Inilah Profil Buni Yani Yang Dijadikan Tersangka

MediaGaruda.Co.Id – Siapakah Buni Yani ?, Mungkin itu pertanyaan sebagian besar masyarakat Indonesia yang tidak mengenal nama Buni Yani. Akhir bulan September lalu ia mengunggah potongan video pidato Gubernur DKI Jakarta Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama.

Dalam unggahan video yang menjadi viral tersebut, Buni menuliskan transkrip pidato Ahok saat melakukan kunjungan kerja di Kepulauan Seribu.

Transkrip tersebut yang menjadi awal dari kasus surah Al-Maidah ayat 51. Buni dianggap sengaja mencemarkan nama baik sang gubernur dengan tidak menuliskan kata “pakai” dalam transkripnya.

“Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil Bapak Ibu enggak bisa pilih saya. Dibohongin pakai surah Al-Maidah 51, macam-macam itu,” kata Ahok kepada warga Kepulauan Seribu ketika itu.

Meskipun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengklarifikasi potongan video yang diunggah Buni dengan video berisi pidato lengkap Ahok saat kunjungan tersebut, sebagian umat Muslim tetap merasa bahwa kata-kata Ahok menistakan agama Islam dan ayat suci Al-Qur’an.

Hingga puncaknya pada Jumat, 4 November lalu, ratusan ribu orang melakukan aksi unjuk rasa di depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat, untuk menuntut agar Ahok segera diproses secara hukum karena dugaan penistaan agama yang dilakukannya.

Siapa Buni Yani?  Dalam laman media sosial Linkedin-nya, tertulis bahwa Buni merupakan seorang peneliti peneliti dari Universitas Leiden, Belanda.

Sejak 2010, ia mengambil gelar Doktoral sekaligus sebagai peneliti di Faculty of Social and Behavioral Sciences, Institute of Cultural Anthropology and Development Sociology, Leiden University.

Setelah lulus dari Fakultas Sastra Inggris dari Universitas Udayana, Denpasar, Buni tinggal di Ohio, Amerika Serikat, sejak 2000 hingga 2012 untuk mengambil gelar master.

Ia mendapatkan gelar Master of Arts dalam studi Asia Tenggara dari Ohio University.

Buni telah aktif sebagai jurnalis sejak sebelum berangkat ke Amerika Serikat. Sejak 1996 hingga 1999 Buni Yani bekerja sebagai jurnalis untuk Australian Associated Press (AAP) dan sering menulis tentang isu-isu terkait Asia Tenggara.

Saat tinggal di Amerika Serikat, pria yang tinggal di Depok, Jawa Barat, ini juga pernah menjadi jurnalis untuk Voice of America (VOA).

Buni diketahui bekerja sebagai dosen di London School of Public Relations (LSPR), Jakarta, sejak 2004. Namun ia segera mengundurkan diri setelah mendapat ancamanyang dialamatkan kepadanya melalui kampus.

“Karena kecintaan saya kepada kampus ini yang telah memberikan saya penghidupan dan tempat berkarya, maka saya merasa wajib melindunginya dari orang-orang yang ingin menyangkutkannya dengan aktivitas saya di luar kampus,” katanya usai kasus video Ahok ini mulai mencuat di media massa dan di tengah masyarakat.

Menurutnya, staf di kantornya menerima telepon dari orang tak dikenal yang berkata kasar mengancam akan menyerbu kampus LSPR.

Meskipun saat ini Buni menjadi salah satu orang yang vokal mengkritisi Ahok, ternyata saat Pilkada DKI Jakarta 2012 lalu ia merupakan pendukung pasangan Jokowi-Ahok.

Ia mengaku berubah pandangan terhadap gubernur asal Bangka Belitung tersebut sejak April 2016, ketika ia menganggap tim Ahok memainkan isu SARA.

Sekarang, Polda Metro Jaya telah menetapkan  Buni Yani Jadi Tersangka  setelah Komunitas Advokat Muda Ahok-Djarot (Kotak Adja), melaporkan kepada Kepolisian (7/10) pemilik akun Facebook Buni Yani (BY), lantaran diduga salah mentafsirkan isi pernyatan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama dalam rekaman video, sehingga menimbulkan keresahan dan kebencian di tengah masyarakat .

Buni Yani pada mulanya  merupakan pendukung setia pria yang lebih beken disapa dengan panggilan Ahok itu.

Buni bahkan gencar mengampanyekan Ahok pada pilkada DKI 2012. “Saya dulu 2012 pendukung Pak Basuki. Cek akun Facebook saya, saya puji,” ujarnya dalam jumpa pers di Wisma Kodel, Jakarta Selatan, Senin (7/11).

Namun, belakangan Buni justru memilih berseberangan dengan gubernur DKI Jakarta pengganti Joko Widodo itu. Alasannya karena kebijakan Ahok yang menggusur warga.

“Pertama contoh saja, soal dia menggusur. Janganlah, Pak Gubernur,” ucapnya.

Namun, Buni justru menyayangkan karena dia kini diposisikan sebagai penyebar kebencian terhadap Ahok. Buni menegaskan, dirinya punya pengalaman berkali-kali hidup di lingkungan sebagai bagian minoritas sehingga tak mungkin menebar kebencian terhadap kelompok yang kecil dari sisi jumlah.

“Saya kuliah di Bali, sudah tahu jadi minoritas. S2 di AS juga jadi minoritas. Saya tahu toleransi dan pluralitas. Jadi enggak ada dasarnya saya menyebar kebencian,” kilahnya.

Karenanya, Buni menganggap tudingan ke arahnya sebagai penebar kebencian jelas tak berdasar. “Apa yang dituduhkan sangat mengada-ngada,” tegasnya. (*)

Media Garuda | Tajam, Inspiratif & Terpercaya

Add Friend

Ayo Komentar

Artikel Lainnya :

  1. Dukungan Susi Pudjiastuti Jadi Cagub Jabar Mulai Mengalir
  2. Wajib Pajak Bisa Peroleh Pengurangan Bayar PBB Hingga 100% , Ini Syaratnya
  3. Penembakan Lagi di Freeport, Seorang Karyawan Terluka
  4. Menko PMK: Penyaluran Rastra dan BPNT Bulan ke-13 Sulit Dilakukan
  5. Kapolres Majalengka Geser Jabatan Empat Perwira Polisi
<