“Kopi Baleuy”

“Kalau saja antara agama dan pilpres ini diibaratkan gula kopi yang belum diseduh tentu masih bisa diurai, dipisahkan antara keduanya sekalipun tidak mudah. Diambil mana kopi mana gula, mana kepentingan agama, mana nafsu berkuasa.
Tetapi jika sudah diseduh dan diaduk aduk seperti kopiku ini, maka mungkinkah keduanya bisa dipisahkan?”

Demikian aku melamun sambil mencucup kopi ‘baleuy’ atau kopi dingin atau kopi yang diseduh dengan air kurang panas.

Kopi kental yang kuseduh pagi tadi memang sudah “baleuy”, tapi apa boleh buat dari pada terbuang begitu saja. Karena walau panasnya sudah tak ada, aromanya tetap terasa hingga menyentuh urusan pilpres dan agama hahaha…

Dari secangkir kopi “baleuy” dingin dan kental ini aku melihat konflik horizontal. Pertikaian sesama penganut agama yang sama pun semakin mengkristal. Petaka terus menggurita, tak jelas ujung pangkalnya, dalil-dalil diperkosa, tersebar di dunia maya, sumbernya google semata, diucapkan terbata bata, bila perlu dengan air mata agar tersamar fakta dan dusta. Begitu samarnya, hingga tak terbaca, siapa yang sesat dari jalanNya, siapa mendekap hidayahNya.

Alhasil agama terkesan dinistakan, terkesan dikomoditikan, terkesan diperalat untuk meraih mimpi, keuntungan dan kemenangan sementara.

Ulama mulai perang terbuka dengan ulama, mulai saling mempertanyakan keulamaan “lawan”, saling sindir. Ummat di bawah mereka apalagi, dia bisa lebih kekanak kanakan dari pada idolanya, bisa lebih sadis cara menghinanya.

Padahal dengan agama mestinya politik menjadi semakin santun dan bermartabat. Bukankah tujuan ideal keterlibatan agama dalam politik adalah sebagai penerang, sebagai petunjuk jalan dan sebagai penyeimbang dari gelimang hasrat duniawi yang menggoda tiada henti. Begitupun peran politik terhadap agama, bukankah sebagai alat perjuangan, bukankah diharapkan mampu mempermudah penerapan ajaran agama dalam kehidupan nyata?.

Nah, sudah terlambatkah? Apakah Agama dan pilpres saat ini belum diseduh dan diaduk aduk? Masih bisakah menarik simbol simbol agama dari kubangan politik? Dari kegaduhan yang mengatasnamakan agama. Dari kebisingan yang disertai teriakan takbir.

La quwwata, Agama dan pilpres memang seperti kopi baleuy, tak sedap disantap, tapi apa boleh buat dari pada terbuang sayang.

Oleh Cecep Suhaeli

Media Garuda | Tajam, Inspiratif & Terpercaya

Add Friend

Ayo Komentar

Artikel Lainnya :

  1. Ketika Si Miskin Membiayai Si Kaya
  2. #Domba yg Pintar
  3. Demo 4 November, Media Sosial, Hoax
  4. “Urang Sunda Asli” (USA) : Jawa Barat dan Pemilu
  5. Yusril Tetap Inspiratif
<