Sinergi ?. Kepemimpinan Milenial — Tua Holistik

Kini, tak terasa sudah diujung tahun kepemimpinan pasangan muda Popo Ali M—Solihien Abuasir, jadi nakhoda bagi pemerintahan di bumi serasan seandanan—OKU Selatan. Pada, pelantikan April 2016 lalu, banyak harapan dicurahkan sepenuh hati oleh 325 ribu lebih jiwa yang menghuni kabupaten muda—OKU Selatan.

Waktu. Seiring perjalanan waktu, harapan itu ada yang telah nyata dirasakan masyarakat. Ada juga yang tersisa, belum tunai tuntas mewujudkan visi pemerintahannya. Banyak faktor, jadi penyebabnya. Sedikit, nampak dipermukaan, adalah lemahnya jejaring dan kemampuan lobby-lobby politik dari pasangannya. Sehingga, tidak heran bila, masyarakat benar-benar melihat pasangan bupati, hanya hiasan konstitusional, yang hadir dan benar jadi pengganti bupati bila bupati tidak bisa hadir. Sudah, 4,5 tshun, masyarakat belum melihat sesuatu yang brilian, baik ide, gagasan, atau kinerja yang menonjol dari wakil.

Atau lebih, tepat dikatakan, seakan-akan harmonis, tidak mampu menyesuaikan diri, dan atau tidak sinkron antara kemampuan managerial kepemimpinan bupati dengan wakilnya. Tidak, heran bila, masyarakat melihat, bupati seakan kelelahan sendiri– menuntaskan tugas pengabdiannya, yang tersisa. Disisi, lain wakilnya seakan tidak bisa mengikuti irama politik pembangunan yang dilakukan bupati. Faktor usia?. Faktor staffing?. Atau ada faktor lain. Hanya, mereka yang tahu. Kita, pengamat dan analis, tentu tidak akan tahu apa sesungguhnya terjadi.

Masyarakat, pasti bisa menilai, karena masyarakat yang merasakan sendirinya. Kita, diluar daerah, hanya bisa menganalisa dan melihat dari kejauhan, dengan teropong yang juga sudah usang. Walau, masih dapat melihat dengan jelas, bila dikaitkan dengan referensi ilmiah. Dimana, bupati telah menunjukkan jati diri kinerja kepemimpinannya, sebagai kaum muda, yang penuh gairah, agresif, visioner, merakyat, membumi,  turba, idealis, dan tentu jauh memandang.

Pertanyaannya “ siapa layak jadi layak?”.

Pertanyaan tersebut, hanya dapat dijawab dengan berbagai pendekatan kepemimpinan, dan kemampuan memerankan diri sebagai penyeimbang konsepsi kepemimpinan dari bupati. Dan, untuk mampu memerankan itu, maka pendamping bupati, haruslah lebih mempunyai kemampuan nalar kepemimpinan lebih cepat tanggap. Kecekatan wakil menganalisa arah kepemimpinan dari bupati, tentu akan jadi modal dasar membangun sinkronisasi managerial. Bahasa, sederhana bupati, mengetuk pintu, wakil menindaklajutinya dengan pendekatan dan lobby-lobby teknis. Bupati, membuka memutar anak kunci jejaring, wakil memutarnya agar terbuka. Dan, akhirnya pemerintahan bisa masuk, masyarakat bisa memetik hasilnya. Atau, dengan kata lain, bupati meminta, wakil menariknya, masyarakat menikmati kucuran anggaran dari pusat dan investor dengan liukan indah. Seni pembangunan dan kucuran anggaran melimpah, akhirnya masyarakat makmur.

Layak. Kata, layak disini, bukan tanpa dasar menjadikannya pilihan kata yang tepat untuk menggambarkan proses pencarian kepemimpinan ideal bagi OKU Selatan 2020—2025. Mengapa, karena pada era 4.0, kepemimpinan sebuah daerah, haruslah memiliki kemampuan holistik. Artinya, kemimpinan holistik adalah suatu kemampuan dominan dari setiap kepemimpinan dalam memandang sebuah permasalahan, sebagai landasan dasar kepemimpinannya. Atau, tepatnya antara bupati dan wakil, haruslah mampu mengharmonikan irama tabuhan kepemimpnan agar ada percepatan. Istilah, lain seorang pemimpin holistik tidak hanya bisa memandang dirinya sebagai “pemimpin”, namun memiliki kedalaman pemahaman akan siapa dan apa yang dipimpinnya.

Pemahaman ini dalam konteks pemerintahan OKU Selatan, “habitat” atau “ruang bergerak?”. Siapapun dia?. Bupatikah atau wakilnya kah. Jika, bupatinya sudah berjalan dengan koridor percepatan, maka wakil tidak bisa hanya jadi pendamping yang ikut senyum. Bupati, senyum wakil ikut senyum. Bupati, menyampaikan gagasan pembangunan, wakil hanya diam  manggut-manggut. Era 4.0, kepemimpinan haruslah cepat tanggap. Tanggap, bila bupati ingin percepatan, wakil juga harus cepat menangkap peluang. Jika, bupati membuka pintu, wakil harus mampu memperkuat lobby-lobby politik, untuk mengakses dan menariknya ke daerah. Irama permainan inilah yang harus mampu diseimbangkan oleh wakilnya.

Sebab kepemimpinan holistik itu mencakup tiga faktor utama dan sinkron : pemimin, yang dipimpin, dan lingkungan. Ketiga, ini terangkum dalam prosesi yang melibatkan semua pihak dalam suatu transformasi secara komprehensif. Ketiganya, menyatu dalam dimensi fisik, psikis,networking, dan spiritual. Kepemimpinan holistik, selalu melandasi setiap aktivitas kepemimpinannya dalam menyelesaikan tugas, pengambulan keputusan, dan berkomunikasi dengan seluruh elemen.

Kepemimpinan holistik, harus ada keseimbangan antara kepemimpinan teknis (hard skill). Dan, kepemimpinan holistik yang berfokus kepada harmonisasi dan keseimbangan kehidupan (soft skill). Jika, bupati berbicara konsepsi pembangunan, wakil harus mampu menterjemahkannya ketataran teknis, agar mudah diimplementasikannoleh staffing dibawahnya (baca: dinas/SKPD). Mengapa itu mutlak?.

Sebab, kepemimpinan holistik sangat dipengaruhi oleh kualitas kerjasama anatara si top leader (bupati) dengan co leader (wakil), yang dipadukan untuk yang dipimpin, serta habitat yang akan dibangun. Bagaimana itu bisa diwujudkan?. Menurut, penulis ada empat domian yang masing-masing berperan secara sinergis untuk percepatan itu, yakni analitis, konseptual, emosional, dan spiritual.

Itulah, mengapa seorang pemimpin, harus memiliki kemampuan: memimpin diri sendiri, maksudnya seorang pemimpin selalu mengawali langkah kepemimpinannya dari dalam dirinya sendiri. Tidak ada ruang untuk menyalahkan orang lain—bawahan, dan selalu siap menerima diri untuk “disalahkan” dan “disanjung”. Bila, disalahkan tidak merasa down melainkan memotivasi diri untuk perbaikan. Jika disanjung, tidak merasa angkuh.

Pemimpin, juga harus mampu mempertajam kemampuan kepemimpinannya sejak dalam pemikiran. Artinya, tough leadership, harus selalu diasah dengan menolah pikiran kritis, semua diawali dengan mengurai struktur dan konsep jelas dalam aktivitas. Dan, mampu memformulanisasi makna dan tujuan kepemimpinan kepada yang dipimpin, serta dijewantahkan pada masyarakat yang dipimpinnya.

Selain itu, kepemimpinan holistik, tentu juga piawai mentransformasi kepempimpinan bagi dirinya dan orang lain. Karena, dengan kemampuan ini, maka target dan tujuan akan mudah dicapai. Kemampuan memimpin diri sendiri, ketajaman pikiran, dan kepiawai mentransformasi, dan diyakini akan menemukan kepemimpinan daerah yang ideal. Sehingga, pada akhirnya akan sangat mudah mengenali habitat (baca:masyarakat) yang sedang dipimpinnya, kebutuhan dan harapan dari masyarakatnya, dari sebuah proses kepemimpinannya tersebut. Kemampuan pemimpin mengenali habitatnya, dipastikan akan lebih mampu merumuskan program kerja pembangunannya secara konseptual, sistematis, dan sesuai konteksnya.

Mengingat, kata kunci dari kepemimpinan holistik, adalah spritualitas dengan proyeksi dari dirinya yang multidimensional; mampu menghubungkan aspek manusiawi dan spritualitas, untuk sebuah kepemimpinan daerah yang paripurna. Keparipurnaan, kemimpinan lokal, tentu akan sangat mudah diwujudkan. Apabila, ada sinkronisasi kinerja dan peran antara top leader (bupati) dan second leader (wakil).

Jadi, pilihani ideal untuk kepemimpinan OKU Selatan 5 tahun mendatang, adanya sinergisitas antara kaum muda—kaum tua. Mengapa, sinergisitas ini, sangat penting?. Kita, tahu bahwa kepemimpinan kaum muda biasanya masih lemah dalam menjaga emosional dan menghadapi tekanan. Selain itu, bupati yang berasal dari kaum muda, kental dengan idealisme diri, progresif, militan, kepedulian sosial tinggi, fleksibel mengikuti perkembangan zaman, peka terhadap kondisi sekitarnya, tidak kaku dan cenderung grusa-grusu. Dan, belum memiliki jejaring secara luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Kaum tua dikenal dengan kebijaksanaan, lamban, tidak peka, teliti, agak kaku, kesabaran, serta kebijaksanaan, dan sulit mengikuti perkembangan zaman. Kekuatan utama, dari kaum tua sesungguhnya adalah dikemampuannya, memeneg manajemen, wawasan kepemimpinan yang luas, dan jejaringnya luas sampai tingkat nasional dan internasional, serta dapat dipastikan unggul dalam melakukan lobby-lobby melalui jejaringnya untuk mengakses program pemerintah pusat, guna dibawa ke pemerintahan daerah—kabupaten. Selain, itu kepemimpinan kaum tua telah berpengalaman menghadang segala bentuk tekanan emosional dirinya.

Kita tahu, OKU Selatan, APBD dan PAD OKU Selatan, masih sangat memprihatinkan. APBD dan PAD, tak pernah beranjak dari kisaan 1,1 s.d 1,2 T saja. Ini, angka yang sangat minim untuk sebuah daerah yang kaya akan potensi. Sayang potensi itu, masih tertudr lelap karena belum bisa dioptimalkan. Padahal, bila ingin ada percepatan dan kemampuan meningkatkan PAD daerah, modal utamanya adalah lahirnya semangat sinergisitas antara kaum muda dan kaum tua.

Karena itu, pemimpin OKU Selatan mendatang minimal harus memenuhi tiga kualifikasi, bila merujuk pada pendapat Bung Hatta (mantan Wapres), Hal ini, penting untuk diingat oleh masyarakat OKU Selatan, agar tidak menyesal dikemudian harinya. Oleh karena itulah, maka bupati OKU Selatan mendatang harus seorang tokoh yang bisa menggerakkan demokrasi dan mampu membawa masyarakat bersorak sorai dalam kesejahteraan.

Pertanyaan penutup dari artikel ini “Siapa sosok itu?”. Adalah, tugas kita bersama memantaunya.

–**–

Ali Wardhana Isha (Executive Director Bandung enterpreneur Study & Training (BEST), Researcher & Counsulting; Secretary Director of Kami Indonesia Insitut,  Sekretaris iHakkie. Penulis, putra asli sunur—OKU Selatan, kini berdomisili di Bandung.

 

 

Media Garuda | Tajam, Inspiratif & Terpercaya

Redaksi

Portal Berita Online MediaGaruda.Co.Id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *