Hijrah Sufi Vs Hijrah Takfiri

Oleh : Mohamad Guntur Romli

Ada dua bentuk hijrah yang dikenal saat ini: hijrah ala kaum takfiri dan hijrah ala kaum sufi.

Lantas apa perbedaan keduanya?

Hijrah ala kaum takfiri setelah mengaku hijrah malah sibuk mencari dan menghakimi kesalahan orang lain. Cara menutupi masa lalunya yang gelap dengan menuding kegelapan di hidup orang lain. Dia ingin dianggap suci dengan memberikan label kotor orang lain.

Kata pepatah kita: dia ingin dianggap tinggi dengan menginjak orang lain.

Saya kira, ini gejala umum tren hijrah saat ini, khususnya di kawasan perkotaan, di dunia medsos, kalangan seleb yang salah asuhan. Konsep hijrah yang mereka anut berasal dari asuhan kelompok ekstrim dan radikal yang mudah mengkafirkan.

Agama bagi kelompok ini seperti teropong yang digunakan untuk mengamati, memeriksa dan mencari kesalahan orang lain.

Sedangkan hijrah ala kaum sufi adalah hijrah untuk terus memeriksa, mencari, mengamati dan berhati-hati pada kesalahan diri sendiri. Hal ini merupakan implementasi dari Sabda Nabi Saw: thuba liman syaghalahu aybuhu an ‘uyubin nas (Beruntunglah bagi orang yang disibukkan dengan mewaspadai keburukannya daripada disebutkan mencari keburukan orang lain).

Konsep ini juga dikenal dengan istilah muhasabah (introspeksi diri), yang berasal ucapan Sayyidina Umar Ra: hasibu amfusakum qabla antuhasabu (evaluasi dirimu sebelum nanti kamu akan dievaluasi).

Dalam dunia sufi, hijrah itu diumpamakan seperti pendakian panjang yang melewati anak-anak tangga yang disebut “maqam” yang setiap tahapan ini akan melahirkan rasa dan kondisi spiritual yang disebut “ahwal”.

Anak tanggap pertama (maqam) adalah taubat. Setelah seseorang bertaubat bukan langsung merasa hebat dan menuding orang lain bejat, tapi dia terus mengurusi dirinya sendiri, agar naik ke anak-anak tangga selanjutnya: zuhud, sabar, syukur, dst Di sepanjang pendakian anak-anak tangga itu yang bersifat usaha manusiawi, Allah Swt akan menganugerahkan rasa spiritual yang disebut “ahwal”.

Artinya alih-alih sibuk mencari keburukan orang lain, setiap kondisi dan rasa spiritual itu terus menuntut seseorang untuk terus mendaki sehingga mengalami “mi’raj spiritual”.

Bagi kalangan ini agama bukan teropong tapi menjadi cermin yang memungkinkan kita untuk terus memeriksa, mengamati, mencari dan menyempurnakan diri kita sendiri.

Wallahu A’lam, Mohamad Guntur Romli [gunlomi.com/Red]

Media Garuda | Tajam, Inspiratif & Terpercaya

Add Friend

Ayo Komentar

Artikel Lainnya :

  1. Dipusatkan di Semarang, Presiden Serahkan 705.194 Sertifikat Tanah untuk Masyarakat dari 5 Provinsi
  2. Ridwan Kamil Hormati sikap PDI P yang urung mendukungnya
  3. 373 Trayek Angkutan Umum Di Jakarta Akan Direstrukturisasi
  4. Driver Grab Demo Soal Insentif, Ini Kata Perwakilannya
  5. Skill BPBD Diminta Penuhi Standar Internasional
<