Penerapan Tilang Elektronik di Bekasi

0
54

Ditulis Oleh RR Ema Khlistiani Hati

(Ketua EKA Centre Kabupaten Bekasi)

BEKASI, MediaGaruda.Co.Id – Memang tak bisa disangkali, kesadaran masyarakat Indonesia  dalam berlalulintas dengan baik cukup rendah di berbagai tempat. Tak terkecuali fenomena yang sama juga terjadi di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Sebagaimana informasi yang dirilis Polrestro di Kabupaten Bekasi, sebanyak 6.377 pengendara terjaring operasi Patuh Jaya pada Tahun 2019. Para pengendara tersebut terjaring razia acak yang dilakukan oleh pihak Polrestro Bekasi di 23 kecamatan, 182 desa, dan 5 kelurahan.

Dari total pelanggaran tersebut, 35 persen diantaranya melakukan pelanggaran kecil yakni melawan arus. Ya, asumsi pelanggaran kecil tersebut tentu telah menjadi pembenaran publik secara tidak langsung. Biasanya kita akan mengklaim dengan seribu alasan untuk membenarkan kesalahan berlalulintas yang nyatanya bisa sangat fatal.

Tidak percaya? Masih sebagaimana informasi yang dirilis Polrestro Kabupaten Bekasi, angka kecelakaan lalulintas sepanjang Januari-Agustus 2019 lalu mencapai 484 kasus dengan jumlah korban jiwa mencapai 681 orang. Dimana dari korban yang ada, 32 orang dinyatakan meninggal, 84 orang lainnya dinyatakan mengalami luka berat, dan sisanya sebanyak 566 orang mengalami luka ringan. Adapun penyebab utama dari kecelakaan tersebut yakni melawan arus, tidak menggunakan helm, menerobos lampu merah, dan beberapa penyebab lainnya. Bayangkan coba! Betapa remeh-temehnya alasan kecelakaan tersebut. Jangan remehkan apapun karena akan mungkin mengakibatkan hal-hal yang sangat fatal.

Dalam suatu forum tak resmi, seorang teman menyampaikan pernyataan yang membuat saya setengah tergelitik tapi cukup beralasan. Katanya, peribahasa “ala bisa karena biasa” nampaknya perlu dikoreksi. Sebenar-benar peribahasa tersebut harusnya disempurnakan menjadi “ala bisa karena dipaksa”. Sayapun tak bisa membantah opini dan narasi teman tersebut. Cukup membuat saya introspektif untuk menerapkan poin-poin baik dari semangat memaksa kondisi, dimulai dari keluarga saya.

Dan rasa-rasanya pula, peribahasa tersebut juga masih koheren dengan kebijakan Bupati Kabupaten Bekasi, Eka Supria Atmaja yang akan menerapkan sistem tilang elektronik atau Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) pada Selasa besok, 25 Februari 2020.

Penerapantilang secara elektronik pada dasarnya diluncurkan untuk meningkatkan kesadaran warga dalam berlalulintas. Warga Bekasi mesti paham bahwa urusan ketertiban lalulintas bakal diawasi oleh perangkat-perangkat visual elektronik yang bisa memotret pelanggaran-pelanggaran lalulintas secara presisi dan detail. Nantinya, tuntutan-tuntutan pelanggaran lalulintas akan dikirim ke rumah-rumah warga yang tentunya bakal memberatkan pelanggar lalulintas sendiri.

Memang sebagaimana informasi yang kami terima, penerapan e.tilang ini masih akan diuji coba di satu spot sementara yakni di perempatan Sentra Grosir Cikarang (SGC) Jalan R.E. Martadinata, Cikarang Kota, Kecamatan Cikarang Utara. Tentu saja pasca peluncuran perdana ini, Pemerintah Kabupaten Bekasi yang berkolaborasi dengan Polrestro Bekasi akan terus menambah perangkat-perangkat perekaman visual (CCTV) di titik-titik strategis lainnya di seluruh kecamatan yang ada.

Pertaruhan Rendah Atau Tingginya Peradaban Istilah peradaban memang berasal dari suku kata yang sederhana yakni adab. Secara sederhana pula, adab diartikan sebagai nilai-nilai dan perilaku yang baik, tinggi, dan maju. Nilai-nilai tersebut menentukan pola pikir sebuah komunitas masyarakat untuk bergerak maju atau mundur dan terpuruk. Maka karenanya, peradaban dalam makna yang lebih luas dimaknai sebagai sebuah identitas masyarakat yang mencakup semua kepentingan dan hubungan manusia baik dengan sesama manusia, alam dan lingkungan, begitu juga menyangkut peribadatan dengan Yang Kuasa. Nilai-nilai tersebut berkembang atau disebut moderen karena keinginan komunitas masyarakat untuk terus berperilaku baik dan maju sesuai dengan perkembangan zaman.

Di luar itu tentu para ahli menerjemahkan dengan berbagai kacamata. Misalnya saja, Arnold Toynbee dalam bukunya yang berjudul “The Disintegrations of Civilization” menyebutkan makna peradaban sebagai kultur masyarakat yang telah mencapai titik perkembangan teknologi. Sejarawan asal Inggris ini mengkombinasikan peradaban sebagai kumpulan kreasi sumber daya manusia yang memuat seluruh aspek bermanusia baik dalam konteks non-fisik hingga komponen-komponen fisik, termasuk teknologi sendiri.

Contoh lainnya, Albion Small, Sosiolog asal Maine, Amerika Serikat menyimpulan peradaban sebagai kemampuan manusia untuk mengontrol keinginan-keinginan tertentu yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup kelompok masyarakat. Pengembangan peradaban menurut Albion berat dipengaruhi oleh kebiasan-kebiasaan (kultur) masyarakat yang mampu mengelola ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga identitas-identitas masyarakat yang maju dan moderen terbentuk.

Tentunya peradaban di jalan raya tidak terbentuk begitu saja tanpa komitmen seluruh komponen pemerintah dan yang paling penting adalah masyarakat itu sendiri. Hadirnya infrastruktur lalulintas yang telah didesain sedemikian rupa, ditambah adanya perangkat-perangkat CCTV dan aturan-aturan yang mengikat para pengendara adalah kompulan produk kebudayaan yang mau tidak mau harus dipakai dan diterapkan. Namun lebih prinsipil dari perangkat pendukung tersebut adalah adanya kesadaran untuk mengontrol nafsu yang terburu-buru dan abai dengan resiko kecelakaan. Bagian tak kalah penting, pada dasarnya peradaban menuntun kita untuk mengontrol rasa percaya diri yang berlebihan, yang memungkinkan manusia bersikap selalu benar dan ingin diistimewakan.

Karenanya, mari kita kembangkan peradaban Bekasi yang lebih maju di semua lini. Yang memungkinkan masyarakat hidup saling menghargai mulai dari rumah hingga jalan raya. []

(Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here