PAM : Ganti Suasana VS Ganti Irama

0
10

“Memotret OKU Selatan, saya analogikan seorang petani muda miskin yang akan berkebun. Semua proses dilakukan tanpa modal, selain semangat juang, dan sebidang tanah peninggalan leluhur yang ada. OKUS kini, memasuki 3 fase proses pembangunannya. Fase itu, adalah fase membuka hutan jadi kebun; Fase menyemai bibit untuk ditanam; Fase Menanam. Kedua fase pertama, telah dilakukan oleh H. Muhtadin Serai (HMS), Fase ketiga kini lagi dituntaskan oleh Popo Ali Martopo (PAM)”.

***

Perawatan tanaman, adalah fase selanjutnya. Masih, jauh masa panen itu akan tiba. Onak dan duri, akan banyak menghadang dan menjadi ujian keteguhan sang petani muda. Fase perawatan, merupakan sebuah fase yang membutuhkan kesabaran, ketelatenan dan kekuatan hati untuk merawatnya agar tumbuh dengan baik dan subur. Bibit yang telah ditanam, harus ekstra diperhatikan. Dan harus mampu memberikan nutrisi yang baik. Sambil, mulai belajar mencari peluang pasar, dan sesekali meminta bantuan permodalan dari pihak lain.—menarik minat pemilik mdal (investor). Semua, harus dilakukan dengan komitmen kuat, untuk jadikan lahan dan dipenuhi tanaman yang memberikan harapan bagi generasi penerus sang petani muda. Dan, dipastikan kita memerlukan sebuah percepatan proses agar bisa memetik hasil yang baik dan berkualitas di fase panennya.

 

Mukadimah diatas, semata pilihan analogi subjektif saya. Karena, saya sedikit melihat kerja keras dari HMS, diawal-awal OKU Selatan resmi otonom dan terpisah dari induknya. Saya mengamati dan sesekali berdialog intensif dengan sang Bapak Pembangunan Pondasi OKU Selatan : HMS. Bapak yang sangat telaten menumbuhkan semangat optimisme pada anak negeri. Bayangkan, OKU Selatan, itu berangkat dari titik zero PAD minim APBD. Kita, tak pernah mimpi, hanya dalam 10 tahun dibawah kendali HMS kapal kita berhasil mengangkut PAD dan APBD jadi 1,2 T. Dan, ratusan anak negeri punya harapan baru, berpenampilan baru, berbaju baru, berkenalan dengan vakansi udara. Menarik bukan.

 

Era PAM, memang kita mengalami sedikit penurunan muatan APBD, dari 1,2 T jadi 1,1 T diawal star PAM menjadi nakhoda. Faktor penurunan ini, dampak dari dikuranginya, bantuan DAK, DAU, dan subsidi pembangunan dari pemerintah pusat. Kita, tahu era Joko Widodo, semua proses pembangunan daerah harus dilakukan secara mandiri. Ini, sesuai dengan filosofi otonomi daerah. Sehingga, penurunan ini tidak dapat disalahkan pada kendali seorang nakhoda—bupati semata, atau pemerintah pusat yang tak peduli, melainkan ini dialami semua daerah. Pilihannya, menunggu tanpa kepastian, atau kita berebut program dengan pemerintah daeeah lain, yang kini lebih agresif mengejar kemudahan brokrasi yang ditawarkan pemerintahan Joko Widodo. Faktor, kemiskinan sang petani muda, saat ini bukan harus jadi alasan, kita diam menunggu durian runtuh. Tidak, akan mungkin. Kita, harus agresif mencari pintu-pintu anggaran tambahan dan tentu lebih giat mencari sumber-sumber yang akan dapat mendongkrak PAD.

Ganti Suasana vs Ganti Irama

Seorang anak muda OKU Selatan, selalu menjadikan kata “Ganti Suasana”, sebagai tema dari  statusnya di medsos. Ganti Suasana ini, saya termasuk orang yang tidak sepakat. Mengapa?. Analogi, ganti suasana ini, sangat kental muatan pesan politis, yang mengarah pada pergantian kepemimpinan. Jika, ganti suasana, yang akan dilakukan. Saya, meyakinin, jawaban dari pertanyaannya akan sangat panjang dan multi efek. Multi efek, yang belum pasti akan jadi sebuah kebaikan juga, bagi OKU Selatan. Sya, rasa yang dibutuhkan OKU Selatan, kini bukan ganti suasana dalam konteks ganti kepemimpinan (bupati) secara menyeluruh, dengan figur baru. Saya termasuk yang lebih meyakini, keputusan gani suasana bukanlah sebuah keputusan bijak bagi OKU Selatan di fase ke-4 (periode 2021—2026). Sebab, yang dibutuhkan oleh OKU Selatan dan krusial harus dilakukan adalah ganti irama.

 

Ganti irama, maksudnya mengubah gaya kepemimpinan yang selama ini hanya bertumpuk pada kekuatan bupati semata, jadi kebersamaan dan sinergistas antar bupati—wakil—legislatif dan stakeholders pembangunan (termasuk masyarakat) OKU Selatan. Mengapa?. Saya, melihat yang dibutuhkan OKU Selatan kini, bukan mengganti kepemimpinan secara menyeluruh, melainkan menyelaraskan irama permainan antara bupati dan wakilnya.

 

Bupati ibarat sebagai figur pembuka pintu bagi masuknya program pemerintah pusat (APBN)—dan pemerintah provinsi (APBD) serta investor ke OKU Selatan. Dan, disini posisi wakil bupati, yang harus menyiapkan karper merah, langkah teknis mendapatkan supporting program dari pemerintah pusat—dan pemerintah provinsi (APBD Provinsi). Serta, yang tak kalah mutlak lagi, adalah wakil pula yang harus memberikan layanan, senyum, sapa dan uluran tangan pada ucapan welcome to OKU Selatan pada para stakeholders (investor), agar para stakeholders tertarik menanamkan modalnya di OKU Selatan. Wakil haruslah yang bisa melakukan improvisasi, kreatif dan memiliki pemahaman sebagai bagian tak terpisahkan dalam proses pembangunan sebuah daerah. Wakil yang dapat menangkap ruang-ruang teknis, untuk turunkan program strategis nasional/provinsi sebagai kemudahan birokrasi pada investor. Saya, rasa pilihan pada wakil ini, pada fase ke-4 ini, sangat penting dan strategis.

 

OKU Selatan, rasanya sangat membutuhkan wakil yang cerdas, dan melek gagasan, agar dapat membantu meringankan beban yang dipikul oleh bupati. Kita, tak butuh wakil yang kala bupati senyum—ikut senyum, kala bupati ketawa—ikut ketawa, kala bupati jalan—ikut jalan. Kita, memerlukan wakil yang dapat dan cepat menangkap, apa yang diinginkan dari sang bupati. Artinya, wakil yang mampu menterjemahkan apa yang harus dilakukan untuk mengurangi beban pikiran dan pekerjaan dari seorang bupati.

 

Dan, saya rasa ini yang dibutuhkan OKU Selatan kini. Maka, pilihan kata “ganti suasana”, akan lebih tepat bila kita ganti dengan istilah “ganti irama”. Irama yang penuh harmoni dan mengembangkan senyum bagi semua anak negeri.

 

PAM Sulit Dibendung…

Seorang kawan, pernah bilang konteks OKU Selatan, hanya Tuhan yang mampu mengalahkan kekuatan politik, kapital dan networking Samudera. Apa yang dikatakan kawan ini, mungkin terlihat angkuh dan sombong. Tetapi, saya bisa menjawab dengan sebuah analisa politik sederhana, betapa posisioning PAM dan Samudera, maih sangat kuat konteks OKU Selatan.

 

Ayo, kita awali analisa politik sederhana ini, dari posisi raihan kursi dewan di parlemen OKU Selatan. Tetapi, sebelum ke raihan kursi, kita lihat Daftar Pemilih Tetap (DPT). (sumber: KPU OKU Selatan, DPT Pilpres 2019). Kita, tahu DPT OKU Selatan, pada pemilu legislatif dan presiden 2019, sebanyak 261.868 pemilih (laki-laki 135.482 dan perempuan 126.386). DPT, itu tersebar di 1.265 TPS pada 19 kecamatan.

 

Kini, saya akan masuk pada kekuatan PAM, yang berdasarkan informasi valid (tak bisa disebutkan sumbernya), sampai September 2019, ini PAM sudah membentuk lebih dari 500 titik simpul tim pemenangan. Artinya, tiap kecamatan PAM sudah memiliki 26—27 titik tim pemenangan. Bayangkan, bila ditambah dengan kekuatan politik, kapital, dan networking bisnis, persahabtan, persaudaraan, dan kekeluargaan dari klan samudera. Selain, itu kita tak bisa, abaikan soliditas yang kuat antar suku daya, suku dimana PAM berasal selama ini. Yang, berdasarkan pengalaman, belum ada yang mampu menyaingi kesoliditas salah satu suku di OKU Selatan, yang juga jadi suku mayoritas kini.

 

Baik, sekarang kita lihat kursi di DPRD Kabupaten, saya mencatat tidak kurang dari 17 (42,5%) anggota dewan dari 40 kursi, masih ada ikatan dengan samudera. Bahkan, dari 12 parpol pemilik kursi parlemen, tidak kurang dari 7 parpol, diyakini akan solid berada digerbong PAM dan Samudera. Kursi parlemen di OKU Selatan, berdasarkan hasil pemilu 2019 lalu, dimana PD (5), PDIP (4), PPP (4),Golkar (4), Gerindra (4), PKB (3), Nasdem (3), PBB (3), PKS (3), Hanura (3),PAN (2), dan Perindo (2). Sehingga, saya memprediksikan minimal 7 parpol (6)%) bahkan bisa 9 (67,5%) parpol akan berada dibarisan  PAM (Golkar, PD, PPP, PAN, Hanura, PKB, Nasdem, PBB, Perindo). Lebih, ekstream lagi, bisa jadi 77,5 % (jika PDIP) ikut bergabung. Prediksi ini, bila diasumsikan akan muncul 2 pasangan calon, seandainya Gerindra (4) dan PKS (3) plus 1 partai lagi akan memunculkan pasangan. PAM, akan mengantongi tidak kurang dari 70 % akan bersama PAM. Ini, luar biasa menakjubkan. Sehingga, dengan pemetaan ini, saya meyakini PAM akan melenggang mulus, untuk menduduki top leader di kabupaten OKU Selatan untuk masa jabatan 2021—2026..

 

Kejutan itu Wakil

Kita, beberapa hari ini, disuguhi sebuah kebersamaan antara  PAM—Solihin (PAS Jilid 2), dalam sebuah agenda politik, mulai dari pengambilan/pengembalian formulir ke partai-partai (PDIP an PAN). Saya, memiliki sedikit analisa tanya yang agak berbeda?. Mengapa?. Karena, Samudera selama ini, sesungguhnya punya beberapa catatan rahasia terhadap salah sat figur yang nampaknya akrab dipermukaan. Jadi wajar, bila saya memiliki tanya “adakah ini bukan political games?”. Mengingat, proses pilkada ini, tahapannya masih sangat panjang. Dan, kedua orang yang muncul dimedia sosial, yang ada keinginan akan menjadi wakil, sama sama memiliki catatan. Satu, catatan yang sedikit buram kala awal langkahnya, yang satunya star dengan catatan hijau, tapi masih minim popularitas dan elektabilitas. Jadi, kita tidak bisa, melihat perkembangan sebuah politik, hanya dari sisi permukaannya saja. Sebab, berdasarkan beberapa informasi yang saya peroleh, kebersamaan ini masih belum jadi kepastian. Bukankah, dibalik permukaan ada belakang yang sulit kita tebak, dalam arena permainan politik. Apalagi, bila kita lihat peta politik di OKU Selatan, yang sangat kental hegemoni. Bisa, jadi ada permainan politik tingkat tinggi yang sedang dimainkan oleh sang sutradara. Sutradara ini, agar memastikan agar filmnya akan laris dipasaran. .

 

Terlepas dari itu, kita selaku penikmat permainan hanya bisa menunggu-nunggu, kejutan diluar arena dari partai-partai dan calon-calon lain yang kini belum muncul. Kita, pastikan arena politik OKU Selatan, masih sangat mungkin melahirkan beberapa kejutan, khususnya konteks siapa yang akan jadi wakil dari PAM. Kita, semata wait and see. Waktu, masih terlalu pagi meyakini sebuah kepastian dalam arena politik.

 

Yang harus kita pastikan, adalah bagaimana agar arena ini meriah dengan bebunyian yang tidak memekakkan telinga, melainkan kemerduan irama yang harmoni. Jika, tidak saya agak sulit membayangkan, arena politik di 2026 nanti, ketika PAM dipastikan tidak bisa maju, sedangkan tokoh sentral politik di OKU Selatan semakin termakan usia. Harapan, saya semoga beliau sehat selalu. Aamiin.

 

Penulis *

ALI WARDHANA ISHA (putra OKU Selatan asal Sunur, kini Senior Researcher PRC (Political Research Center), eLSiD, dan  Executive Director of BEST (Bandung Enterpreneur Study & Training).Kini tinggal di Bandung Jawa Barat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here