Gubernur DKI Ikut Terlibat Pengerahan Massa Demo di MK dengan Undang Ceramah Ustad HTI ?

Oleh : Niha Alif

Ini selebaran undangan pemprov DKI untuk ceramah Felix Siauw :

Akhir-akhir ini pemerintah beserta aparat dibuat siaga dengan massa pendukung Prabowo yang akan menggelar aksi demo di depan MK. Aksi berjudul halal bi halal 266 tersebut bisa diprediksi berakhir kerusuhan seperti tanggal 21 22 Mei yang lalu jika keputusan akhir MK tak menguntungkan mereka. Makanya pihak kepolisian sudah mewanti-wanti agar tak ada aksi demo di depan MK.

Rupanya, tindakan aparat keamanan bertolak belakang dengan pemerintah daerah yang dipimpin Anies Baswedan. Setelah membuka peluang kerusuhan 21-22 Mei dengan selebaran pengobatan gratis, kini Anies kembali membuka pintu ibukota dengan mengundang ceramah ustad radikal. Felix Siauw yang memiliki banyak pengikut di media sosial akan mendatangkan banyak massa masuk ke Jakarta.

Keterlibatan Anies bisa terlihat dengan selebaran undangan ceramah Felix Siauw di masjid Balaikota yang bertepatan dengan halal bi halal di MK pada 26 juni. Aparat keamanan mestinya cermat melihat kebijakan Anies yang seakan samar tapi sebenarnya membuka peluang massa masuk ke Ibukota. Apalagi ustad yang diundang adalah tokoh HTI.

Langkah Anies untuk mengadakan pengajian yang bertepatan dengan demo di MK jelas merugikan aparat keamanan yang harusnya menyaring orang luar agar jangan masuk ke Jakarta. Saya sendiri sudah curiga sejak ada kebijakan penghapusan operasi yustisi yang berakibat melonjaknya warga pendatang ke Ibukota paska lebaran.

Sebagai Gubernur ibukota yang harusnya melindungi kota dan warganya dari dampak kerusuhan demo, Anies malah bertindak sebaliknya, yakni memfasilitasi. Dulu saya pernah membuat artikel keterlibatan Anies dalam perancanaan demo berujung rusuh tanggal 21 22 Mei. Dan karena itu saya mendapat bulyyan yang TSM dari para kampret. Sekarang kejadian lagi, mirip selebaran pengobatan gratis. Anies kembali mengundang massa ke Jakarta. Di lain sisi, mungkin ini juga menjadi modalnya untuk maju 5 tahun mendatang.

Saya acungkan 10 jempol kepada wan abud atas keberaniannya mengangkangi pemerintah Jokowi. Dari segudang banyak permasalahan DKI yang belum tuntas, Anies sengaja merangkul kaum radikal untuk amunisinya maju di 2024. Karena hingga saat ini memang kelompok radikal yang masih eksis memberi dukungan padanya seperti HTI dan FPI.

Jakarta 58 sudah terpecah dukungannya kepada Anies karena janjinya yang tidak konsisten. Para nelayan dan WALHI sudah meninggalkan Anies lantaran janji penghentian reklamasi nyatanya jalan terus. Rupanya Anies mati-matian mempertahankan dukungan kelompok radikal dengan beragam cara.

Setelah kemarin sempat beredar selebaran undangan untuk muslimah HTI yang buru-buru diralat karena viral di media sosial, kini beredar selebaran baru. Tertulis Felix Siauw akan mengisi ceramah di Masjid Balaikota atas undangan Pemprov DKI. Benar-benar keterlaluan wan abud, sudah tahu HTI dilarang pemerintah kok malah ngundang ustadnya. Anies ini benar-benar duri dalam daging negara.

Kita semua tahu orang seperti apa Felix Siauw, sebelas dua belas dengan jonru yang senang menebar kebencian lewat media sosialnya terhadap pemerintah. Keduanya juga sama-sama mualaf yang sok-sokan ngomongin agama. Semua dalil kitab suci dia telan mentah-mentah. Pantas semua jamaahnya baik di medsos maupun dunia nyata jadi radikal. Mirip-mirip Rahmat Baequni yang kemarin terciduk.

Felix Siauw sempat menuding pemerintah Jokowi anti islam karena dianggap melindungi Ahok dalam kasus penistaan agama. Dia menuding Jokowi dan aparat berlaku tak adil dengan pendemo yang dituduh makar. Sementara membiarkan kasus lain seperti pembakaran masjid. Padahal kita semua tahu kalau kasus Ahok lebih kental suasana politisnya dibanding agama.

Melalui media sosialnya juga Felix Siauw sering mendorong pembentukan khilafah islam yang dianggap solusi dari segala hal. Entah solusi dari mana. Apakah dengan khilafah dengan serta merta utang negara lunas, negara jadi maju, tindak kriminal hilang dan semua orang jadi rajin ibadah. Tidak ada jaminan dan terlalu mengada-ada. Dan yang paling penting adalah sistem khilafah ini jelas-jelas bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.

Sebelumnya juga marak di masyarakat pengusiran-pengusiran ustad HTI oleh warga Nahdiyin dan masyarakat non muslim karena cermahnya sering dianggap memprovokasi ketimbang menyejukkan. Bahkan sempat kejadian di Bali, masyarakat setempat menyaratkan mencium sang saka merah putih untuk membuktikan kecintaan terhadap NKRI.

Jadi, Anies dan para pendukungnya yang kebanyakan radikal itu sekarang ikut membuat gaduh pemerintah dengan menyatukan aksi massa depan MK dan pengajian di Balaikota. Pemerintah dan aparat wajib mewaspadai gerakan orang ini. Baik secara langsung atau tidak, keterlibatan atau keberpihakan itu ada.

Begitulah pemirsah. (Seword.Com/Red)

Media Garuda | Tajam, Inspiratif & Terpercaya

Add Friend

Ayo Komentar

Artikel Lainnya :

  1. Tanaman Mangrove di Cirebon Mati Karena Sampah
  2. Periode 1 Januari-31 Maret, Pemerintah Pertahankan Tarif Listrik dan Harga BBM
  3. PKB Serahkan Surat Rekomendasi Kepada Pasangan Ridwan Kamil – Uu
  4. Presiden Jokowi Kembali Minta K/L Geser Program Rutinitas ke Program Yang Bisa Dirasakan Rakyat
  5. Di Depan Pemimpin ASEAN, Presiden Jokowi Minta Anak Muda Bisa Bekerja Cepat dan Berinovasi
<