Bagaimana Masyarakat, Menyikapi  Hasil Quick Count

Oleh : Budi Marpaung

Sejumlah lembaga survey mengumumkan hasil quick count Pilpres 2019. Hasilnya menunjukkan bahwa seluruh lembaga survey menempatkan Jokowi-Ma’ruf Amin menjadi pemenang dengan kisaran suara antara 52 hingga 56 persen. Setiap lembaga survey menjelaskan metode survey, mencakup penentuan jumlah dan lokasi TPS yang menjadi sampel, di samping kemungkinan kesalahan dalam mengambil kesimpulan yang dinyatakan dalam ukuran margin of error. Bagaimana kita memaknai dan menyikapi hasil survey ini? Bisakah dipercaya?

Sesuai namanya, quick count adalah metode hitung cepat, yaitu tindakan yang dilakukan untuk memperoleh hasil perhitungan dalam waktu secepat-cepatnya. Jadi dalam hal ini ada kebutuhan untuk mendapatkan hasil perhitungan secepatnya; bila perlu dalam hitungan beberapa detik sudah keluar hasilnya. Bila tidak bisa sajikan hasil dalam waktu cepat, maka bukan quick count namanya.

Salah satu manfaat terbesar ilmu statistika dalam kehidupan kita adalah kemampuannya membuat kesimpulan yang terpercaya tentang populasi berdasarkan sampel yang dipilih. Sifat-sifat populasi diyakini sama dengan sifat-sifat sampel; sehingga mengetahui sifat sampel berarti mengetahui sifat populasi. Daripada capek dan menghabiskan waktu begitu banyak untuk memeriksa seluruh anggota populasi yang begitu banyak, ilmu statistika menawarkan cukup periksa sampel saja, dan dapatkan kesimpulan yang akurat tentang populasinya. Canggih banget memang ilmu statistika ini, tepatnya statistika inferensial.

Namun demikian tetap ada kemungkinan kesalahan mengambil kesimpulan bila menggunakan sampel, yang dinyatakan dalam nilai margin of error atau galat. Tidak apa-apa ada kesalahan asal nilainya kecil, di bawah 5 persen masih dianggap wajar. Dalam hal ini berlaku hukum: lebih baik kesimpulan salah dengan kemungkinan kejadian 5% karena pakai sampel, daripada periksa populasi namun harus habiskan energi dan waktu banyak (hingga 1000 tahun misalnya).

Pemeriksaan darah di laboratorium adalah contoh sederhana tentang hal ini. Seluruh darah dalam tubuh kita adalah populasi, dan darah kita yang diambil beberapa cc menjadi sampel. Darah dalam beberapa cc yang diambil tadi diperiksa di laboratorium dan hasilnya digunakan dokter untuk memberi pendapat dan menentukan tindakan. Idealnya semua darah kita diambil dan diperiksa, supaya hasilnya akurat. Tapi apa jadinya kalau semua darah pasien diambil dan diperiksa? Tentu pasien bukan sembuh, malah sebaliknya nyawanya hilang karena tindakan pengambilan darah yang jumlahnya tidak tanggung-tanggung. Jadi dalam hal ini dokter percaya bahwa sifat darah dalam beberapa cc yang diperiksa di laboratorium sama dengan sifat seluruh darah dalam tubuh pasien.

Dalam hal quick count, lembaga survey memutuskan menggunakan sampel, sekitar 2.000 hingga 6.000 TPS dari sebanyak 800.000 an TPS di seluruh Indonesia. Mereka memilihnya secara acak, sehingga hasil dari sampel TPS tadi bisa secara akurat menggambarkan sifat dari seluruh TPS. Mereka mengatur jumlah TPS di tiap provinsi, kabupaten, kota, kecamatan, dan desa, termasuk lokasi TPS yang menjadi sampel. Mereka sudah mengatur sedemikian rupa sehingga hasil seluruh sampel TPS akan sama dengan hasil TPS seluruh Indonesia setelah dihitung secara manual oleh KPU. Kalaupun berbeda, nilainya tidak terlalu jauh, mungkin sekitar 0.5 hingga 1.5 persen saja.

Membaca hasil quick count dari seluruh lembaga survey yang menempatkan Jokowi-Ma,ruf Amin unggul dengan suara 52 hingga 56 persen pada nilai margin of error dalam kisaran 0.5 hingga 1.5 persen menunjukkan bahwa tidak ada yang perlu diragukan lagi tentang pemenang Pilpres 2019. Jokowi-Ma’ruf Amin akan mengantongi minimal 52 persen suara, yang mengantarkan paslon 01 jadi pemenang Pilpres 2019. Namun hasil ini kita simpan saja di dalam hati, sambil menunggu hasil resmi KPU. Bila nanti ternyata hasilnya hanya beda sedikit, maka kita patut bersyukur dengan ilmu statistika yang sangat berguna bagi kehidupan kita.

Bagi yang menyukai hasil quick count ini tidak perlu meluapkan kegembiraan secara berlebihan, sebaiknya tetap mengawal proses perhitungan suara hingga waktunya diumumkan KPU. Bagi yang tidak menyukai hasil quick count ini, karena berharap hasil yang berbeda, tidak perlu berkecil hati, sebab sesungguhnya kita semua telah menang, karena mampu menghadirkan demokrasi yang bermartabat di negeri ini. Tidak ada lagi nomor 1 atau nomor 2, waktunya nomor 3, yaitu persatuan Indonesia. [}

(MG 06)

Media Garuda | Tajam, Inspiratif & Terpercaya

Add Friend

Ayo Komentar

Artikel Lainnya :

  1. Khofifah : “Mas Imin Jangan Galau lah”
  2. DPR Sahkan 17 Rancangan Undang-undang
  3. Meningkatnya Konflik Masjidilaqsa, Korban Berjatuhan
  4. Aher Akui Satu Janji Kampanye Belum Terpenuhi
  5. Jika Anda Ditawari Jadi Menteri
<