Yusril Tetap Inspiratif

Masuknya Yusril IM ke kubu Jokowi dalam peran apapun semoga menyadarkan banyak orang tentang sesuatu yang paling sederhana, yakni bahwa pilpres itu benar benar pemilihan presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, bukan pemilihan pemimimpin agama, tokoh gama, atau sosok yang paling agamis. Maka jargon jargon calonku lebih memperjuangkan islam, lebih agamis, lebih kiyai lebih santri dst. menjadi tidak penting dan pasti full pencitraan.

Artinya, tidak perlu ada canda yang serius tentang apakah calon kamu pernah jadi imam atau tidak, bisa baca qur’an atau tidak, pernah umroh, ziarah makam wali dst. Kemana dia ketika ada kasus penodaan agama, ketika persekusi da’i, ketika kriminalisasi ulama. Tidak perlu pertanyaan itu.
Yang perlu ditanya adalah; mampukah dia memimpin bangsa yg sudah mulai terbelah ini, mengawal indonesia untuk dipercaya dunia, mengangkat potensi SDM dan SDA yang ada untuk kesejahteraan bersama, menjaga kebangsaan kita dan seterusnya. Mapukah? Seberapa mampukah?

Tapi entah kenapa, realitanya bahwa citra calon yang akrab dengan berbagai simbol keagamaan itu dirasa ampuh untuk menaikan eletabilitas. Akhirnya, mau tidak mau para calon harus menyiapkan waktu, tim dan dana husus untuk menaikan citra agamisnya. Yusril salah seorang yang direkrut untuk pencitraan ini.

Lihat semua calon pasti sudah mengantongi kartu anggota NU, ormas Islam yang cukup besar di indonesia. Lihat mereka sibuk mengunjungi pesantren, mengumpulkan kiyai dan asatidz. Lihat berbagai dukungan dideklarasikan oleh para santri, ustdz, ulama dan kiyai yang terpancing oleh situasi politik ini. Lihat isu agama yg muncul sudah pasti dikemas langsung menjadi dagangan politik.
Inilah kenyataan itu.

Maka tenanglah…… biar kita bisa melihat kebenaran di tengah seribu penyamaran.

Yusril tetap inspiratif

Oleh Cecep Suhaeli

Media Garuda | Tajam, Inspiratif & Terpercaya

Add Friend

Ayo Komentar

Artikel Lainnya :

  1. Kebebasan Pers dan Hoax
  2. Tampang Boyolali dan AlFateka
  3. Suara Sri Mulyani Penentu Kepuasan Publik
  4. Ketika Si Miskin Membiayai Si Kaya
  5. Jumlah Ormas di Indonesia Capai 334.039
<