KUALITAS MANAJEMEN KEUANGAN USAHA MIKRO KECIL MENENGAH (UMKM)

0
49

Ditulis Oleh : Suroyo (STIE Tribuana, Kota Bekasi)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan keadaan manajemen
keuangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) pada butik pakaian
berdasarkan teori manajemen keuangan khususnya dalam hal pengaturan
keuangan dan fungsi manajemen keuangan. Sumber data dalam penelitian
ini adalah data primer yang diperoleh dari kuisioner terstruktur dan
kuisioner terbuka yang dibagikan kepada pelaku usaha butik. Pada kuisioner
terstruktur jumlah responden adalah 55 butik dan pada kuisioner terbuka
jumlah responden sebanyak 25 butik. Metode yang digunakan dalam
pengolahan data adalah metode statistik deskriptif untuk menjelaskan mean,
range, minimum, maximum dan sebagainya. Dari hasil statistik diperoleh
sebesar 52% butik memiliki pemasukan lain selain usaha butik. Kemudian
51% pengusaha butik telah memaksimalkan menggunakan dana untuk
keperluan perusahaan. Dari segi pembiayaan, sebesar 64% distro
menggunakan hutang. Dari segi tabungan, sebesar 78% distro memiliki
tabungan di bank. Akan tetapi, sebesar 55% butik yang memisahkan
tabungan pribadi dengan tabungan perusahaan. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa sebesar 92,73% distro telah memiliki predikat pengaturan keuangan
yang baik. Dari segi keuntungan, butik memiliki keuntungan atau laba
bersih rata- rata 5% dari total investasinya setiap bulan. Dari segi DER
(Debt Equty Ratio), rata-rata butik memiliki rasio DER 0,8:1. WCTA
(working capital to total asset) atau aktiva lancar yang dimiliki butik rata-
rata sebesar 33,98% dari total asset yang dimiliki.

Kata Kunci : Pengaturan Keuangan, ROI (Return on Investment), DER
(Debt Equity Ratio) dan WCTA (Working Capital to Total Assets).

 

PENDAHULUAN

Program pemerintah dalam menggalakkan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) menunjukkan perkembangan positif. Dari sisi jumlah, pada tahun 2009 jumlah UMKM berkisar 52,8 juta unit. Pada tahun 2012, jumlah UMKM meningkat menjadi 55,4 juta unit. Dalam kaitannya dengan penyerapan tenaga kerja, rata-rata UMKM dapat menyerap 3-5 orang pekerja. Sehingga dengan penambahan sekitar 3 (tiga) juta unit dalam tiga tahun tersebut (2009-2012), jumlah tenaga kerja yang terserap bertambah 15 (lima belas) juta orang.

Penelitian yang dilakukan oleh Bank Indonesia dan PUSLIT FE USU (2008), sektor UMKM di Sumatera Utara umumnya bergerak dibidang perdagangan (66,46%). Sisanya, sebesar 15,58% di sektor jasa, sebesar 12,20% sektor perindustrian, dan sebesar 6,60% sector lainnya, meliputi pertanian, pertambangan & penggalian, listrik, gas, air, keuangan, jasa perusahaan, pengangkutan dan komunikasi.

Permasalahan yang terjadi pada keseluruhan UMKM di atas, umumnya berkaitan dengan ekspansi usaha atau sebagai usaha yang hanya mampu bertahan hidup. Penelitian PUSLIT FE USU dan BI menunjukkan bahwa kebutuhan modal kerja merupakan salah satu faktor kendala pengembangan UMKM. Penelitian ini sejalan dengan kajian Mambula (2002), yang menyatakan bahwa sebanyak 72% pengusaha kecil memiliki hambatan dalam pengembangan usaha dikarenakan kurangnya pembiayaan. Berdasarkan catatan Bank Indonesia (www.bi.go.id), jumlah kebutuhan kredit modal kerja UMKM mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada tahun 2011, jumlah kredit modal kerja UMKM yang tercatat sebesar Rp. 375.295,9 milyar. Jumlah ini meningkat pada tahun 2012 menjadi sebesar Rp. 381.907,1 milyar, dan menjadi sebesar Rp. 443.051,1 milyar pada tahun 2013.

Catatan ini sejalan dengan dengan penelitian Syarif (2010) berjudul ”Proporsi Penyaluran Dana Untuk UMKM” menyimpulkan bahwa kenyataan menunjukan bahwa permintaan kredit (demand of credit) dari kalangan UMKM relatif cukup besar. Tetapi sebagian besar kebutuhan kredit tersebut dipenuhi oleh para pelepas uang dengan bunga yang relatif tinggi. Dampak dari biaya modal yang tinggi ini terlihat dari non-performing loan (kredit macet) sektor ini. Pada April 2013, Bank Indonesia mencatat bahwa kredit macet sektor UMKM mencapai Rp. 4,310 milyar. Disisi yang lain, terlihat bahwa kecenderungan kredit yang disalurkan oleh lembaga perkreditan formal untuk UMKM masih kurang dari 14%.

Faktor kendala lainnya dalam pengembangan UMKM berupa informasi keuangan. Sebesar 77,5% UMKM tidak memiliki laporan keuangan dan sisanya, sebesar 22,5%, memiliki laporan keuangan. Dari sisi jenis laporan keuangan yang dimiliki UMKM, sebesar 23,2% menyusun neraca, sebesar 34,3% menyusun laba rugi, menyusun arus kas sebesar 34,4%, dan persediaan barang sebesar 30,9%. Walaupun relatif jauh dari yang diharapkan, sebesar 53% hanya memiliki catatan mengenai uang masuk dan keluar.

Profesionalisme pengelolaan keuangan juga menjadi kendala dalam pengembangan UMKM. Dalam operasionalisasinya, Banyak pelaku UMKM tidak melakukan pemisahan antara uang pribadi dan uang perusahaan, sehingga operasionalisasi keuangan usaha menjadi tumpang tindih. Berdasarkan penelitian PUSLIT FE USU dan BI (2008), sebesar 57,93% pelaku UMKM di Sumatera Utara memiliki 1 (satu) rekening, sebesar 24,83% memiliki 2 (dua) rekening, dan hanya sebesar 17,24% memiliki 3 (tiga) rekening.

Usaha butik merupakan salah satu UMKM yang bergerak di bidang perdagangan, dengan fokus bisnis pada usaha penjualan pakaian dan aksesoris yang lebih eksklusif dan biasanya lebih pada produksi sendiri dan tidak diproduksi massal.

Pada tahun 2015, diperkirakan terdapat sekitar 1000 unit usaha butik di Indonesia. Khususnya di Bekasi, jumlah usaha ini sekitar 100-an unit pada tahun 2006, dimana jumlah tersebut diperkirakan 4 (empat) kali lebih banyak dari tahun sebelumnya. Namun saat ini, jumlah usaha ini jauh berkurang.

Faktor penyebab kemunduran UMKM ini di kota Bekasi diduga tidak terlepas dari permasalahan yang dihadapi oleh UMKM secara keseluruhan, yaitu mengenai pendanaan investasi, non performing loan, dan pengelolaan aktiva tetap dan aktiva lancar tanpa adanya pencatatan atau tidak memiliki laporan keuangan sebagai alat pengambilan keputusan.

Dalam memecahkan masalah kemunduran suatu usaha, secara umum dapat dianalisis melalui 2 (dua) aspek, yaitu finansial dan non-finansial.

Aspek non-finansial berupa pengukuran kegiatan pemasaran, manajemen SDM, riset pasar, pendidikan pengelola, peramalan permintaan, dan lainnya (Temtime dan Pansiri, 2004). Sedangkan aspek finansial dapat diukur melalui analisis investasi, modal kerja, kredit usaha, dan segala bentuk manajemen keuangan lainnya.

Menurut Husnan (2010:6), “Manajemen keuangan adalah pengaturan kegiatan keuangan dalam suatu organisasi. Manajemen keuangan menyangkut kegiatan perencanaan, analisis dan pengendalian kegiatan keuangan”. Sedangkan menurut Horne dan Wachowicz JR, “Manajemen keuangan berkaitan erat dengan perolehan pendanaan dan manajemen aktiva dengan beberapa tujuan umum sebagai latar belakangnya”. Didasarkan pernyataan Horne dan Wachowicz JR, Sugiono (2009:5) membagi Manajemen Keuangan kedalam empat fungsi: (1). Keputusan pembiayaan (financing decision), (2). Keputusan Investasi (Investment Decision), (3). Kebijakan Dividen (Dividend Policy), dan (4). Pengelolaan Aktiva Lancar

Mengacu kepada definisi dan fungsi Manajemen Keuangan, penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan dan menjelaskan kualitas manajemen keuangan UMKM usaha butik berdasarkan teori manajemen keuangan khususnya dalam hal pengelolaan keuangan dan fungsi manajemen keuangan, yaitu keputusan pembiayaan, keputusan investasi, dan pengelolaan aktiva lancar.

 

METODOLOGI

Penelitian ini dilakukan di kota Bekasi, Provinsi Sumatera Utara, yang terdiri dari sepanjang Jl. Halat, Jl. Dr. Mansyur, Jl. Jamin ginting Padang bulan, Jl. Setia budi, dan kawasan Ring road.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh butik yang terdapat di jalan Dr. Mansyur, jalan Halat, jalan Setia Budi, kawasan Ring road, dan kawasan Padang Bulan, khususnya kecamatan Bekasi Baru. Sedangkan sampel penelitian adalah keseluruhan populasi, dikarenakan sampel ditentukan berdasarkan homogenitas distro, yaitu butik untuk kalangan menengah. Total sample yang diperoleh berdasarkan ketetapan tersebut lebih kurang 60 sample dan metode pemilihan sampel menggunakan metode area sampling.

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Data yang diperoleh dari penelitian ini berupa data rasio dan ordinal dengan sumber data berupa data primer dengan menggunakan beberapa metode pengumpulan data original, yaitu :1. Wawancara : antara peneliti dan narasumber yang diarahkan oleh pewawancara untuk tujuan memperoleh informasi yang relevan.

Angket terbuka : angket yang disajikan dalam bentuk sedemikian rupa sehingga responden dapat memberikan isian sesuai dengan kehendak dan keadaan yang sebenarnya.

Angket tertutup : angket yang disajikan dalam bentuk sedemikian rupa sehingga responden dapat memberikan isian sesuai dengan pengukuran penelitian yang dibatasi dengan skor. Angket tersebut berisi pertanyaan yang disebarkan kepada responden. Dari pertanyaan atau pernyataan itu kemudian ditentukan option-option atau skala-skala yang dipilih dan juga skor untuk setiap pernyataan tersebut, jenis skala yang digunakan untuk mengukur pernyataan-pernyataan dalam angket adalah skala Likert. Skor jawaban angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

 Tabel Pedoman Pemberian Skor

Skor yang dinyatakan dengan bilangan merupakan langkah awal dari proses analisis. Kemudian skor tersebut akan diolah sehingga dapat menunjukkan pernyataan, keadaan, ukuran, dan kualitas sehingga dapat menghasilkan sebuah predikat “Baik” atau “Kurang Baik”.

Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara :

Analisis N untuk mengetaui jumlah data yang terkumpul yang akan dianalisis. Analisis N menunjukkan jumlah responden yang diukur dan yang missing (jumlah responden yang hilang atau datanya tidak lengkap).

Analisis Mean digunakan untuk mengetahui hasil rata-rata masing-masing variabel pada tiap sampel, yang diperoleh dari penjumlahan seluruh ukuran (data) dibagi dengan jumlah ukuran.

Median menghasilkan pengurutan data dan kemudian otomatis menghasilkan nilai tengah. Nilai tengah atau median ini menunjukkan bahwa 50% sampel berada diatas median ratio variabel dan 50% dibawah median variabel.

Standard Deviation menunjukkan penyebaran rata-rata dari sampel, dengan cara membandingkan range minimum dan maximum. Bila standar deviasi besar berarti data yang digunakan sebaran/variabilitasnya tinggi. Bila standar deviasi kecil, maka data yang digunakan mengelompok di seputar nilai rata-ratanya dan penyimpangan kecil.

Range menunjukkan jarak rasio variabel tertinggi dan terendah yang merupakan selisih antara nilai terbesar dan nilai terkecil dari suatu himpunan data.

Rasio Kurtosis dan Rasio Skewness, untuk menunjukkan kenormalan distribusi data. Distribusi normal apabila terletak antara -2 sampai +2.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Deskriptif Pengaturan Keuangan a. Analisis Item pertanyaan

Setiap item pertanyaan yang diajukan, diharapkan mampu untuk menilai manajemen keuangan butik. Dari item pertanyaan yang dijawab oleh responden, bahwa pemilik butik umumnya memiliki laporan keuangan berupa arus kas masuk dan arus kas keluar. Dengan laporan tersebut, sebagian pemilik butik dapat memprediksi pengeluaran dan pemasukan untuk bulan selanjutnya. Kemudian sebagian besar pemilik butik juga memiliki pemasukan yang lebih besar dari pada pengeluaran. Selain itu lebih dari 52% pemilik butik memiliki pemasukan lain selain usaha butik, baik itu usaha pabrik konveksi maupun pengadaan pakaian secara massal. Sebesar 43% lebih pemilik butik mampu membedakan uang perusahaan dengan uang pribadi karena pemilik butik telah menerapkan penggajian diri sendiri. Menurut pemilik butik (51% lebih) dana telah maksimal digunakan untuk keperluan perusahaan.

Dari segi pembiayaan usaha, 64% lebih butik menggunakan hutang. Hutang tersebut sebagian besar berasal dari perbankan. Perbankan berperan penting dalam pembiayaan butik. Hanya sebagian kecil butik (7,27%) yang kekurangan modal usaha.

Dari segi tabungan, 78% lebih butik memiliki tabungan di bank. Dari proporsi tersebut, sebesar 55% memisahkan tabungan pribadi dengan tabungan perusahaan. Namun, sebesar 34% tidak pernah sama sekali mengambil uang perusahaan untuk keperluan pribadi.

Dari segi evaluasi keuangan, sebesar 47% pelaku butik melakukan evaluasi laporan keuangan, minimal satu tahun. Dan dengan pertanyaan “sudahkah laporan keuangan anda cukup baik?”. Sebesar 58% menjawab ragu-ragu, dan sebesar 40% menjawab cukup baik. Kemudian sebesar 50% pemilik butik rutin melakukan pemeriksaan laporan keuangan yang dilakukan oleh pegawainya.

Selain itu, sebesar 65% pemilik butik ragu-ragu dengan ketepatan penggunaan uang perusahaan untuk pembelanjaan yang dilakukan. Tidak tepatnya dalam penggunaan uang perusahaan menyebabkan banyaknya persediaan barang yang menganggur sehingga perubahan trend fashion menyebabkan barang tertentu tidak terjual. Dan sebesar 65% pemilik butik terkadang mengalami penyimpangan uang masuk dan uang keluar.

Laporan keuangan yang dibuat oleh pemilik butik menunjukkan kondisi keuangan dan evaluasi dari usaha yang dilakukan. Sebesar 58% lebih pemilik butik menggunakan laporan keuangan untuk informasi kondisi keuangan. Dan sebesar 74% lebih pemilik butik menggunakan laporan keuangan untuk evaluasi dari kegiatan usaha.

Analisis Indikator

Analisis indicator ini menjelaskan kualitas manajemen keuangan UMKM butik yang dapat disimpulkan bahwa UMKM butik memiliki laporan keuangan namun hanya terkadang saja dilakukan evaluasi terhadap laporan keuangan yang telah dibuat. Sedangkan indikator pelaporan keuangan dijadikan dasar untuk mengetahui barang masuk dan keluar serta untuk mengetahui kondisi usaha.

Analisis Total Skor

Data yang diambil dari kuesioner merupakan data ordinal. Data ordinal ini memiliki tingkatan “1-3”. Data ordinal yang didapat dari setiap butik ini kemudian dijumlahkan sesuai dengan item pertanyaan. Hasil penjumlahan ini menghasilkan total skor dari setiap butik yang menjadi responden.

Analisis Deskriptif Fungsi Keuangan

Untuk indikator fungsi keuangan, yaitu ROI, DER, dan Working Capital to Total Asset (WATC).

  1. ROI adalah laba bersih dalam pengukuran ROI diukur dengan menggunakan persamaan :

NP =O–(1-ERx O)–C.

NP = Net profit (laba bersih rata-rata per-bulan)

O = Omset per bulan

ER = harapan keuntungan (persentase) tiap barang yang terjual C = biaya usaha.

DER adalah untuk melihat keadaan hutang pada sampel responden, DER dihitung hanya pada butik yang memiliki hutang pada perbankan.

WCTA (Working Capital to Total Asset) merupakan perbandingan antara modal kerja bersih dibanding dengan total aktiva. Modal kerja bersih pada butik dihitung dengan kas ditambah dengan persediaan item barang dikurang dengan hutang lancar.

Pada penelitian kualitatif menunjukkan bahwa sebagian kecil butik yang tidak memiliki laporan keuangan hal ini ditunjukkan pada skor keseluruhan item pertanyaan. Skor ini mengacu pada baik tidaknya kualitas manajemen keuangan yang didasarkan pada predikat. Predikat tersebut diukur dengan rentang 23 sampai 46 menunjukkan kualitas manajemen keuangan kurang baik sedangkan 47 sampai dengan 69 menunjukkan kualitas manajemen keuangan butik baik. Pada penelitian ini didapat hanya sebagian kecil yang memiliki nilai di bawah 47. Yaitu sebanyak 4 butik dari 55 sampel (7,27%). Selain itu, dari rata-rata juga menunjukkan skor item sebesa 54,836 dengan standard error mean sebesar 0,858. Skor 54,836 tersebut terletak pada predikat manajemen keuangan yang baik. Manajemen keuangan yang baik dapat mengurangi pengeluaran yang kurang diperlukan perusahaan, dimana dana yang tertanam pada perusahaan dapat dimaksimalkan untuk kemajuan usaha.

Pada item pertanyaan, tersebut sebesar 63% lebih butik tidak terlepas dari hutang perbankan khususnya. Hutang tersebut sebagian bahkan lebih besar daripada modal sendiri. Nilai maximum pada DER menunjukkan bahwa rasio hutang dibanding modal sendiri senilai 2 : 1. Penggunaan hutang tersebut lebih besar dua kali dibanding dengan modal sendiri. Sedangkan rasio DER minimum sebesar 27,27% atau 0,27 : 1. Kemudian rata-rata rasio DER pada butik sebesar 0,8 : 1. Ini menunjukkan bahwa rata-rata penggunaan hutang lebih kecil daripada modal sendiri.

Pada item pertanyaan juga disebutkan sebagian besar butik juga memiliki pemasukan lebih besar dari pengeluaran butik. Pada nilai ROI, sebagian besar butik berada pada 5,22%. Nilai ROI ini lebih besar dari rata-rata kredit perbankan terhadap UMKM yang diasumsikan sebagai biaya modal butik (bunga kredit perbankan), rata-rata sebesar 0,9488. Nilai ROI yang lebih besar dapat diartikan bahwa UMKM butik menguntungkan. Namun tidak semua butik memiliki ROI yang lebih besar dari bunga kredit perbankan. Terdapat juga butik yang memiliki ROI lebih kecil dari bunga kredit perbankan yaitu sebesar 0,89. Nilai tersebut menunjukkan terdapat juga distro yang merugi dalam menjalankan usahanya.

Dari sisi modal kerja untuk memenuhi permintaan, menunjukkan modal kerja yang dimiliki butik rata-rata 33,98% dari total aktiva yang dimilikinya. Modal kerja minimum sebesar 13,2% dan maximum 71,67%.

Total investasi pada butik beragam. Beberapa butik memiliki investasi yang cukup besar. Hal ini disebabkan satu owner memiliki beberapa butik. Secara keseluruhan rata-rata investasi yang dimiliki butik sebesar Rp 279.600.000,00.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan pada hasil penelitian yang diperoleh, beberapa kesimpulan yang dapat dirumuskan, sebagai berikut :

Karakteristik pelaku usaha butik sebagian besar (90,9%) berjenis kelamin laki-laki dan dari segi usia berusia 30 – 45 (54,5%) dan 46-60 (30,9%). Kemudian dari tingkat pendidikan sebagian besar (89%) lulus perguruan tinggi. Dari segi kualitatif sebagian besar butik telah menyusun dan menggunakan laporan keuangan untuk mengetahui kondisi keuangan dan persediaan mereka serta untuk pengambilan keputusan. Namun pada indikator pengendalian keuangan, pelaku butik umumnya sulit untuk tidak menggunakan uang perusahaan menjadi uang pribadi. Dan dari segi kuantitatif pelaku usaha butik umumnya membutuhkan hutang untuk menjalankan usahanya. Sebagian besar pinjaman itu berasal dari perbankan. Pelaku butik juga memiliki keuntungan yang lebih besar dari biaya modal yang dihadapakan kepada mereka.

 

DAFTAR PUSTAKA

Arief, Yani, dan Rienna. 2012. “Strategi Pengembangan Usaha Kecil Menengah Sektor Industri Pengolahan”. Jurnal Bidang Industri, Vol. 13, No. 1.

Arikunto. 2009. “Manajemen Penelitian”. Jakarta.

Rineka Cipta Badan Kajian Koperasi dan UKM. 2006. “Kajian Faktor-faktor yang Memperngaruhi Perkembangan Usaha UKM di Propinsi Sumatera Utara”..

Jurnal Pengkajian Koperasi dan UKM, No. 23. Bayu dan Sulistiyo. 2011. “Model Pembiayaan Usaha Kecil dan Menengah Pemasok ke Peritel Besar”.

Jurnal Bidang Ekonomi, Vol. 10, No. 1 Hafsah, Jafar. 2004. “Upaya Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM)”. Infokop, No. 25, Tahun XX.

Horne, Van dan Wachowicz. JR. 2007. “Prinsip-prinsip Manajemen Keuangan”. Jakarta.

Salemba Empat. Husnan, Suad. 2010. “Manajemen Keuangan : Prinsip dan Penerapan Jangka Panjang”. Yogyakarta.

BPFE. Husnan, Suad. 2010. “Manajemen Keuangan : Prinsip dan Penerapan Jangka Pendek”. Yogyakarta. BPFE.

Kasmir. 2010. “Pengantar Manajemen Keuangan”. Jakarta. Pranada Media Keown,

Arthur J, dkk. 2004.“Manajemen Keuangan, Prinsip-Jurnal Parameter , Volume 2, No. 2 (2017) ISSN : 1979-8865

Parameter 20 prinsip dan Aplikasi”. Jakarta. Indeks Kuncoro. 2009. “Metode Riset untuk Bisnis dan Ekonomi”. Jakarta. Erlangga.

Santosa dan Hamdani. 2007. “Statistika Deskriptif dalam Bidang Ekonomi dan Niaga”. Jakarta. Erlangga.

Sjahrial Dermawan. 2007. “Manajemen Keuangan Lanjutan”. Jakarta.

Mitra Wacana Media Sugiono, Arief. 2009. “Manajemen Keuangan untuk Praktisi Keuangan”. Jakarta. Grasindo.[]

(Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here