sangat jauh dari penggambaran Nabi Muhammad SAW tentang Islam: “Islam itu agama yang tinggi dan tak ada yang melebihinya.”
Mas Mansur menegaskan jika umat Islam tidak boleh mempersalahkan agamanya ataupun Tuhannya atas kondisi tersebut. Karena Allah sudah menyatakan tidak akan mengubah keadaan suatu kaum kecuali mereka ingin mengubahnya sendiri .
Dan sebagai seorang kyai, Mas Mansur menuliskan beberapa saran untuk keluar dari kondisi tersebut. Yang pertama adalah kembali kepada Al-Qur’an. “…kembali kepada Al-Qur’an ialah yang penting bagi kita, dan janganlah kita terpengaruh dengan beberapa isme-isme lainnya yang beraneka warna bentuk dan ragamnya.”
Lalu yang kedua adalah mengerjakan ayat-ayat Al-Qur’an. Kemuliaan dan ketinggian umat Islam pada zaman dahulu disebabkan mereka mengerjakan apa yang tersebut dalam Al-Qur’an.
Dan yang ketiga, menguatkan kebendaan umat Islam. Kehormatan agama, kehormatan bangsa, dan kehormatan tanah air semua membutuhkan biaya yang tak sedikit. Seringkali umat Islam menyusun sebuah program kemaslahatan namun kandas di tengah jalan karena masalah biaya.
Yang keempat, perlunya ulama dan kaum terpelajar bergandengan tangan, merapatkan barisan. “… kaum santri dan kaum terpelajar akan hidup bergandengan, seia sekata dan sehidup semati untuk membela agama Tuhan. Dengan mereka itu, umat akan mengetahui bahwa agama Islam adalah agama kerajaan dan kekuasaan, agama kemajuan dan kemakmuran, agama kekayaan dan kemuliaan, agama ilmu dan kekuatan.
Kyai Haji Mas Mansur, menutup segala catatannya terkait kemunduran umat Islam dengan optimisme bahwa suatu saat umat Islam akan bangkit, akan mampu mengatasi sebab-sebab kemunduran, dan akan membawa Islam  menjadi sebuah entitas peradaban yang mapan.
Namun jika mengingat bahwa ia menuliskan hal tersebut sekitar tujuh puluh tahun lalu, sementara hari ini, kita menyaksikan betapa corona telah mempertontonkan dengan sangat telanjang potret-potret kemunduran umat Islam di depan pelupuk mata kita, bukankah hal itu sangat-sangat menyedihkan.
(KIBLATNET./Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here