Manuver SPN, Bakal Diikuti Mayoritas Massa Buruh Merapat Ke Paslon 01 Jokowi-Amin

Oleh : PRATIGTO.

MANUVER Pimpinan Pusat Serikat Pekerja Nasional (SPN) pimpinan Djoko Heriyono keluar dari koalisi kesepakatan dengan Konfederasi Pekerja Seluruh Indonesia (KSPI) Pimpinan Presiden KSPI Said Iqbal yang sebelumnya mendukung Paslon Capres 02 Prabowo-Sandi (PADI), dan beralih mendukung Paslon 01 Jokowi-Amin, dengan cara melakukan deklarasi terbuka di Posko Cemara Menteng Jakarta Pusat pada Kamis tanggal 4 April 2019 kemarin.

Diperkirakan bakal berdampak positif dengan beduyun-duyunnya puluhan juta masa buruh dari berbagai Serikat Pekerja (SP) dan Serikat Buruh (SB) dari seluruh Indonesia, untuk merapatkan barisan ke Paslon Capres 01 Jokowi-Amin.

Berbagai alasan bisa menjadi motivasi hal itu bisa terjadi, diantaranya,

Pertama, alasannya karena massa buruh yang mendukung Paslon 02 Prabowo-Sandi (PADI) itu, umumnya hanya disuarakan para elit SP, SB tertentu dan hal itu, tidak mewakili suara mayoritas buruh dari seluruh Indonesia. Disamping itu, organ SP-SB yang mendukung Paslon 2 PADI itu, jumlah anggotanya tidak besar dan massa buruh anggotanya juga tidak merata di seluruh Indonesia.

Mayoritas mereka hanya bekerja diwilayah industri Bekasi dan Batam saja. Diluar dua wilayah itu massa SP pendukung Paslon 02 PADI itu, anggotanya kalaupun ada, jumlahnya minim dan tidak siqnifikan.

Kedua, alasannya karena hasil survey terkini yang diumumkan dari berbagai lembaga survey hari-hari ini, dan diberitakan oleh berbagai media. Ternyata mayoritas lembaga survay menempatkan Paslon 01 Jokowi-Amin, selalu berada diatas 15persen sampai 20 persen diatas suara Paslon 02 PADI.

Hal itu juga dapat berdampak positif dan ikut mempengaruhi, mayoritas massa buruh yang jumlahnya puluhan juta itu, untuk merapatkan barisan ke Paslon 01 Jokowi-Amin.

Artinya pengumuman hasil survey soal unggulnya Paslon 01 Jokowi-Amin itu , juga menjadi alasan lain, kenapa puluhan juta suara buruh di seluruh Indonesia itu merapatkan barisan kepada Paslon 01 Jokowi-Amin.

Ke-tiga, alasannya karena mayoritas buruh di seluruh Indonesia, yang tergabung dalam wadah berbagai bendera SP, SB ataupun buruh yang tidak bergabung itu. Umumnya adalah masyarakat awam dan bukan anggota Partai Politik. Sehingga mereka itu cara berpikirnya sangat sederhana, yaitu bagaimana hasil Pemilu Pilpres 2019 ini, dapat menciptkakan suasana tempat kerjanya yang nyaman, dan proses produksi barang dan jasanya dipabriknya juga memiliki kuantitas produksi maksimal dan lancar.

Sehingga perusahaan mampu membayar upah para buruh, berapapun nominal UKM atau UMSK-nya, dan akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan kehidupan buruh dan keluarganya.

Ke-empat, alasannya, karena rezim Paslon 01, Jokowi-Amin adalah dari unsur sipil dan sangat Islami, dengan keberadaan KH.Ma’ruf Amin sebagai Wakil Presiden yang mantan Rois-Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Keberadaan KH Ma’ruf Amin itu, diharapkan oleh para buruh, agar dapat mampu menciptakan pemerintahan yang yang islami yang madani, dengan menjunjung tinggi konsep civil society, juga berdasarkan pada konsep negara-kota Madinah yang dibangun Nabi Muhammad SAW pada tahun 622 M.

Karena para buruh umumnya sampai saat ini, masih trauma dengan rezim orde baru yang otoriter dengan pendekatan militer, selama berkuasa 32 tahun.

Disamping itu, mayoritas buruh-pun sesungguhnya mereka tidak suka berada pada posisi oposan atau berada pada barisan oposisi atau berada diluar pemerintah.

Mayoritas buruh diseluruh Indonesia itu, umumnya ingin selalu bersama pemerintahan, dan harapan buruh itu tercermin dari Paslon 01, Jokowi-Amin.

Nilai tambah Capres 01, Jokowi yang bergelar insinyur dari UGM Jogjakarta-pun, menjadi daya tarik tersendiri bagi kalangan buruh, agar dapat sebagai pemimpin yang aspiratif. Karena gelar insinyur Capres 01 Jokowi itu, diharapkan pola pikirnya oleh para buruh minimal mengikuti sikap Proklamator Republik Indonesia Insinyur (Ir) Soekarno atau Bung Karno yang juga sama-sama bergelar Insinyur dari ITB Bandung. Dimana, sang Proklamator dalam hidupnya, sangat peka dan melindungi nasib buruh dan seluruh rakyat kecil dan miskin diseluruh Indonesia.

Ke-lima, alasannya, bahwa para elit buruh yang saat mendukung Paslon 02 PADI- pun, umumnya motifnya mendukung bukan karena ikatan faktor ideologi. Tetapi mereka itu, karena kecewa dengan terbitnya PP 78 tahun 2015 tentang pengupahan dan alasan tidak ada pilihan lain.

Ditambah kontestasi Pilpres 2019 tahun ini hanya diikuti oleh dua Paslon Capres yaitu 01 Jokowi-Amin dan Paslon 02 PADI saja.

Sedangkan faktor alasan karena kecewa dengan terbitnya Permenaker nomor 15 tahun 2018 tentang Upah Minimum Sektoral (UMSK), diperkirakan dampaknya tidak signifikan untuk dapat mempengaruhi suara akar rumput buruh untuk berpindah pilihan, dari Paslon 01 Jokowi-Amin ke Paslon -2 PADI.

Ditambah jumlah massa buruh yang bekerja di perusahaan sektoral ternyata jumlahnya juga tidak mayoritas dan saat ini ternya juga tidak solid lagi.

Contohnya, di wilayah Bekasi, Provinsi Jawa Barat sebagai daerah industri terbesar se-ASEAN dan ASIA ternyata soal polemik UMSK 2019 dan sempat viral di media sosial (Medsos) karena aksi demo turun ke jalan belum lama ini.

Ternyata perkembangan terkini, suaranya sudah redup. Karena persoalan UMSK 2019 itu, sudah diselesaikan oleh masing-masing perusahaan dengan cara berunding langsung dengan para pengurus PUK atau Pengurus Basis secara Bipartit dan menghasilkan kesepakatan Bipartit, tentang nominal UMSK 2019 diperusahaan masing-masing, sehingga soal UMSK 2019 selesai.

Ke-enam, alasannya bahwa Pemilu serentak 2019 tahun ini adalah Pemilu sistem ini yang pertama kali dilaksanakan dan secara serentak diseluruh Indonesia. Sehingga semua pihak, pada saat ini sesungguhnya sedang mencari pola kerja politik yang efektif, untuk memenangkan pesta demokrasi pemilu. Mengingat luasnya wilayah nusantara, yang membututhkan cost politik yang besar.

Ditambah fakta lapangan, umumnya para caleg diberbagai Parpol pendukung kedua paslon capres. Ternyata, umumnya mereka lebih mengutamakan kepentingan dirinya sendiri sebagai caleg dalam mencari suara pemilih, dari pada memperjuangkan suara capres yang didukung parpolnya tempatnya bernaung.

Sehingga kerja politik mencari suara bagi pasangan kedua capres dilapangan itu, hampir mayoritas dilakukan oleh para relawan masing-masing capres, untuk memenangkan pemilu tanggal 17 April 2019 mbesok.

 

 

(Penulis adalah Pengamat Perburuhan dan Mantan Aktivis Buruh Era 1990-an, serta wartawan).

Media Garuda | Tajam, Inspiratif & Terpercaya

Add Friend

Ayo Komentar

Artikel Lainnya :

  1. Rike Berpesan Kepada Kader, Bahwa Pemilu 17 April mbesok, Untuk Mempertahankan Pancasila
  2. Temu Akbar Relawan Perumahan Jokowi-Ma’ruf Amin, Se-Kota Bekasi Berlangsung Meriah
  3. Erick Thohir : Kematangan Pemimpin Makin Diperlihatkan Capres Jokowi di Debat IV Pilpres 2019
  4. Mantap..Bani Kholil Madura Deklarasi Dukung Jokowi-Ma’ruf
  5. Warung Gratis Relawan JAMIN, Laris Manis Diserbu Pengunjung
<