Monolog Suara-Suara “YANG TAK TERLAHIR, MARIA, DESDEMONA”

“Di mana kau kehilangan kata-kata mu ?, Kau Harus bersaksi ‘’

– Maria –

Mainteater bekerjasama dengan Prodi Sastra Jerman Fakultas Ilmu Budaya Unpad akan mengangkat tiga monolog perempuan karya Christine Brückner yang mengisahkan kegelisahan, suara hati, pikiran, cinta dari para perempuan yang eksis dalam sejarah dan karya fiksi.

Diperankan oleh Heliana Sinaga, Ria Ellysa Mifelsa, Rinrin Candraresmi. Tiga orang perempuan yang memiliki latar belakang pemeranan dan penyutradaraan yang kuat. Berkolaborasi dengan Deden Jalaludin Bulqini untuk set dan multimedia, tata cahaya oleh Aji Sangiaji, gerak oleh Galih Mahara, komposisi musik Tesla Manaf, kostum dan makeup oleh oymakeup dan Dinia Ryanti. Pertunjukan ini akan membawa penonton menuju ruang imaji dari sebuah kisah fiktif, tetapi isi dan bahasa yang digunakan sangat mewakili suara hati dan pikiran para perempuan yang eksis tak pernah (dibiarkan) bersuara.

Monolog Suara-suara : Yang tak terlahir, Maria, Desdemona akan di selenggarakan pada :
Selasa – Kamis, 18 – 20 Desember 2018 pukul 19:30 WIB sd. 21:00 WIB
Bertempat di Institut Francais Indonesia – Bandung
Jalan Purnawarman No.32, Kota Bandung

Acara ini terbuka untuk umum, dengan harga tiket masuk untuk mahasiswa/pelajar Rp. 50.000,- dan umum Rp. 100.000,-. Penonton bisa reservasi melalui link : goo.gl/hKujb3 atau bisa menghubungi ke : 082298668061/081394412512.

Acara ini terselenggara atas dukungan Kedutaan Jerman, DAAD, Institut Francais Indonesia-Bandung, Teater Mata Mawar, Penerbit Jungkir Balik, dan Bale Darga

SINOPSIS

Monolog Suara-suara: Yang Tak Terlahir, Maria, Desdemona ini diambil dari nama tokoh utama dalam tiga monolog berjudul “Perjalanan ke Utrecht: Suara dari Yang Tak Terlahir”, “Di mana kau kehilangan suaramu, Maria? – Doa Maria di Gurun Yehuda”, dan “Seandainya kau bicara Desdemona – Seperempat jam terakhir di peraduan Othello, Sang Panglima“. Ketiga monolog ini adalah sebagian dari 16 tulisan Christine Brückner tentang perempuan-perempuan penting dalam hidup tokoh-tokoh pria terkenal dalam sejarah dan sastra yang dikumpulkan dalam buku berjudul “Wenn du geredet hättest, Desdemona” (Seandainya Kau bicara, Desdemona) atau tokoh fiktif perempuan yang suaranya sebenarnya penting untuk didengar, tetapi sayangnya tidak pernah diberi kesempatan untuk bicara.

Dalam “Perjalanan ke Utrecht: Suara dari Yang Tak Terlahir” yang berkisah tentang ‚gugatan‘ sebuah janin yang tak dikehendaki kehadirannya dan digugurkan oleh ibunya, seorang perempuan muda yang sedang menikmati hidupnya dan tak ingin terikat oleh kehadiran seorang anak, walaupun janin itu adalah hasil dari hubungannya dengan kekasihnya. ‚Gugatan‘ ini muncul karena tak pernah sekali pun ada yang bertanya pada sang janin, apakah dia ‚rela‘ dibuang atau lebih suka memilih hidup, apapun resikonya. Apalagi ironisnya, banyak perempuan yang berusaha keras untuk mendapatkan anak, tapi dia justru dibuang. Apakah sang janin pernah ditanyai tentang keinginannya untuk hidup? Tidak pernah. Karena orang lebih peduli pada si ibu, bukan padanya.

Dalam “Di mana kau kehilangan suaramu, Maria” dikisahkan tentang doa, harapan, dan “gugatan” Maria kepada Tuhan sebagai ibu dari Yesus: anak yang dilahirkannya tetapi “diambil” Tuhan menjadi anakNya. Sebagai perempuan dan seorang ibu, Maria ingin merasakan menyayangi dan disayangi anaknya seperti para perempuan dan para ibu lainnya. Namun, di satu sisi, Maria adalah manusia terpilih yang melahirkan “anak” Tuhan, yang membuatnya istimewa dan dia mensyukuri itu, bahkan walaupun dia tak bisa “menyentuh” anaknya, bahkan saat dia harus taat pada anaknya sendiri.

“Seandainya kau bicara, Desdemona” berkisah tentang Desdemona, karakter fiktif dalam kisah klasik karya Shakespeare „Othello”, seorang perempuan cantik dan terhormat yang dibunuh oleh suaminya sendiri yaitu Othello karena dianggap telah berselingkuh. Christine Brückner menyuarakan hati dan gugatan Desdemona pada waktu seperempat jam sebelum dia dibunuh oleh Othello. Kecamuk suara yang tidak pernah didengar, karena sebagai perempuan dia hanya menjadi sosok yang „dibentuk“ dan diharapkan menjadi. Pemikiran, cinta, apalagi pembelaan bahwa dia bukanlah peselingkuh tetapi hanya korban fitnah tidak (akan pernah) didengar bahkan oleh Othello, suami yang sangat dicintainya.

Kegelisahan, suara hati, pikiran, cinta, harapan yang tak terucapkan dari ketiga tokoh perempuan ini adalah benang merah dari tiga monolog yang diungkapkan dengan lugas dan penuh perasaan oleh Christine Brückner dan dimainkan dengan sepenuh hati oleh tiga aktor perempuan: Heliana Sinaga, Ria Ellysa Mifelsa, dan Rinrin Candraresmi. Melalui mereka, suara-suara itu dibawa ke atas panggung dan menunjukkan bahwa pada sosok-sosok yang selama ini digambarkan lemah dan tak punya kuasa, tersimpan kekuatan yang besar dan menentukan. Suara mereka perlu didengarkan dan mereka perlu diberi kesempatan untuk bicara dan bersaksi. Oleh karena itulah, pertunjukkan ini dibuat untuk mereka yang hampir kehilangan bahasanya. Untuk mereka yang (terpaksa) diam dan bungkam.

(Ditulis di Bandung, 22 November 2018, Oleh : Dian Ekawati)

Media Garuda | Tajam, Inspiratif & Terpercaya

Add Friend

Ayo Komentar

Artikel Lainnya :

  1. Hanif Dhakiri : Warga NU Perlu Terus Berinovasi, Agar NU Selalu Dikenal Masyarakat
  2. Pemeintah DKI Jakarta, Perlu Terus Memperhatikan Warga Disekitar TPST Bantargebang
  3. Pemkot Bekasi Raih Tiga Penghargaan Sadar Hukum
  4. Angkat Isu Natuna Sespimti Polri di China
  5. Hari Santri Nasional, Penghormatan Negara terhadap Alim Ulama, Kyai, Habaib, Ajengan, dan Santri
<