Kemenko PMK Jamin RS Siap Tangani Lonjakan Pasien KLB Difteri

JAKARTA, MediaGaruda.Co.Id  – Pemerintah siap melakukan penanganan lonjakan penderita difteri. Semua rumah sakit di tingkat kabupaten/kota siap menangani sebaran penyakit yang sudah diretapkan sebagai KLB itu.

“Banyak rumah sakit tipe C di kabupaten/kota sudah disiapkan untuk menangani penyakit tersebut. Kalau RS kelas B di kota-kota besar dipastikan bisa menanganinya karena sudah memiliki fasilitas yang lebih lengkap,” ujar Deputi bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan, Sigit Priohutomo di Kantor Kemenko PMK, Jakarta.

Kemenko PMK berharap agar masyarakat jangan panik dan mengikuti informasi tentang pencegahan dan penanganan serangan bakteri Difteri. “Masyarakat jangan panik, pemerintah akan terus melakukan upaya pencegahan agar penyakit ini tidak menyebar semakin luas,” kata Sigit.

Sebelumnya, berdasarkan laporan yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan sampai akhir November 2017 menyebutkan, ada 95 kabupaten/kota dari 20 provinsi yang melaporkan kasus difteri. Secara keseluruhan terdapat 622 kasus, 32 di antaranya meninggal dunia. Perkembangannya yang cepat membuat 20 provinsi menyatakan status sebagai kejadian luar biasa (KLB) Difteri.

“Penyakit ini adalah wabah yang tergolong mematikan yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diptheriae dan pemerintah telah menetapkan statusnya sebagai Kejadian Luar Biasa,” kata Sigit.

Sigit menuturkan, untuk menangani hal ini pemerintah telah menetapkan kebijakan dengan melakukan Outbreak Renponse Imunisasion (ORI) atau imunisasi ulang secara massal dari umur tertua yang terkena penyakit tersebut. “Misal jika yang terkena paling tua adalah umur 19 tahun, maka kita akan melakukan ORI  mulai umur 19 tahun ke bawah,” jelas Sigit.

Lebih lanjut, Sigit mengatakan bahwa penyakit difteri ini paling sering menyerang tenggorokan. Pada tenggorokan tersebut muncul selaput bening yang sulit untuk dilepas. Jika dilepas akan berdarah. Penyakit ini pada tahap lebih kritis akan menutup jalan napas yang mengakibatkan pada kematian.

Sigit menambahkan, toksin (zat beracun) dari bakteri difteri ini, bisa merusak otot jantung, sel saraf, gagal napas, kelumpuhan saraf tepi, dan infeksi di jantung. “Saya berharap sekali, masyarakat terus mengikuti prosedur yang telah diberikan,” tegas Sigit.

Sebagai pengawal kesehatan di Kemenko PMK, Sigit menjelaskan bahwa ORI ini akan diberikan melalui Imunisasi Dasar pada bayi (di bawah satu tahun) sebanyak 3 dosis vaksin DPT-HB-Hib dengan jarak satu bulan. “Jadi, dalam umur satu tahun ada tiga kali melakukan imunisasi, dari bulan ketiga, keempat dan kelima itu dilakukan imunisasi. Bahkan lebih baik bisa dimulai dari bulan pertama, kedua, ketiga,” jelas Sigit.

Selanjutnya, imunisasi tersebut diperkuat (dibooster) pada anak umur 18 bulan sebanyak satu dosis vaksin DPT-HB-Hib; pada anak sekolah tingkat dasar kelas 1 diberikan satu dosis vaksin DT, lalu pada murid kelas 2 diberikan satu dosis vaksin Td, kemudian pada murid kelas 5 diberikan satu dosis vaksin dt (Difteri Tetanus). “ORI ini diberikan pada siapapun, meskipun daya tahan tubuh anak sudah ada tidak ada masalah diberikan vaksin lagi,” tambahnya.

Terakhir, Sigit berharap masyarakat jangan ragu-ragu untuk melakukan imunisasi pada anak, terlebih saat ini sudah banyak muncul penyakit ini di sekitar kita. “Kenapa orang bisa terkena penyakit ini? Karena kegagalan protek imunisasinya. Bisa jadi karena masalah pada anak yang daya tahan tubuhnya menurun, atau imunisasinya tidak sesuai dengan yang telahdianjurkan,” terang Sigit.(zam)

Media Garuda | Tajam, Inspiratif & Terpercaya

Add Friend

Ayo Komentar

Artikel Lainnya :

  1. Gantikan Ken Dwijugiasteadi, Menkeu Lantik Robert Pakpahan Sebagai Dirjen Pajak
  2. Polisi Segel Pabrik Air Minum Dalam Kemasan yang Berasal Dari Sini
  3. #12ThnTsunami Aceh, Bendera Setengah Tiang Berkibar disertai Doa Bersama
  4. Peringati HPN, IWO Indramayu Gelar Do’a Bersama
  5. Marak Kasus Bunuh Diri, Netty Ingatkan Pentingnya Interaksi Dalam Keluarga 
<