Mengapa Warga Bekasi Tidak Perlu Golput?

Pasangan Mufari Arifuddin dan Andi Rachmatika (Appi-Cicu) dalam Pilkada Kota Makassar 2018, mungkin sudah merasa menang ketika Mahkamah Agung mencoret pesaingnya, Ramadhan Danny Pomanto dan Indira Mulyasari akibat melakukan kampanye terselubung. Namun warga berkata lain. Pada 27 Juni 2018, Appi-Cicu dikalahlah oleh kotak kosong dengan perbedaan suara mencolok hingga 36.550. Ya, kotak kosong meraih 300.795 suara dan Appi-Cicu sebesar 264.245 suara.

Publik Indonesia sontak. Riuh ramai mewarnai berbagai media dan lini massa dengan segudang analisa. Sesingkat-singkatnya analisa,” ini adalah bentuk perlawanan publik atas oligarki. Kelompok-kelompok calon eksekutif yang dituding tidak berjuang untuk masyarakat. Bukan dengan golput, warga melawannya dengan memilih kotak kosong”.

Di belahan Benua Amerika, tepatnya di Amerika Serikat sendiri, hegemoni warga dalam pemilihan presiden di Tahun 2016 tak semeriah saat Barack Obama mencalonkan diri. Indikator yang saya amati adalah terkait golput dan rendahnya partisipasi pemilih. Merujuk data yang dirilis Pew Research Centre, partisipasi pemilih di Pilpres tersebut menurun dibandingkan pada 2008. Partisipasi pemilih pada 2008 mencapai 63,6 persen. Sementara pada Pemilu 2016 yang dimenangkan oleh Donald Trumph, angka keikutsertaan warga dalam Pilpres hanya 61,4 persen. Analisis Pew Research Centre, penurunan ini dilatarbelakangi rendahnya partisipasi Pemilu warga berpenghasilan rendah dari warga dengan kulit berwarna. Di Amerika, mayoritas warga kulit berwarna dikenal sebagai pendukung Partai Demokrat, lawan Donald Trumph.

Di Indonesia, KPU RI mencatat, partisipasi pemilih pada Pemilu 2014 cukup baik. Saat itu, Ketua KPU Husni Kamil Malik merekam partisipasi Pemilu mencapai angka 75,11 persen. Sedikit lebih baik dari Pemilu 2009. Pada Pemilu 2009, partisipasi pemilih hanya di angka 70,99 persen. Namun capaian angka tersebut belum memuaskan mengingat pada perhelatan Pemilu perdana pasca reformasi di tahun 1999, partisipasi pemilih mencpai 93,30 persen. Ada kekecewaan disini.

Di Kota Bekasi sendiri, pada Pilkada 2012, angka Golput justru lebih tinggi dari tingkat partisipasi Pemilih. Angka partisipasi pemilih hanya 48,81 persen, sementara Golput lebih besar, yakni mencapai 51,19 persen. Padahal pada Pilkada Kota Bekasi Tahun 2008, trafic golput hanya di angka 36 persen. Menariknya pada Pilkada 2018, terjadi peningkatan angka pemilih. KPUD Kota Bekasi saat itu, Ucu Asmara Sandi memaparkan capaian partisipasi pemilih mencapai 73 persen.

Menyambut Pemilu serentak pada 17 April 2019 ini, pertarungan sengit diantara dua kandidat Pilpres, Joko Widodo vs Prabowo Subianto diyakini akan mempengaruhi peta partisipasi pemilih. Saya melihat bagaimana beberapa komunitas masyarakat gencar menyuarakan Golput akibat kampanye kedua tim calon presiden tersebut yang dianggap tidak subtansial, bahkan merusak tatanan sosial masyarakat karena perang propaganda.

Kendatipun pemerintah melalui Inpres No 7 Tahun 2018 tentang rencana aksi nasional bela negara Tahun 2018-2019 memuat langkah-langkah melawan aksi golput, nyatanya euforia kampanye anti-golput justru dianalisis sebagai salah satu potensi sandungan calon petahana. Analisis ini berangkat dari paparan di awal tadi, terkait menurunnya partisipasi pemilih pada Pilpres Amerika Tahun 2016 dan kemenangan Partai Republik atas Partai Demokrat melalui sosok kontroversial, Donald Trumph.

Maka bila itu terjadi, hampir dipastikan kondisi rendahnya partisipasi pemilih pada Pilpres 2019 akan berbanding lurus dengan pemilihan legislatif. Kota Bekasi akan menjadi salah satu daerah yang akan mengalami dampak rendahnya partisipasi pemilih.

Upaya Mengirim Orang Baik ke DPRD Kota Bekasi

Hiruk-pikuk korupsi massal DPRD Kota Malang diyakini akan memberikan dampak serius dalam Pemilu Legislatif tingkat lokal. Di Kabupaten Bekasi, keterlibatan sejumlah oknum DPRD dalam kasus korupsi izin Meikarta juga memberikan pengaruh yang sama. Ada pesimisme terhadap komitmen dan integritas wakil rakyat karena perilaku korup. Mungkin di Kota Bekasi, kasus-kasus dengan aroma yang sama juga ada, namun belum berhasil terungkap saja. Kita mendorong pelaksana hukum, khususnya KPK untuk mengawal pemerintahan di Kota Bekasi dengan super ekstra. Agar uang rakyat benar-benar dimanfaatan untuk kemaslahatan warga kota.

Namun membiarkan pesimisme tersebut berdampak pada meningkatnya angka Golput juga belum masuk akal bagi saya. Saya melihat, di seluruh partai peserta Pemilu 2019 di Kota Bekasi, masih sangat banyak orang-orang baik yang selama ini telah menunjukkan bukti komitmen dan integritas di sektor atifitasnya masing-masing. Ada ustadh yang nyalon, dan dia orang baik. Jangan golput, pilih orang tersebut.

Adapula guru honorer, kalangan ini sudah menunjukkan loyalitas dan kerja keras dalam mengajar. Belum lagi mereka juga sudah memperjuangkan SK kontrak guru honorer dengan tidak menuntut bayaran apapun. Pilih sosok yang demikian. Karena akan sangat merugi bila mengabaikan tokoh-tokoh yang demikian. Jangan golput.

Ada pula aktifis, pengusaha, mungkin mantan birokrat yang dinilai punya perilaku baik di lingkungan tempat tinggal. Berlaku baik juga di lingkungan kerja, untuk apa harus Golput? Apa kita harus membiarkan jin, setan, genderuwo, dan makhlus halus lainnya yang berwatak korup masuk ke DPRD Kota Bekasi? Apa kita rela diwakili oleh orang-orang yang hanya mementingkan kepentingan pribadi dan golongannya saja? Tidak. Saya tidak akan membiarkan hal tersebut. Saya harap warga kota Bekasi lainnya juga berpikiran sama. Kita harus mengantarkan orang-orang baik untuk mewakili kita di parlemen.

Warga Kota Bekasi yang budiman, KPU tidak bisa sendiri. Bawaslu Kota Bekasi juga demikian. Pemerintah juga sama. Ke-16 partai politik peserta Pemilu juga butuh dukungan warga seluas-luasnya. Atas nama partai Nasdem, saya juga tidak bisa sendiri. Pemilu adalah tanggungjawab kolektif kita bersama untuk anak dan cucu kita di masa hadapan. Ini adalah momentum kita menyeleksi, mencari tau, dan memberikan dukungan kepada orang baik untuk mengurus Kota Bekasi yang kita cintai ini. Karena itu mengapa warga Kota Bekasi tidak perlu Golput. Jadi mari ramaikan lokasi-lokasi TPS dengan memilih orang-orang baik pada 17 April nanti.

(Ditulis oleh : Rahmatullah, Penulis merupakan Sekretaris DPD Partai Nasdem Kota Bekasi)

Media Garuda | Tajam, Inspiratif & Terpercaya

Add Friend

Ayo Komentar

Artikel Lainnya :

  1. Pansus Hak Angket KPK Undang Pakar Hukum Pidana
  2. Diskriminasi Gender Masih Ada, Kemenko PMK Ingin Peningkatan Komitmen K/L
  3. Istri Saya Sampai Gemetar, Ini Keterlaluan
  4. Pjs Walikota Bekasi Silaturahmi ke Samsat dan Lapas Klas II A Bekasi
  5. Aher: 20 Persen Dana Desa Untuk Pemberdayaan Masyarakat
<