Ilmuwan Amerika Ungkap Perbedaan Cara Berjuang Buruh Indonesia dan Buruh Amerika Serikat

BEKASI, MediaGaruda.Co.Id – Kedatangan Profesor Teri Caraway, peneliti perburuhan yang juga ilmuwan politik dari Universitas Minnesota, Amerika Serikat (USA) ke kantor DPC K-SPSI Kota dan Kabupaten Bekasi. Saat usai acara tasyakuran HUT SPSI ke 46 dan peringatan HARPEKINDO 2019 dikantor DPC K-SPSI Bekasi di Jalan Ahmad Yani Nomor 1, Kelurahan Margajaya, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Rabu (20/2).

Menarik karena peneliti dan ilmuwan politik dari Amerika Serikat yang sudah 10 tahun tinggal di Indonesia ini. Selama ini sangat dekat dengan para tokoh SPSI Bekasi.

Kedatangan ilmuwan politik dari Amerika Serikat itu, coba dimanfaatkanan oleh wartawan MediaGaruda.Co.Id untuk melakukan wawancara khusus soal perburuhan. Termasuk soal perbedaan cara berjuang organisasi serikat pekerja (SP) atau serikat buruh (SB) di Indonesia dengan oranisasi SP atau SB di Amerika Serikat (USA).

Profesor Teri Caraway, menjelaskan bahwa di Amerika Serikat dalam satu perusahaan itu, tidak boleh ada lebih dari satu organisasi SP atau organisasi SB. Hal itu bisa terjadi, karena pihak perusahaan di Amerika Serikat memang tidak menghendaki, dalam satu perusahaan itu ada lebih satu organisasi buruh. Tetapi di Indonesia yang terjadi justru sebaliknya, dalam satu perusahaan boleh dan bebas berdiri lebih dari satu oranisasi buruh.

Sementara itu soal perjuangan pengupahan, kata Profesor Teri Caraway, bahwa sejak adanya peraturan pemerintah (PP) nomor 15 tahun 2015 tentang pengupahan. Perjuangan buruh Indonesia dalam bentuk aksi demo, semakin down atau menurun. Karena setiap demo para buruh Indonesia, tidak bisa berunding langsung dengan pihak pengusaha. Bahkan pada saat buruh demo menuntut hak-hak-pun, sikap pengusaha umumnya terkesan tidak menanggapi, sehingga persoalan perburuan atau keluhan buruh, tidak terselesaiakan.

“Sehingga perjuangan buruh sejak tahun 2015 lalu terus menurun atau down. Ditambah sejak awal 2018 lalu, turun lagi Peraturan Kemenaker nomor 15 tahun 2015 tentang upah minimum sektoral atau UMSK, menjadikan persoalan upah saat ini menjadi semakin rumit,”kata Pofesor Teri Caraway.

Karena itulah, para tokoh SP atau SB di Indonesia perlu melakukan modifikasi, dalam memperjuangkan hak-hak buruh anggotanya. Tujuannya untuk mencari solusi terbaik, elegan dan agar keluhan atau tuntutan para buruh itu cepat terselesaikan dan tidak berlarut-larut.

Peneliti dan ilmuwan politik Amerika Serikat itu, juga memberikan contoh, bagaimana beberapa modifikasi perjuangan, sejak tahun 2015 lalu, sudah dilakukan oleh beberapa organisasi buruh.

Misalnya Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) melakukan modifikasi yang disebut go politik. Dan Gabungan Serikat Pekerja Manucfatory Independent Indonesia (GSPMII) melakukan modifikasi perjuangan buruh, dengan mengedepankan proses negoisasi, langsung dengan pihak pengusaha, sehingga persoalan atau tuntutan buruh cepat mendapat tanggapan pengusaha.

“Modifikasi perjuangan buruh itu, perlu terus dilakukan agar keluhan para buruh, cepat mendapat tanggapan dari pihak pengusaha. Sehingga hak-hak buruh dapat dilindungi, sesuai peraturan yang yang ada di Indonesia,”kata Profesor Teri Caraway.

Sebagaimana diketahui bahwa kenapa di Indonesia saat ini dalam satu perusahaan, boleh berdiri lebih dari satu organisasi buruh. Hal itu terjadi, berawal ketika pemerintah Indonesia pada saat krisis moniter tahun 1998 lalu. Meratifikasi konvensi ILO nomor 87, sedangkan pemerintah Amerika Serikat (USA) sampai saat ini tidak meratifikasi konvensi ILO nomor 87 ini.

Dan di Asia sampai saat ini, hanya ada dua negara yang meratifikasi konvensi ILO nomor 87 ini, yaitu Indonesia dan India.

Kenapa pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi ILO nomor 87 ini, diduga hal itu dilakukan karena faktor keterpaksaan dan, diduga sebagai bagian prasyarat dari lembaga keuangan dana moniter Internasional atau IMF saat itu. Ketika Pemerintah Indonesia meminjam dana kepada IMF pada saat krisis moniter itu. Dimana kita ketahui, pada saat, nilai US Dollar sempat merosot tajam dari yang sebelum resesi ekonomi, satu US Dollar nominalnya sekitar Rp2000,-. Pada saat krisis ekonomi, merosot tajam, bahkan satu US Dollar nominalnya, sempat menembus angka Rp Rp16.000,-.

Sehingga sejak pasca pemerintahan Indonesia meratifikasi Konvensi ILO nomor 87 itulah, terjadi deregulasi peraturan perburuhan di Indonesia. Dimana sejak saat itu, pada satu perusahaan, dibolehkan berdiri lebih dari satu organisasi buruh.

Sehingga semestinya para tokoh buruh Indonesia, perlu segera menyadari, tentang dampak buruk, akibat diperbolehkannya. Pada satu perusahaan itu, boleh berdiri lebih dari satu organisasi buruh. Sebab, yang namanya solidaritas itu, semestinya dapat berdampak, pada perjuangan buruh,bisa semakin kuat dan solid, bukan seperti saat ini. Dimana jika pada satu perusahaan berdiri lebih satu organisasi buruh, para tokoh buruh, ketika berjuang, umumnya lebih mengedepankan kepentingan organisasi buruhnya, dari pada kepentingan anggotanya.

Saat ini sangat mendesak dan harus segera dimulai, perundingan lintas organisasi buruh. Yang bertujuan bagimana, jika di satu perusahaan berdiri beberapa serikat buruh, agar segera dapat melebur diri menjadi satu wadah organisasi saja. dan diharapkan dampaknya positif, diman kekuatan organisasi buruh diperusahaan tersebut, bisa menjadi solid dan kompak. Karena wadah bernaungnya buruh, tidak terpecah-pecah, dan menjadi beberapa organisasi buruh. Sebab, faktanya selama ini, jika di satu perusahaan, ada lebih dari satu organisasi buruh, dampaknya negatifnya perjuangan organisasi buruh menjadi lemah, dan sangat mudah diadu domba oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

(MG 06).

Media Garuda | Tajam, Inspiratif & Terpercaya

Add Friend

Ayo Komentar

Artikel Lainnya :

  1. Biar Kicau Burung Nyaring, Lakukan Ini
  2. Ketua Dewan Pers dan Ketum IWO jadi Narasumber Workshop Perspektif Jurnalis di Tanjungpinang
  3. Kemkominfo, Dukung Kelancaran Masyarakat Dalam Prosesi Mudik Lebaran 2017
  4. Bantuan Korban Banjir Garut Terus Berdatangan
<