KEN : “Waspada Ajakan Kaum Radikalis, Pindah dari Negara Kafir ke Negara Islam,”

Jangan mudah percaya dengan tawaran hijrah kelompok radikalis, Ujar Ken Setiawan, Pendiri NII crisis Center yang juga merupakan mantan pelaku radikalis.

Biasanya para radikalisme membuat pertanyaan kepada calon korban tentang hal yang ideal, misalnya bagus nama ciptaan manusia dengan ciptaan Allah, bagus mana Pancasila dengan Alquran, bagus nama negara kafir dengan negara Islam, bagus mana Jokowi dengan Nabi Muhamad dll, intinya pertanyaan yang tidak ada jawaban lain, seperti halnya warna banyak tapi tidak diberi kesempatan untuk memilih warna lain misal abu abu, yang ada hanya antara hitam dam putih, benar atau salah, beriman atau kafir yang akhirnya banyak yang tidak kritis hingga terjebak dan memutuskan bergabung dalam kelompok radikal.

Menurut Ken, Kelompok radikalis sengaja menggunakan istilah hijrah untuk menipu masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim. Padahal sesungguhnya mengiring jamaahnya untuk hijrah atau pindah negara dari negara NKRI yang dianggap mereka sebagai negara kafir menuju negera Islam/ khilafah Islam.

Bahkan ada proses perpindahan kewarganegaraan misalnya, saya nama Ken Setiawan hari ini menanggalkan kewarganegaraan Republik Indonesia selanjutnya mohon diterima sebagai warga Negara Islam Indonesia. Biasanya proses hijrah ini di lakukan bersama sama sekitar 40 orang laki laki dan perempuan dalam satu sesi.

Mereka menganggap NKRI kafir karena menurutnya Indonesia tidak menggunakan syariat Islam dalam memutuskan perkara, justru menurutnya NKRI negara sekuler yang mengadopsi system kapitalisme, liberalisme,dan demokrasi, dan bahkan ada yg mengadopsi system sosialisme menurut mereka.

Jadi menurut radikalis jika suatu perkara yg wajib (Syariat Islam) tdk bisa terlaksana di Indonesia maka suatu perkara yg baru (khilafah) menjadi wajib ditegakkan oleh umat islam, agar perkara yg wajib ( negara Islam/ khilafah Islam) bisa terlaksana/dikerjakan dgn sempurna di Indonesia.

Mereka para radikalis sangat yakin bahwa konsep Negara Islam/Khilafah yang mereka perjuangan akan mampu menyatukan semua negeri di dunia menjadi satu wilayah saja, dan menerapkan syariah islam secara kaffah diseluruh dunia agar tdk ada lagi ketimpangan sosial, hingga keadilan itu betul betul tegak dan merata, serta kesejahteraan bagi seluruh umat di dunia. Walaupun realitasnya banyak negara yang mengusung khilafah luluh lantak hancur lebur karena konflik berkepanjangan.

Ken Setiawan berharap masyarakat waspada, jangan langsung terpengaruh bila mendengar istilah hijrah dan khilafah. Karena kini sedang trend dikalangan milenial dengan istilah tersebut, bahkan tokoh publik sampai artis pun banyak yang tiba tiba menggunakan istilah hijrah tapi tingkah laku mereka menjadi aneh karena tiba tiba menjadi pengkritik pemerintah, menyalahkan demokrasi dan anti terhadap pancasila karena dianggap taghut/ berhala.

Bila di dekati oleh orang dengan ciri ciri tersebut diharapkan untuk beranu menolak karena bila coba coba dan kalah dalam argumantasi maka kita bisa terjebak dan terpengaruh yang akhirnya kemungkinan bisa terekrut oleh mereka. Bila di tolak masih ngejar ngejar, laporkan saja ke aparat terdekat agar di tangani sesuai hukum yang berlaku.

Ken Setiawan berharap pemerintah lewat kementrian dan lembaga juga dinas terkait di daerah sinergi dan aktif untuk mengadakan kegiatan pencegahan terhadap bahaya radikalisme sing sifatnya berkelanjutan, bukan hanya yang sifatnya seremonial saja.

Pendekatan sesuai dengan segmentasi masyararakat, misal kepada komunitas kearifan lokal, misalnya komunitas film/fotografi, komunitas olahraga, seni, pecinta alam dan lain sebagainya dimana ketika ada event yang sesuai komunitasnya biasanya mereka mau berkumpul dan disaat berkumpul tersebut kita bisa menyampaikan pesan pesan kebangsaan.

Diharapkan juga bukan hanya pendekatan saja kepada komunitas tersebut tapi juga memfasilitasi dengan kompetisi sesuai bakat masing masing komunitas sebagai reward atas yang mereka lakukan selama ini, jadi kegiatan pencegahan bahaya radikalisme menjadi menarik dan asyik dengan tidak mengeluarjan anggaran yang tidak terlalu banyak, bahkan pesan pesan kebangsaan bisa juga di sisipkan pada acara acara resmi yang memang sudah di rencaakan dengan program lain, bahwa kita ini terancam oleh berbagai konflik di masyarakat, salah satuny adalah masalah radikalisme, masyaraka diharapkan waspada, karena bila tidak waspada maka diri, keluarga dan orang sekitar bisa saja terpapar paham radikalisme.

Bagi Ken, khilafah adalah bonus dari Allah bila kita sudah menjadikan agama dalam ruang terkecil dalam keluarga kita, misalnya aplikasi kebersihan sebagian dari iman di aplikasi dengan tidak buang sampah sembarangan, tertib lalu lintas, antri dll sebagianya, jadi khilafah bukan untuk di teriakan dalam aksi demo agar ditegakam dalam wujud negara Islam/ khilafah Islam.

Pancasila menurut Ken bukanlah taghut seperti yang di ajarkan oleh kelompok radikalisme, tapi Pancasila sama seperti Piagam Madinah yang merupakan kesepakatan bersama dalam menjaga persatuan dan kesatuan antar umat beragama dalam bingkai NKRI yang Bhineka Tunggal Ika, berbeda beda tetapi tetap bersatu.

NII Crisis Center membuka ruang diskusi terkait masalah radikalisme di Indonesia di nomer whatsapp 0898-5151-228. Tutup Ken. (Red)

Media Garuda | Tajam, Inspiratif & Terpercaya

Add Friend

Ayo Komentar

Artikel Lainnya :

  1. Air Bersih Dari Rakyat Untuk Rakyat
  2. Demiz, Hasil Karya Pemberitaan Bisa Tentukan Nasib Seseorang
  3. Jabar Raih Anugerah Tertinggi Parahita Ekapraya 2016
  4. Menlu AS Mendadak Temui Menlu Retno Marsudi
  5. Rektor Perguruan Tinggi Se-Sumbar dan Kepri Deklarasi Anti Radikalisme
<