Pemimpin (tak) Panik

Seorang kepala divisi di salah satu perusahaan merasa perlu memberikan konsep yang segar untuk sebuah peringatan tahunan di perusahaannya. Durasi persiapannya masih cukup panjang. Dia punya waktu satu bulan lagi untuk menyuguhkan seremoni kegiatan dengan acara yang penuh nilai hiburan dan estetik. Sang kepala divisi tersebut tidak menginginkan peringatan tahunan dengan konsep itu-itu saja. Terlalu monoton. Garing. Tidak menyenangkan. Dia tak ingin asal bosnya senang. Dia ingin karyawannya turut senang. Karena kegiatan itu dianggap untuk seluruh elemen perusahaan, bukan untuk bosnya saja.

Merasa yang disiapkannya adalah sesuatu yang baru, istimewa, tidak menyalahi aturan, justru direspon positif oleh karyawan dan divisi-divisi kerja lainnya sebagai satu kesatuan tim penyelenggara, sang kepala divisi ikut turun tangan mengontrol persiapan pagelaran. Dia ikut menentukan jenis kostum, pilihan musik, konsep panggung, tata letak audien, jenis surprise, merchandise, hingga gubahan lagu hiburan. Dan nyatanya, pilihannya menghadirkan konsep baru disambut antusiasme yang tinggi dari para stakeholder perusahaan. Semua tahapan persiapan acara menjadi sangat berwarna. Ini lain dari yang lain, demikian pengakuan itu keluar dari mulut para karyawannya.

Seminggu jelang acara dilaksanakan dan seluruh persiapan acara dinyatakan sempurna, malapetakapun datang. Bos si kepala divisi yang kreatif dengan ide segar tersebut pagi-pagi benar sudah datang ke unit kerjanya. Melalui asisten si bos, dia meminta seluruh karyawan dikumpulkan. Akan ada arahan. Disebutkan penting sekali. Sejurus kemudian beberapa karyawan berpesan ke asisten si bos. Pesannya, sang kepala divisi yang menjadi atasan unit kerjanyanya sedang bertugas di luar kantor. Ada pertemuan dengan beberapa mitra. Bisakah menunggu bapak?

Si Bos makin berang. Kenapa harus nunggu? Jawabnya ketus melalui asisten. Kumpulkan sekarang! Melihat suasana makin panas, para karyawan tak punya pilihan. Berbondong-bondong meninggalkan tugas di mejanya untuk mendengar urgensi yang disebut si bos. Rupa-rupanya, kepentingan yang disebut maha penting itu tak lain ketidaksenangannya terhadap konsep kegiatan baru yang diinisiasi sang pejabat. Jangan sok kreatif! Biasa aja. Penyelenggaraan ikut konsep tahun lalu. Jangan ada yang diubah-ubah. Matahari hanya satu di bumi ini, di perusahaan ini, mataharinya hanya saya. Udah. Gitu aja, begitu si bos ketas-ketus meluapkan kepanikannya.

Sesampainya di kantor, si kepala divisi pun tertegun. Tak punya pilihan. Seperti yang sudah-sudah, acara tahunan tersebut dilangsungkan dengan pendekatan old fashion. Kaku, kosong, garing, dan tak bermakna. Di ujung ruangan, si bos tersenyum dengan sangat sumringah sembari memicingkan matanya yang tajam tersebut kepada kepala divisi.

Penggalan cerita-cerita seperti di atas tentunya sering kali dijumpai di dalam kehidupan sehari-hari. Namun jangan salah memaknai. Ini bukanlah gangguan panik dalam pendekatan medis. Bukan seperti Agorafobia, salah satu jenis kepanikan di tempat-tempat umum. Kepanikan si bos dari cerita di atas merupakan kategori dari kepanikan yang disampaikan oleh Stanley Cohen. Dalam bukunya berjudul ‘Folk Devils and Moral Panic’, Cohen membedah teori kepanikan moral. Kepanikan moral oleh Cohen diartikan sebagai rasa khawatir akan adanya ancaman terhadap ketertiban dan kepentingan masyarakat.

Dalam buku Cohen yang diterbitkan kembali pada 2002, dirinya ikut menjelaskan berbagai bentuk kepanikan moral yang terjadi di lintas sektor selama 30 tahun lebih. Cohen pada dasarnya tidak saja menganalisis kasus-kasus kepanikan moral akibat kenakalan remaja di era 1960-an. Dia turut menguraikan bentuk-bentuk kepanikan moral akibat kisruh-kisruh yang berhubungan dengan kepentingan politik banyak pihak.

Sayangnya saya mengamati, bentuk-bentuk kepanikan moral yang terjadi saat ini bergeser dari subjek utamanya masyarakat, lalu berubah dimanfaatkan oleh elit politik. Para elit politik ini memanfaatkan kepentingan moral dengan menggunakan berbagai alat. Sering kali mereka memanfaatkan kelemahan independensi dan netralitas media massa dan elektronik serta jabatan dan pengaruhnya untuk menyebar bentuk-bentuk kepanikan moral yang kemudian diekspresikan dengan cara-cara yang jahiliah.

Itu juga yang terjadi dalam cerita di atas, atau bos-bos lainnya dalam kehidupan sehari-hari. Kebanyakan dari mereka bukan panik karena tidak mampu memperjuangkan kepentingan publik. Justru rasa takut dan kepanikan kalangan oligarki ini dikarenakan merasa tersaingi, tak lagi dipuji, hingga merasa takut hilangnya pengakuan dan prestise publik.

Karena kepanikan itu pula, tokoh-tokoh antagonis yang nyata di tengah-tengah kehidupan kita ini mengadu-domba banyak pihak. Praktik adu-domba tersebut membuat kita semua terkecoh dan hilang fokus. Misalnya, harusnya kita memperjuangkan nasib guru dan honorer, ternyata justru kita sedang mempersoalkan pertentangan-pertentangan pribadi antara satu pejabat dengan pejabat lainnya. Sungguh kita sedang ditipu oleh kepanikan pejabat terkait karena ketidakmampuannya mengelola masyarakat.

Tentu akan sangat susah mengubah perilaku kepanikan yang sudah mendarah daging dalam diri para pemimpin kita. Akan selalu ada kambing hitam dalam setiap kepanikan dan kesalahan yang dibuatnya. Tugas kita bersama untuk mengawal pemerintahan tentu menjadi lebih berat. Apalagi kalau sampai terkecoh hingga harus merusak satu sama lain. Jangan panik. Jangan mau diadu-domba. Tarik nafas panjang, tetap fokus. Yuk kita dukung pemerintahan yang baik, tapi kita lawan tirani pemerintahan yang korup dan panik. []

(Opini : Rahmatullah, Penulis merupakan Sekretaris DPD Partai Nasdem Kota Bekasi)

Media Garuda | Tajam, Inspiratif & Terpercaya

Add Friend

Ayo Komentar

Artikel Lainnya :

  1. Anggaran Dari Mana Kades Ini Bangun Kantor Mewah Senilai Rp. 3,3 Miliar ?
  2. Primata Surili Tidak Boleh Diburu, Sudah di Atur dalam Undang-Undang No 5 tahun 1990
  3. Wakil Walikota Bekasi Sampaikan Nota Keuangan Rancangan Perubahan APBD TA 2018
  4. Polres Majalengka Beri Bantuan Air Bersih Pada Warga
  5. Kapolres Majalengka Ambil Tindakan Tegas, Satu Anggota Di Pecat
<