Analisis Prediksi Kebangkrutan Dengan Menggunakan Metode ALTMAN Z-SCORE Pada PT.ASABRI (Persero)

0
58

 

Ditulis Oleh : Ali  Rasyid dan
Maizal Alfian

(Peneliti Pusat Kajian Publik Pemerintah Indonesia (Puskappi)

Jakarta, 14 Januari 2020.

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi, menganalisis dan mengetahui tingkat potensi kebangkrutan suatu perusahaan dengan menggunakan metode Altman Z-Score pada PT. Asabri (Persero) periode 2016 sampai dengan tahun 2017.

Penelitian ini juga bertujuan untuk melihat
kinerja keuangan perusahaan berdasarkan hasil analisis diskriminan dengan menggunakan model Altman. Analisis ini dilakukan untuk memprediksi kebangkrutan suatu perusahaan
dengan menganalisa laporan keuangan suatu perusahaan sampai dengan dua tahun. Jenis data yang digunakan adalah data kuantitatif. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah sumber data sekunder. Teknik pengumpulan data adalah teknik dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada 2 tahun terakhir perusahaan dalam kategori berpotensi bangkrut. Ini disebabkan karena nilai Z-Score yang dihasilkan oleh perusahaan
mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun, Nilai Z-Score yang dihasilkan pada setiap tahunnya berada di bawah standar sebuah perusahaan dikatakan memiliki kinerja keuangan yang baik.

Penurunan nilai Z-Score tersebut disebabkan oleh beberapa faktor seperti menurunnya penjualan perusahaan, tingkat hutang perusahaan yang semakin tinggi serta modal kerja yang dihasilkan oleh perusahaan yang tidak stabil pada setiap tahunnya.

Kata kunci : Analisis Kebangkrutan , Metode Altman Z-Score

I. PENDAHULUAN
Persaingan perusahaan yang semakin ketat di 4.0 ini menuntut perusahaan untuk berusaha lebih kuat dalam mempertahankan keberlangsungan usahanya. Ketatnya persaingan mengharuskan perusahaan harus dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman dan siap menghadapi persaingan dalam melakukan pengelolaan manajemen dengan baik, manajemen perusahaan
perlu menentukan strategi untuk mengatasi kenaikan dan tidak mengalami penurunan sehingga akan dapat menguasai pasar yang luas agar mampu untuk bertahan dan berkembang dalam
jangka waktu yang panjang dalam dunia usaha. Dalam praktiknya, asumsi seperti diatas tidak selalu menjadi kenyataan, sering kali perusahaan yang telah beroperasi dalam jangka waktu
tertentu terpaksa harus bubar karena mengalami kebangkrutan yang berujung pada kebangkrutan. Kesulitan keuangan (kebangkrutan) mengindikasikan bahwa kondisi keuangan perusahaan dalam keadaan tidak sehat yang merupakan penyebab utama kebangkrutan
perusahaan. Kesehatan suatu perusahaan akan mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menjalankan usaha.

II. TINJAUAN TEORI

Faktor-faktor kebangkrutan
Menurut Munawir (2010) antara lain sebagai berikut :

1) Kondisi Internal perusahaan adalah terlalu besarnya kredit yang diberikan kepada debitur/langganan, manajemen yang tidak efisien meliputi hasil penjualan yang tidak memadai, kesalahan dalam menetapkan harga jual, pengelolaan utang piutang yang kurang memadai, struktur biaya (produksi, administrasi, pemasaran dan financial) yang tinggi, tingkat investasi dalam aset tetap dan persediaan yang melampaui batas (overinvestment), kekurangan modal kerja, ketidakseimbangan dalam struktur permodalan, aset tidak diasuransikan atau asuransi dengan jumlah pertanggungjawaban yang tidak cukup untuk menutup kemungkinan rugi yang terjadi, sistem dan prosedur akuntansi yang kurang memadai.

2) Kondisi Eksternal yang bersifat umum. Faktor politik, ekonomi, social dan budaya
serta tingkat campur tangan pemerintah dimana perusahaan tersebut berbeda.
Disamping itu penggunaan teknologi yang keliru akan mengakibatkan kerugian dan
akhirnya mengakibatkan bangkrutnya perusahaan dan faktor eksternal yang bersifat khusus adalah faktor-faktor luar yang berhubungan langsung dengan perusahaan antara lain faktor pelanggan (perubahan selera atau kejenuhan konsumen yang tidak terdeteksi oleh perusahaan mengakibatkan menurunnya penjualan dan akhirnya merugikan perusahaan), pemasok dan faktor pesaing.
Indikator Kebangkrutan Menurut Syafrida Hani dalam Rialdy (2018) ada beberapa hal yang dapat dijadikan alasan untuk menyatakan bahwa perusahaan tersebut berada dalam kondisi kesulitan keuangan.
Antara lain adalah sebagai berikut :

1) Terjadinya penurunan asset
Hal ini ditandai dengan semakin rendahnya nilai total asset pada neraca, jika dilihat
dari pengukuran rasio aktivitas maka nilai perputaran asset (TATO) yang semakin
rendah, demikian pula dengan perputaran piutang dan perputaran persediaan yang
semakin rendah pula.

2) Penurunan penjualan
Penjualan yang menurun menunjukkan bahwa tidak terjadi pertumbuhan usaha,
semakin rendahnya produktivitas dan berarti bahwa ada permasalahan yang besar didalam penetapan strategi penjualan. Apakah berkaitan dengan penurunan volume penjualan maupun harga, kemampuan memasarkan, produk yang kurang diminati, dan lain-lain.

3) Perolehan laba dan profitabilitas yang semakin rendah.
Ada dua hal penting yang dapat memicu penurunan laba yakni pendapatan dan
beban, biasanya disebabkan karena biaya meningkat, walaupun terjadi peningkatan
pendapatan tetapi apabila peningkatan beban tinggi maka tidak akan terjadi peningkatan laba. Hal tersebut akan terungkap dalam rasio profitabilitas, sebagai alat ukur kemampuan menghasilkan laba. Jika laba menurun biasanya akan diikuti dengan
penurunan rasio profitabilitas pula.

4) Berkurangnya modal kerja
Modal kerja sebagai bagian penting dalam kegiatan operasional perusahaan, modal
kerja mencerminkan kemampuan perusahaan mengelola pembiayaan perusahaan, dengan pendanaan yang dimiliki maka diharapkan produktivitas perusahaan berjalan dengan lancar. Semakin tinggi modal kerja makadiharapkan produktivitas meningkat
sehingga profitabilitas juga semakin tinggi.

5) Tingkat hutang yang semakin tinggi
Tingkat hutang sebenarnya mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memperoleh pendanaan dari para kreditur, namun tingkat utang yang semakin tinggi juga dapat menunjukkan bahwa semakin tinggi beban yang harus ditanggung perusahaan.
Rasio utang yang semakin tinggi diikuti dengan tingkat bunga yang tinggi, sehingga akan berdampak pada tingginya beban yang dikhawatirkan akan menurunkan profitabilitas.

Para analis akan melihat bagaimana perusahaan mampu memenuhi kewajiban tepat waktu dan kemampuan dalam membayar bunga.

Alternatif Perbaikan Kesulitan Keuangan

Beberapa alternatif perbaikan kesulitan keuangan berdasarkan besar kecilnya
permasalahan keuangan yang dihadapi oleh perusahaan Hanafi dalam Burhanudin, B. and Widayanti, R (2017) :

1. Permasalahan secara informal dilakukan apabila masalah masih belum parah. Cara
pemecahannya adalah sebagai berikut : (a) Perpanjangan (Extension) dilakukan
dengan memperpanjang jatuh tempo hutanghutang. (b) Komposisi (Composition) dilakukan dengan mengurangi besarnya tagihan. (c) Likuidasi dilakukan apabila nilai likuidasi lebih besar dibandingkan nilai going concern.

2. Pemecahan secara formal dilakukan apabila masalah sudah parah. Pemecahan secara formal melibatkan pihak ketiga yaitu pengadilan. Cara pemecahannya adalah sebagai berikut :

(a) Apabila nilai perusahaan diteruskan > nilai perusahaan dilikuidasi, maka
perusahaan mengambil langkah reorganisasi, yaitu merubah struktur modal menjadi layak.

(b) Apabila nilai perusahaan diteruskan < nilai peusahaan dilikuidasi, maka perusahaan lebih baik mengambil langkah likuidasi dengan menjual asset-asset perusahaan kemudian didistribusikan ke pemasok modal di bawah pengawasan pihak ketiga.

 

Altman Z-Score.

Pengertian Altman Z-Score Nilai Z-Score ditemukan oleh Edward I.Altman. Sedangkan menurut Sartono dalam Rialdy (2018) kebangkrutan Z-Score adalah suatu alat yang digunakan untuk memprediksi tingkat kebangkrutan suatu perusahaan dengan menghitung nilai dari beberapa rasio lalu kemudian dimasukkan dalam suatu persamaan diskriminan. Model yang
dikembangkan oleh Altman ini mengalami suatu revisi. Menurut Syafrida Hani dalam Rialdy (2018) Model revisi ini bertujuan agar model prediksinya tidak hanya digunakan pada perusahaan manufaktur saja, tetapi juga dapat digunakan untuk perusahaan selain manufaktur.

Persamaan dari model Altman revisi adalah sebagai berikut: Z = 0,717(X1) + 0,874 (X2) + 3,107(X3) + 0,420 (X4) + 0,998(X5)

Rumus ini adalah model rasio yang menggunakan multiple discriminate analysis (MDA).

Kelima rasio tersebut adalah sebagai berikut :

1. Working Capital to Total Assets (X1)
2. Retained Earnings to Total Assets (X2)
3. Earning Before Interest and Taxes to Total Assets (X3)
4. Market Value of Equity to Book Value of Debt (X4)
5. Sales to Total Assets (X5)

III. METODOLOGI PENELITIAN
Pendekatan penelitian yang dilakukan dalam peneltian ini adalah pendekatan deskriptif.

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Pembahasan

Modal Kerja / Total Aset ( Working Capital to Total Assets)

Rasio pertama ini dihitung dengan perbandingan rasio modal kerja terhadap total aset, Rasio ini merupakan ukuran bersih aset lancar perusahaan terhadap modal perusahaan. Modal kerja yang digunakan adalah modal kerja bersih yakni selisih antara aset lancar dengan hutang lancar. Adapun nilai modal kerja bersih selama periode 2016 hingga 2017 pada PT. Asabri (Persero) ditunjukan pada tabel berikut :

Tahun Aset Lancar Hutang Lancar Current Assets-Current Liabilities 2016 13,536,323 623,613 12,912,710

2017 16,909,919 1761679 15,148,240

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai aset lancar dari tahun 2016 dan 2017 terus mengalami peningkatan. Begitu juga dengan nilai hutang lancar mengalami peningkatan dari tahun 2016 dan 2017, tetapi modal kerja yang dihasilkan pada tahun 2016 ke tahun
2017 mengalami peningkatan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perusahaan memiliki nilai modal kerja yang masih stabil. Ini perlu diperhatikan, mengingat modal kerja sangat dibutuhkan dalam aktivitas operasional perusahaan
X1 Work Capital AssetsTahun Modal kerja Total Assets MK/TA2016 12,912,710 36,510,116 0.35, 2017 15,148,240 44,801,865 0.34

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa, modal kerja mengalami penurunan pada tahun 2016 ke tahun 2017. Sedangkan nilai total aset yang di hasilkan terusmengalami kenaikan setiap tahunnya. Setelah dilakukan perbandingan antara modal kerja dengan total aset untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menghasilkan modal kerja dengan seluruh total aset yang digunakan, diketahui bahwa perusahaan dalam menjamin modal kerja yang dibutuhkan perusahaan mengalami kondisi yang tidak stabil. Pada tahun 2016 ke tahun 2017 mengalami penurunan nilai X1.

Laba Ditahan / Total Aset (Retained Earnings to Total Assets)

Merupakan ukuran profitabilitas, rasio ini menunjukkan perbandingan laba ditahan
dengan total aset. Rasio ini digunakan untuk melihat seberapa besar konstribusi saldo laba terhadap total asset, karena saldo laba adalah cerminan cadangan laba yang disimpan untuk dapat menambah modal sehingga dapat meningkatkan produktivitas perusahaan. Adapun
perbandingan nilai laba ditahan dengan total aset sehingga menghasilkan nilai X2 selama periode tahun 2016 hingga tahun 2017 pada PT. Asabri (Persero) adalah sebagai berikut :

X2 Retained earning to total assets
Tahun Laba ditahan Total Assets LT/TA
2016 813,547 36,510,116 0.02
2017 1,758,403 44,801,865 0.04
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa, nilai laba ditahan dan nilai total aset yang dihasilkan oleh perusahaan terus mengalami peningkatan setiap tahunnya, tetapi nilai X2 yang dihasilkan melalui perbandingan antara laba ditahan dengan total aset menunjukkan kondisi yang stabil. Terlihat pada tabel 2016 sampai dengan 2017 menghasilkan nilai X2 yang terus meningkat namun dalam rasionya belum dikatakan baik karena belum mencapai angka koefisien standar untuk kesehatan perusahaan. Ini perlu diperhatikan agar laba yang dihasilkan oleh perusahaan dikemudian hari lebih maksimal.

Laba Sebelum Bunga dan Pajak / Total Aset (Earning Before Interest and Taxes to Total Assets)

Rasio ini dihitung dengan membandingkan nilai laba sebelum bunga dan potongan pajak dibagi dengan total aset. Rasio ini merupakan ukuran produktivitas yakni mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan menghasilkan laba sebelum bunga dan pajak dilihat dari aset
perusahaan yang sesungguhnya. Sejak keberadaan pokok perusahaan didasarkan pada kemampuan menghasilkan laba dari aset-asetnya, rasio ini sering muncul untuk studi yang berhubungan dengan kegagalan perusahaan.

Adapun perbandingan nilai laba sebelum bunga dan pajak dengan nilai total aset perusahaan sehingga menghasilkan nilai X3 selama periode 2016 sampai dengan tahun 2017 pada PT. Asabri (Persero) adalah sebagai berikut :


X3 Earning before interest and taxes to total assets

Tahun EBIT Total Assets EBIT/TA
2016 179,413 36,510,116 0.00
2017 964,445 44,801,865 0.02
Berdasarkan hasil pada perhitungan diatas, nilai laba sebelum bunga dan pajak mengalami peningkatan pada tahun 2016 sampai dengan tahun 2017. Sehingga menghasilkan nilai X3 yang stabil. Ini mencerminkan bahwa kinerja keuangan perusahaan dalam menghasilkan laba
stabil namun dalam rasionya belum dikatakan baik karena belum mencapai angka koefisien standar untuk kesehatan perusahaan.

Nilai Buku Ekuitas / Total Hutang (Book Value of Equity to Book Value of Debt)

Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi
kewajiban-kewajiban dari nilai buku ekuitas. Nilai buku hutang diperoleh dengan cara menjumlahkan hutang jangka pendek dan hutang jangka panjang. Rasio ini dihitung dengan cara membandingkan nilai dari total ekuitas dengan seluruh total kewajiban yang dimiliki oleh
perusahaan.

Adapun nilai perbandingan total ekuitas dengan nilai total aset sehingga menghasilkan nilai X4 selama periode 2016 sampai dengan tahun 2017 pada PT. Asabri (Persero) adalah sebagai
berikut :

X4 Book value of equity to book value of debt Tahun EPS Total Hutang EPS/TH
2016 200,000 36,340,134 0.01
2017 200,000 43,615,289 0.00
Berdasarkan pada perhitungan tabel diatas, dapat diketahui bahwa kemampuan perusahaan dalam menjamin kewajiban yang harus dibayar dengan menggunakan ekuitas yang dimiliki cukup baik. Ini terlihat pada tabel diatas, dimana total ekuitas yang dimiliki oleh perusahaan
setiap tahunnya, selalu melebihi total hutang yang harus dikeluarkan oleh perusahaan. Tetapi hasil nilai X4. pada tahun 2016 sampai dengan tahun 2017 mengalami penurunan.

Penjualan / Total Aset (Sales to Total Assets)

Rasio ini menggambarkan kemampuan perusahaan meningkatkan penjualan dari aset yang dimilikinya. Selain itu juga dapat digunakan untuk mengukur seberapa besar kemampuan manajemen dalam menghadapi kondisi yang kompetitif. Rasio ini digunakan dengan cara
membandingkan penjualan dengan total aset yang dimiliki oleh perusahaan. Adapun nilai perbandingan antara penjualan dengan total aset yang dimiliki oleh perusahaan sehingga menghasilkan nilai X5selama periode 2016 sampai dengan tahun 2017 adalah sebagai berikut
:

 

  • X5 Sales to Total Assets
    Tahun Penjualan Total Aset P/TA
    2016 5,069,786 36,340,134 0.14
    2017 4,519,830 43,615,289 0.10
    Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa, penjualan yang dihasilkan oleh perusahaan cenderung menurun.. Tetapi nilai X5 yang dihasilkan oleh perusahaan mengalami penurunan yang cukup signifikan, ini terlihat dari tahun 2016 sampai dengan 2017, nilai X5 pada tahun 2016 sebesar
    0.14 menurun menjadi 0.10.

Setelah diperoleh hasil perhitungan dari masing-masing nilai rasio yang digunakan dalam formula Altman Z-Score, kemudian dimasukkan kedalam formulanya yaitu :
Z = 0,717 (X1) + 0,874 (X2) + 3,107 (X3) + 0,420 (X4) + 0,998 (X5)

Untuk mengetahui lebih jelas nilai rasio-rasio yang telah dihitung pada PT. Asabri (Persero) , hasil perhitungan nilai tersebut disimpulkan dalam tabel sebagai berikut :


Koefisien 2017 2016
X1 0.717 0.34 0.35
X2 0.874 0.04 0.02
X3 3.107 0.02 0.00
X4 0.420 0.00 0.01
X5 0.998 0.10 0.14
Z ”Score” 0.45 0.43

Kondisi Perusahaan Berdasarkan Z “Score Altman Bangkrut Bangkrut
Dimana:

1. Working Capital to Total Assets (X1)
2. Retained Earnings to Total Assets (X2)
3. Earning Before Interest and Taxes to Total Assets (X3)
4. Market Value of Equity to Book Value of Debt (X4)
5. Sales to Total Assets (X5)
Setelah diketahui nilai dari masing-masing rasio, kemudian selanjutnya akan dihitung hasil Altman Z-Score pada PT. Asabri (Persero), apakah perusahaan dikategorikan ke dalam
perusahaan yang berpotensi bangkrut, daerah rawan bangkrut (grey area) atau masuk kedalam kategori perusahaan yang sehat.

Dimana klasifikasi perusahaan yang masuk kedalam kategori sehat, daerah rawan
kebangkrutan (grey area) dan perusahaan yang dikategorikan kedalam daerah berpotensi bangkrut adalah sebagai berikut :

Perolehan nilai Z-Score pada PT. Asabri (Persero) tahun 2016 sebesar 0.43 dimana nilai tersebut masih tetap masuk kedalam kategori daerah kebangkrutan. Sama halnya pada tahun 2017, nilai Z-Score yang dihasilkan belum cukup mampu melampaui batas kategori dimana
perusahaan dikatakan sehat, yakni diatas nilai 2,9. Walaupun nilai Z-Score yang dihasilkan mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Penurunan nilai Z-Score ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti :
1. Menurunnya pendapatan dari tahun 2016 sampai dengan tahun 2017. menunjukkan bahwa tidak terjadi pertumbuhan usaha, semakin rendahnya produktivitas dan berarti bahwa ada permasalahan yang besar didalam penetapan strategi manajemen (Munawir
(2010). Apakah berkaitan dengan penurunan pelayanan atau service yang diberikan oleh pihak perusahaan kepada calon pelanggan atau strategi manajemen dalam penjualan produk yang kurang menarik minat masyarakat.

V. KESIMPULAN
1. Dari hasil penelitian diatas dapat disimpulkan nilai hutang yang meningkat tidak dibarengi dengan pertumbuhan pendapatan yang meningkat pada perusahaan jika tidak dikelola dengan baik akan memberikan dampak yang buruk pada perusahaan.

2. Modal kerja yang dihasilkan menurun dari tahun sebelumnya, dimana jika hal tersebut dibiarkan atau tidak segera diatasi, modal kerja yang dihasilkan akan terus menurun dan tidak mampu membiayai operasional perusahaan dan beresiko akan terjadinya kondisi kesulitan keuangan yang akhirnya akan menyebabkan kebangkrutan.

3. Semua nilai rasio keuangan perusahaan belum mencapai titik aman dalam pengelolaan perusahaan hal ini akan berdampak pada kesulitan perusahaan dalam menjalankan operasional perusahaannya.

VI. SARAN
1. Faktor penyebab kebangkrutan perusahaan, berasal dari internal maupun eksternal perusahaan. Pengendalian internal yang efektif seperti melakukan audit behavior terhadap semua bagian manajamen mampu mendeteksi semua permasalahan yang terjadi dalam
perusahaan, sehingga sebelum permasalahan itu semakin parah tindak penyelesaian harus segera dilaksanakan. Faktor ekstenal dimana perusahaan PT Asabri ini merupakan perusahaan milik negara, maka negara harus memperhatikan kinerja perusahaan dari setiap periode apakah perusahaan mengalami kebangkrutan atau mengalami peningkatan dalam asetnya.

2. Bagi pihak manajemen perusahaan, sebaiknya memperhatikan kondisi keuangan perusahaan dengan menghitung rasio keuangan dan bisnis studi apakah kebijakan dan strategi perusahaan sudah relevan dengan perkembangan zaman, sehingga gejala – gejala yang mengarah pada kebangkrutan perusahaan, dapat segera diketahui dan pihak manajemen dapat langsung mencari solusi atas hal itu.

3. Sebaiknya pemerintah mengetahui kinerja perusahaan dan melihat perkembangan perusahaan, dan memeriksa secara periodik perusahaan-perusahaan yang memiliki kinerja keuangan yang kurang baik.[]

(Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here