Pakar : Dakwah Kelompok Radikal Saat Ini Meresahkan Masyarakat Indonesia

BEKASI, MediaGaruda.Co.Id – Menurut Imdaddun Rahmat, mantan Ketua Komnas HAM RI periode 2015-2016 dan Dosen Pasca Sarjana UI tentang Terorisme yang saat ini sedang menyusun study S-3 bidang perbandingan Indonesia-Mesir. Bahwa ajaran Islam ASWAJA ala Nahdlatul Ulama adalah Islam moderat yang sangat terbuka terhadap berbagai perbedaan dalam khasanah pemikiran ulama Islam. Demikian disampikan oleh Imdaddun Rahmat saat hadir dan ceramah tentang betapa bahaya-nya kelompok radikal di bumi pertiwi saat ini. Saat digelar Silahturahmi Kiai, Ustadz, Ustadzah se-Bekasi Raya. M, dengan Thema “Revitasi Peran dan Fungsi Masjid Sebagai Pusat Pertahanan dan Kemakmuran NKRI,”.hari ini di aula An-Nadwa Islamic School di Jalan Raya Lambang Sari, Jalan Kawasan Grand Wisata No.64 Desa Lambang Sari, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Rabu (26/12) hari ini.

Imdaddun Rahmat menjelaskan bahwa ajaran Islam ASWAJA ala Nahdlatul Ulama menempatkan ajaran Islam ini dengan baik dan yang tidak pernah menolak berbagai perkembangan ilmu pengetahuan yang positif bagi kehidupan umat manusia. Termasuk menerima pemikiran para ulama Islam terdahulu, yang tertuang pada berbagai buku ke-Islaman dan menjadi sumber fiqih bagi mayoritas umat Islam diseluruh dunia.

Tetapi sebaliknya menurut pakar ini, bahwa kelompok radiqal yang saat ini mencoba memaksakan kehendaknya untuk mendirikan negara khilafah. Dengan menggantikan NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 adalah kelompok yang diduga kurang menggunakan akal berfikir yang cerdas dan kritis dalam mendalami ajaran agama Islam.

Dampak buruknya jika keberadaan kelompok ini, jika terus dibiarkan oleh pemerintah adalah sangat merugikan bagi eksistensi bangsa Indonesia. Karena lewat dakwahnya yang dangkal, kelompok radiqal ini telah medangkalkan arti rasa cinta terhadap tanah air Indonesia, sebagai negara NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Selanjutnya kelompok radikal ini juga diduga selanjutnya akan memasukkan dengan ideologi asing, yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Yang selama ini memiliki tradisi luhur Nusantara.

Bahkan yang memprihatinkan kata Imdaddun Rahmat, diduga gerakan ideologi baru ini diduga saat ini sudah mempengaruhi oknum-oknum anggota partai politik. Sehingga oknum-oknum tersebut diduga diam-diam mendukung berdirinya negara Khilafah. Dan juga diduga sudah menempatkan kadernya diberbagai posisi penting, bahkan juga ada yang juga telah mendapatkan bantuan dana hibah dari Kemenag RI.

Dampak buruk bisa dirasakan saat ini, adalah terganggunya ketentraman masyarakat karena kelompok radikal ini telah menyebarkan paham kebencian, dan kemerasan atas nama agama. Termasuk gangguan keamanan, ancaman “bughod” dan aksi teror dinegeri ini yang semakin hari, makin menghawatirkan. Adalah akibat provokasi kelompok radikal ini. Bahkan didugasudah mempengaruhi pola pikir masyarakat, dengan munculnya sekelompok umat Islam yang saat ini sudah tidak mau mengadakan upacara menghormati bendera merah putih.

Kelompok ini, diduga juga telah menyebarkan dakwah sesat, dengan menyebut umat Islam yang tidak sepaham dengan cara berfikir kelompoknya, adalah umat Islam yang kafir. Salah satu kelompok yang disebut kafir tadi, adalah warga Nahdlatul Ulama yang memiliki anggota sekitar 100 juta umat Islam diseluruh Indonesia,”kata Imdaddun Rahmat.

Tak lupa Imdaddun Rahmat juga menyampaikan pesan agar seluruh warga Nahdlatul Ulama diseluruh Indonesia agarterus menerus melestariakan tradisi aswaja ala Nahdlatul Ulama.Tujuannya untuk dakwah terhadap segelintir umat islam Indonesia yang saat ini, diduga sedang terpapar paham radikal. Selain itu, agar saudara kita ini segera sadar dan meninggalkan ajaran radikal yang dianutnya. Karena tidak sesuai jati diri bangsa Indonesia dan dipraktekkan di negara Indonesia yang NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 ini.

(MG 06).

Media Garuda | Tajam, Inspiratif & Terpercaya

Add Friend

Ayo Komentar

Artikel Lainnya :

  1. Letusan freatik di Kawah Gunung Dieng, 10 Orang Terluka
  2. Mendag Nilai Kenaikan Sejumalh Komoditas Masih Dinilai Wajar
  3. Panglima TNI Bersama Wakil Walikota Hadiri Peletakan Batu Pertama PAUD Percontohan
  4. Beda Perlakuan Pemerintah Pada HTI dan FPI
  5. Polsek Cisarua, Bogor Saat Ini Nunggu Kedatangan Korban Pengeroyokan
<