Prostitusi Anak Online, akibat pengaruh Negatif Teknologi

MediaGaruda.Co.Id – Terungkapnya Kasus Prostitusi anak yang terjadi di salah satu hotel di Desa Cipayung Datar, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor Jawa Barat akhir september lalu mengundang keprihatinan pimpinan DPRD Prov. Jawa Barat.

Apalagi sebagian besar korban berasal dari Jawa Barat. Ada 99 anak yang menjadi korban prostitusi, anak-anak itu masih sekolah, dan satu anak putus sekolah.

Wakil Ketua DPRD Provinsi Jabar Haris Yuliana menilai, bahwa kasus prostitusi ini sangat menampar wajah Jabar.

“Saya kira, tentunya kasus ini sangat menampar bagi Jawa Barat,” kata Haris saat menghadiri peringatan HUT Jabar bertajuk De Syukron, di Gedung Sate, Kota Bandung, Jumat (2/9/2016).

Oleh karena itu, Haris meminta agar P2TP2A Provinsi Jabar bergerak cepat untuk mengatasi kasus ini. “Agar memaksimalkan perannya dalam kasus ini,” kata Haris.

Lebih lanjut Haris katakan, terjeremusnya anak dalam kasus prostitusi gay melalui jejaring sosial ini bisa diakibatkan berbagai faktor. Salah satunya faktor ekonomi yang menjadi persoalan klasik di negara ini.

Selain itu, Haris menilai, kasus inipun terjadi akibat pengaruh negatif dari perkembangan teknologi. Oleh karena itu, Haris mendorong Kementerian Komunikasi dan Informatika semakin mengetatkan pengawasan terhadap situs-situs yang mengandung hal-hal berbahaya.

Disinggung penanganan korban prostitusi tersebut, menurutnya negara harus turun tangan dengan langsung merawatnya. “Saran saya, anak-anak tersebut diambil negara, jangan sampai mereka dilepas lagi karena perilaku penyimpang ini bisa menular,” katanya.

Hal serupa diungkapkan Ketua DPRD Provinsi Jabar Ineu Purwadewi Sundari. Ineu mengecam kasus praktik prostitusi gay online yang melibatkan anak di bawah usia ini.

“Tentunya prihatin dan saya mengecam keras,” katanya di tempat yang sama. Ineu pun meminta semua pihak lebih waspada agar kasus serupa tak kembali terulang.

Meski begitu, Ineu optimistis, aparat kepolisian mampu membongkar kasus ini sehingga diharapkan bisa memberi efek jera. “Saya yakin aparat terkait akan berupaya semaksimal mungkin menuntaskan kasus ini. Sekali lagi, ini tamparan bagi semua pihak terkait di Jawa Barat,” pungkasnya.

Sebelumnya, Wakil Gubernur Jabar Deddy Mizwar mengaku sangat terpukul dengan adanya protitusi anak di bawah umur di Bogor. Deddy mengaku, dalam waktu dekat bersama sejumlah pihak akan datang ke Bogor untuk melihat kondisi di lapangan dan mencari solusi agar kasus serupa tidak kembali terulang.

“Kita ingin tinjau karena selama ini kita sudah menerima banyak laporan,” kata Deddy. Deddy menyebut, di kawasan puncak tersebut banyak perkampungan yang sering didatangi imigran.

Selain dikhawatirkan terdapat prostitusi, Deddy pun khawatir adanya imigran ilegal. “Jangan-jangan ada praktik prostitusi di sana. Lalu jangan-jangan di sana juga ada pelanggaran imigrasi,” katanya.

Dia menambahkan, Pemprov Jabar bertekad memberantas segala bentuk prostitusi di wilayah tersebut. “Makanya secepatnya saya akan turun langsung ke sana (Bogor). Kita akan lihat apa yang terjadi di sana, supaya jangan terjadi pembiaran. Karena masalah prostitusi ini ditertibkan, muncul lagi,” katanya.

Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi Jabar Netty Heryawan menuturkan, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan P2TP2A Bogor untuk mengetahui perkembangan kasus prostitusi ini. “Berdasarkan informasi yang saya dapat, anak-anak yang menjadi korban ini ditangani di RPSA (Rumah Perlindungan Sosial Anak) Bambu Apus, Jakarta Timur. Sebagiannya masih dilakukan penyidikan,” kata Netty.

Dia melanjutkan, kasus ini merupakan kasus human trafficking yang pelakunya bisa dikenai hukuman berat. “Siapapun pelakunya harus dijerat dengan beberapa undang-undang yang berlaku di negara ini. Mulai Undang-Undang ITE, Undang-Undang Pornografi, dan undang-undang tentang trafficking,” katanya.

Dia berharap, kasus ini menjadi perhatian semua pihak khususnya para orang tua. Orang tua harus lebih memberi perhatian lebih kepada anak-anak di tengah kemajuan teknologi saat ini.

Menurutnya, kasus ini memanfaatkan teknologi untuk menjalankan bisnis haramnya. “Kemajuan teknologi tidak bisa kita hindari, satu sisi positif, satu sisi negatif. Ini orang tua yang harus berperan. Orang tua harus memberi edukasi bagaimana penggunaan gawai (gadget) kepada anak,” pungkasnya.

Media Garuda | Tajam, Inspiratif & Terpercaya

Add Friend

Ayo Komentar

Artikel Lainnya :

  1. Ngambil Cacing Kalung di Gunung Gede Pangrango, Didin Ditahan Polisi
  2. Soal Banjir Ruas jalan Rancaekek, Pemprov Jabar Harus Jembatani Komunikasi
  3. Kejaksaan Putuskan Tak Menahan Ahok, Ini Alasannya
  4. Buang Puntung Rokok Sembarangan, Gudang Minuman Terbakar
  5. Kapolri Klarifikasi Pernyataannya Terkait Isyu Rohingnya
<